Nggak Penting

08.07 Rizka Ilma Amalia 28 Comments



Seiring berjalannya waktu, semua manusia akan bertumbuh dan berkembang. Bertumbuh menjadi lebih besar dan berkembang menjadi lebih dewasa. 

Pernahkah kamu takut akan bertumbuh dan berkembangmu itu?

Pernahkah kamu merasa itu semua terlalu cepat?

Pernahkah kamu mencoba untuk menghentikannya?

Apabila kamu pernah..
Silahkan gabung bersama kami di klinik TONGPAN!

....

Aku pernah. Namun, tidak untuk menghentikan. Menghentikan berarti bunuh diri. Mati.

Aku takut. Sebab, dengan seseorang bertumbuh dan berkembang, semuanya tidak sama lagi. Selalu akan menciptakan perbedaan, seperti merasa... kehilangan.
Entah apa pun itu. 

Aku tahu. Itu memang tidak pernah direncanakan. Memang dirancang untuk mengalir begitu saja. Seperti tulisan ini. Mungkin ini yang membuatku uring-uringan seharian. Berkenankah kamu membacanya? Terima kasih. :)

....

Aku rasa alur hidup setiap manusia sama. Seperti:
  1. Lahir - Hidup - Anak-anak - Alay - Remaja - Dewasa - Menikah - Mati.
  2. Lahir - Hidup - Anak-anak - Alay - Remaja - Menikah - Dewasa - Mati.
  3. Lahir - Mati.

Yaa kurang lebih seperti itu. Kira-kira kamu sedang ada di fase yang mana?
Kalau misalkan aku di fase 'dewasa', mau tidak mau dalam beberapa tahun kedepan aku akan menikah. Haha. Wahai waktu, bisakah kau berjalan lebih pelan lagi? 

Perihal menikah. Kakak laki-lakiku yang pertama sudah menikah, sekitar 4 tahun yang lalu. Dia lebih memilih pisah sama keluarga, tidak tinggal di rumah ini. Dia sudah dewasa, bisa memilih sendiri jalan hidup seperti apa yang akan dia lalui. Bertanggung jawab, dan berani menerima resiko atas apa yang dia pilih. Ayah, Ibu, Aku, dan Kakak laki-lakiku yang kedua, tidak berhak ikut campur terlalu jauh atas rumah tangganya.

Semenjak itu, bagiku, rumah sangat berbeda. Aku merasa kehilangan Mas Rendra, kakakku yang pertama. Padahal ia masih sering berkunjung ke rumah. Tapi, tetap saja suasananya sudah berbeda. Menikah yang membuatnya.

Sepi. Tak ada lagi sosok yang menciumku ketika sedang menonton televisi, membantuku mengerjakan tugas, mengganggu tidurku, dan tidur berempat di kamar sama aku, Ibu, Mas Andri, dan Mas Rendra. Ayah? Ayah tidur di kamar lain. Hahaha. Maaf ya Ayah.. :p

Dulu.. Ah, iya dulu... Keluargaku selalu menyempatkan untuk makan malam bersama di luar. Selalu solat magrib berjamaah. Ketika mati lampu, keluargaku pasti akan berkumpul disalah satu ruangan, hanya sekedar untuk bercerita, bercanda, tertawa, bernyanyi. Dan ah, ya, kami selalu menggunakan lilin. Masih lilin, tidak pakai diesel. Menciptakan suasana hangat di ruangan tersebut. Namun, jika lilin tersebut tinggal sedikit dan lampu tak kunjung hidup, kami akan masuk ke kamar, dan tidur bareng-bareng. :')

Sekarang? Kami masih selalu menyempatkan untuk makan bersama, meskipun hanya di rumah. Aku sangat senang. Dan solat bersama. Namun itu semua jarang, dan itu tidak lengkap.

....

Ada yang kurang, dan itu sudah hilang. Bolehkan aku membencinya? Tentu saja tidak. Itu hanya ego sesaatku saja.

Apakah setiap pernikahan membuat segalanya berbeda? Apakah keluarga baru yang kecil nan bahagia itu mampu melupakan keluarganya yang lama? Hingga kehangatan itu mulai memudar. Bisakah itu semua kembali?

Ah, waktu sudah membuatnya pergi.

Dengan ini bukan berarti aku tidak ingin menikah. Tentu saja aku ingin. Tak terbayang betapa bahagianya bisa menikah dan membentuk keluarga baru dengan seseorang yang kita sayang. Right?

Hanya saja dengan pernikahanku nanti, akan kupastikan tidak akan banyak yang berubah. Apabila berubah, itu pun ke arah yang lebih baik. Dan semoga Tuhan akan selalu mengingatkan jika aku lupa atau mencoba mengabaikan. Jika itu terjadi, semoga Tuhan segera membawaku kembali pada keluargaku.

....

Kok, kayaknya kalimat di atas seolah-olah menunjukkan kalau aku akan menikah besok. Geli. -___-"

Entah kenapa tulisan kali ini kacau banget. Tapi, berkat nulis ini di sini, perasaanku jadi lega. Maaf, kalau kamu jadi membaca tulisan bak abege labil ini. Aku tidak bermaksud. Lagian, aku kan sudah memperingatkanmu kalau postingan ini "Nggak Penting", tapi kamu masih saja membacanya. :))

Bhahahaha. Thanks, ya.

