Malam Bersama Ayah

00.10 Rizka Ilma Amalia 54 Comments



“Ayah, ini tehnya..”

Malam ini langit pekat. Seperti secangkir teh yang dibuatkan Ibu Azizah, hangat. Terlalu pekat, hingga tak ada satu pun bintik di sana. Hanya sesekali ada yang berkilat. Ada yang dipersiapkan langit di sana, rintik.

Perlahan udara menyentuh kulit Azizah. Dingin. Sama seperti perasaannya saat ini. Ada yang membeku di dalam hatinya, dan sedang berusaha ia cairkan.

Sudah lama Azizah tidak duduk berdua dengan sang Ayah, seperti malam ini. Canggung, mungkin. Padahal Ayahnya sendiri. Dari dua kakak laki-lakinya, Azizah yang paling dekat dengan sang Ayah. Kata orang, biasanya anak perempuan lebih dekat dengan Ayah dari pada Ibunya. Begitu pun sebaliknya. Tapi tidak, menurut Azizah, semuanya sama. Sama-sama dekat. Memang, Ayahnya cenderung lebih banyak diam dan terkesan tidak peduli. Padahal sebaliknya. Dalam diam, sang Ayah paling mengerti apa yang Azizah mau.

“Ada apa, Nak?” Ucap sang Ayah sambil membaca buku tentang keagamaan.

Azizah terdiam. Menatap langit malam yang terasa kelam. Perlahan matanya mulai terpejam. Teringat akan masa kecilnya yang bersemayam.

***
Azizah kecil dulu nakal. Tidak bisa diam. Jika ada suatu hal yang membuatnya penasaran, pasti akan dicobanya.

Pernah Azizah menemukan pisau di halaman samping rumahnya. Dengan sifatnya yang serba mau tahu, diambilnya pisau itu. Kemudian ia memakainya untuk bermain masak-masakan. Azizah yang bermain sendirian itu mulai sok tahu dan memakainya seolah-olah ia adalah chef ternama di dunia. Daun-daun yang asal dipetiknya itu dengan tragis teriris-iris menjadi bagian paling kecil. Hingga diirisan daun paling akhir, jari mungilnya itu ikut teriris, tepat di telunjuknya. Melihat darah segar yang mengalir, Azizah kecil menangis.

Ayah yang mendengar tangisan Azizah langsung segera menghampiri. Memarahinya dengan bijak. Tangis Azizah makin pecah. Kemudian sang Ayah pun menenangkan, mengobati sembari menasehati. Sejak saat itu Azizah lebih berhati-hati dan tidak bersikap seenaknya lagi.

***
Tanpa sadar Azizah mengelus jari telunjuknya, bekas goresan pisau.

“Zizah sudah salat Isya?” Tanya sang Ayah, membuyarkan lamunan Azizah.
“Sudah, Yah..”
“Alhamdulillah.. Zizah kenapa diam saja? Mau minta bantuan Ayah buat ngerjain tugas lagi, ya?” Pertanyaan sang Ayah membuat tawa Azizah pecah.
“Bukaaan. Ayah maaah.” Sisi manja Azizah keluar.

Pikirannya kembali mengambang dan menepi pada belasan tahun silam, ketika Azizah masih di bangku Sekolah Dasar. Seperti ada yang memutar film, kembali pada masa lalu.

***
“Jangan lupa salat, ganti baju, makan, kerjakan PR, ya. Setelah itu baru boleh main.”
“Iyaa, Ayah.”

Ayah selalu mengantar dan menjemput Azizah ketika sekolah. Setelah itu, sang Ayah baru pergi ke kantornya lagi.

Azizah pulang ke rumah dengan bibirnya yang cemberut, lucu. Bingung dengan tugas yang diberikan gurunya dan harus segera dikumpul besok. Namun, kebingungannya seketika hilang ketika ada temannya yang memanggil di depan, mengajaknya untuk bermain. Azizah langsung mengganti seragamnya dengan baju dan celana, salat, makan, kemudian pergi keluar dengan sepeda kebanggaanya, hadiah dari Ayah ketika Azizah berulang tahun.

Azizah kalau sudah pergi main, tidak ingat waktu lagi. Tak terasa waktu sudah sore. Azizah pulang untuk mandi, salat dan pergi mengaji di TPA (Tempat Pembelajaran Al-Quran). Ayah selalu mengajarkan Azizah agar jangan lupa salat dan mengaji. Karena hanya itu yang akan kita bawa ketika meninggal nanti. Amal ibadah dan perbuatan di dunia ini.

Ketika makan malam bersama, Azizah dan keluarganya membuka obrolan kecil. Kedua kakaknya bercerita tentang sekolahnya, Azizah bercerita tentang petualangannya tadi siang dengan teman mainnya. Suasana meja makan seketika langsung ramai.

Selesai makan, Azizah membantu Ibu. Setelah itu baru ikut menonton TV bareng Ayah dan dua kakak laki-lakinya. Azizah yang sudah benar-benar kelelahan itu akhirnya tertidur di pangkuan sang Ayah. Melihat Azizah sudah tertidur, sang Ayah menggendongnya, memindahkan Azizah ke kamar. Selalu seperti itu, jika Azizah ketiduran di ruang tengah. Terkadang Azizah sengaja pura-pura ketiduran agar digendong Ayahnya sampai ke kamar. Nakal, memang. Azizah yang belum sepenuhnya tidur itu merasakan sang Ayah mencium keningnya dan menutupi badannya dengan selimut.