Bye bye~ Mumumumu~

You Might Also Like

28 komentar:

  1. Ketika aku masih kecil, aku juga berharap aku pengen cepet dewasa biar nggak bisa seenaknya disuruh atau dimarahin orang dewasa lagi . .
    Tapi begitu masuk fase dewasa awal gini, kok aku berfikir "Kenapa enakan waktu masih kecil ya . .?? bebas, nggak perlu mikirin hal2 berat kek gini . ."
    Tapi ya gitulah hidup . . harus terus maju . .masalalu bak spion , ditengok sesekali aja buat ningkatin kewaspadaan . .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya tuh bener banget. Tapi, aku salah. Ternyata emang udah nasibnya jadi "adek" itu disuruh-suruh. Mau udah gede apa masih kecil, yang namanya adek tetep aja suka disuruh-suruh. -___- wkwk

      Iya.. Yuklah fokus ke depan. :)

      Hapus
  2. Mau gimana lagi, gue baca kan biar bisa dapet "mumumumu"-nya doang. xD Ya, semoga intensitas kumpul keluarga bareng mas Rendra-nya lebih sering, kan lumayan makin rame.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huahaha orang ini selalu aja begitu komentarnya. Kocak. xD
      Aamiin. Makasih yaaa. Rame kok, tapi kalo pas lebaran aja ramenya.Ehehe :)

      Hapus
  3. Hmm. Gue nggak punya kakak. Jadi, nggak tau gimana rasanya ditinggal kakak yang pindah rumah. Nggak nyambung, ya? Hahaha. Yang penting komunikasi dan silaturahmi nggak putus, Rim. Ahhhh... seru banget itu mati lampu bisa cerita di tengah cahaya lilin.
    Ya Tuhan, Rima udah mau nikah aja. Emang ada calonnya? *kemudian kabur*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak, sih. Nyambung-nyambung aja.. Hahaha.
      Iya, itu sebenernya yang penting.
      Haha, seru kan.. Romantis. Bhahaha~ \o/ Elah romantis apaan, digigit nyamuk iya. :))
      Loh? Katanya sama kamu? *kemudian mam racun*

      Hapus
  4. Gue sepertinya masih di fase lahir alay deh soalnya masih unyu gimanaa gitu .-. huek
    Yep intinya jangan putus komunikasi, sering sering maen ke rumah kaka lo biar dikasih uang jajan :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Fase lahir alay-nya sih setuju, cuma... unyu-nya itu menggelikan. Pffftt~ ._.
      Iyaa jangan putus komunikasih ya.. :))
      Rumahnya lumayan jauh, sih. Coba aja kalo tetanggaan. Wkwk. :3

      Hapus
  5. yah, sepertilah alur hidup, tinggal pilihan kita untuk menjalaninya dengan bahagia atau sebaliknya, mau di jalan yang benar atau sebaliknya, semua nanti kan terbalas, takda sedikitpun yang terlewat

    BalasHapus
  6. begitu lah hidup waktu kecil pengen cepet2 bisa dewasa,
    dan saat dewasa pengen jadi anak kecil lagi terutama saat ada masalah datang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, dan kita nggak bisa lagi kembali pada masa lalu. Terus jalanlah ke depan.. :')

      Hapus
  7. Entah ada yang salah atau apa di fase pertumbuhan saya, kenapa umur saya gak pernah bisa ngelebihin umur bapak saya? Itu pertanyaan besar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Super, nak. Besar sekali pertanyaan anda...

      Hapus
    2. Super, nak. Besar sekali pertanyaan anda...

      Hapus
  8. Haha, meski sang kakak sudah pisah rumah dengan istrinya. Sang adik masih saja terus ingin dimanja oleh kakaknya. Kalau nanti sang adik sudah menikah, akan muncul keluarga baru. Yang kelak akan melengkapi kehidupan sang adik, sehingga kata 'sepi' pun mulai hilang dari kamusnya. Huff... happy ending

    Kuliah diselesein dulu... Baru mikir nikah!!
    #nasehat untuk diri sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha. Oh jadi gitu ya kronologinya... :')

      Iya kuliah dulu.. Baru mikir nikah!!
      #ngomongsamacermin

      Hapus
  9. Ya gitu deh Rim, namanya alur hidup selalu berubah,,
    lo mau ada yang ciumin pas lg nonton tv? sini deh gue ciumm, Muacch :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Nurul, gitu deh..

      Hahahaha. Jangaaaan~ :*

      Hapus
    2. jangan jangannn tapi nyosor juga :* wkwk

      Hapus
  10. Ya mulai dar isekarang memang harus belajar dewasa dalam memandang hidup biar punya prioritas, gitu hehehe. mumumumumumu~

    BalasHapus
  11. Begitu lah.. Ada saatnya kita akan pisah dengan keluarga dan menjalani kehidupan kita secara mandiri.. :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah.. Kita harus siap menjalaninya.. :'3

      Hapus
  12. ya kalau udah punya kehidupan yang baru pasti saat kumpul gak seseru dulu,ada waktunya ya :D yang penting tetap berkomunikasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya.. Ternyata memang begitu, ya.. :')

      Hapus
  13. Iya, lega. Dan tulislah apa yang ingin kamu tulis. :D
    Salam dari http://erlisy.wordpress.com/

    BalasHapus

Sudah selesai membaca? Terima kasih! :)
Komentar, yuk!
Sesungguhnya, sedikit komentar dari kalian akan berpengaruh besar untukku.

Rima bersabda:
"Barang siapa yang memberikan komentarnya dengan tulus dan ikhlas, maka akan dilipatgandakan jumlah viewers blognya."