Sulit untuk nyenyak, ada yang mengganggu pikiran Azizah. PR. Iya, Azizah lupa, belum mengerjakan PR yang akan dikumpulkan besok. Azizah panik. Tugasnya itu disuruh membuat gambar. Kebetulan, Ayahnya memang pintar menggambar. Karena mata yang sudah terlalu berat, ingin cepat tidur, Azizah bangun dan menghampiri Ayahnya. Dengan keberanian yang dia punya, Azizah menyampaikan maksudnya ke Ayah. Sudah diduga, sang Ayah memarahinya. Azizah menunduk, merasa bersalah. Melihat reaksi Ayah yang sepertinya tidak peduli itu pun, akhirnya Azizah pasrah menghadapi gurunya besok.

Keesokan paginya, Azizah melihat selembar kertas di meja belajarnya. Kertas itu berisi gambar yang dia maksudkan ke Ayah tadi malam. Azizah terharu. Ternyata Ayah begitu peduli padanya. Azizah langsung menghampiri Ayahnya dan berteriak, “Ayaaaaah! Terima kasih gambarnyaa!”

***
Ah, ya, Ayah selalu menjadi hero buat Azizah. Ayah menjadi segalanya buat Azizah. Ingin rasanya bisa lebih lama lagi bersama Ayah. Dua puluh empat tahun ini belum cukup. Belum puas berada di samping Ayah. Azizah tak dapat membayangkan, di kehidupan sehari-harinya nanti tanpa Ayah di sisi. Namun, cepat atau lambat Azizah akan menghadapinya. Sebuah hidup yang baru.

“Ayah, Azizah mau bareng Ayah terus. Ayah ikut Azizah, ya?”

“Hahaha. Azizah sayang.. Semua orang pasti akan mengalami ini. Ayah tidak bisa bareng Azizah terus-terusan. Ada saatnya Azizah harus sendiri. Sekarang malaikat kecil Ayah sudah dewasa, harus bisa lebih mandiri lagi. Lagi pula, Azizah tidak akan sendiri, ada Fadli bukan? Ayah yakin, Fadli anak yang baik. Dia pasti bisa menjadi imam yang baik,” ucap sang Ayah menenangkan. Dielusnya kepala Azizah dengan lembut.

“Iya, Ayah.. Terima kasih… Azizah sayang Ayah…” Pipi Azizah mulai basah. Dipeluknya sang Ayah dengan erat.

“Ya sudah.. Azizah istirahat, gih. Besok akad nikahnya. Azizah harus jaga kesehatan. Nggak lucu, kan, kalau nanti mempelai wanitanya sakit?” Ucap Ayah menggoda Azizah.

“Ihh Ayaaah… Iya-iya… Azizah masuk ke dalam duluan, ya. Ayah juga, jangan tidur malam-malam.” Azizah bangun dari duduknya, kemudian mencium kening sang Ayah, lembut.


Malam ini adalah malam terakhir Azizah berada di sisi Ayah. Besok Azizah akan menikah. Perasaan sedih dan bahagia itu menyatu, kemudian pecah.

Langit sudah siap menjatuhkan rintik. Sama seperti Azizah yang sudah siap menjalani hidup barunya bersama Fadli, air mata pun kembali menitik.


***

Haloo. Udah 2 minggu aku nggak ikut #memfiksikan. Kalo nggak salah ini #memfiksikan yang ke-10, ya? Hahaha.
Kali ini bikin cerpen lagi, tentang Ayah.
Pas banget, nih, lagi kangen sama rumah. Yaa.. Biasalah sindrom anak kos emang begini. Pffft~

Oke. Semoga terhibur dengan cerpen aku yang ala kadarnya. Hehe. :)

You Might Also Like

54 komentar:

  1. ih kok ceritanya bagus sih :D,, jadi ngiri deh hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ih, kok bisa aja, sih, komentarnya. :D
      Jadi enak deh. Hahahaha.

      Hapus
  2. Ihhh merinding deh bacanya . . *lalu nutup kulkas*
    Alurnya maju mundur terus, tapi asik . . semoga Azizah bahagia dengan Fadli . . :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ihhh masa, siiih? *masuk kulkas*
      Hehehe. Aamiin. Terima kasih udah bacaaa. :p

      Hapus
  3. Hahahaiiii indahnya khidupn bersama ayah. Paling suka kejadian pas jarinya kena pisau hahaha. Ga tau knapa disitu emosinya lebih kerasa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha. Iyaa. Oh, yaa? Mungkin karena memang di situ ngambil dari kisah nyata. :p
      Hehehe. Makasih udah bacaaa.

      Hapus
  4. Keren.

    By the way kayaknya kamu cocok nulis tinlit deh. Coba lain kali tokohnya yang remaja banget, maksudku jangan dulu dibikin menikah gitu. Hehehe

    Salam kenal ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih. :)

      Oh, ya? Cuma kayaknya aja kok. Aku belum sekeren itu untuk nulis tinlit. Belum tau apa-apa. Hahaha. :)
      Oke. Boleh dicoba. Hehe.

      Salam kenal juga, ya.

      Hapus
  5. ..... gak bisa ngomong apa2 lagi....

    bahasanya ringan , alurnya juga dapet.... ini cerita kayaknya sering di review yah? atau memang penulisnya berbakat ya :p

    ditunggu cerita lainnya~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cieee speechless. Cieee~

      Sering di review? Maksudnya? :/
      Ya ampuun. Berbakat. Entahlah.. Itu berlebihan, sepertinya. :p

      Hehehe. Oke. Terima kasih, yaaa. :)

      Hapus
  6. ini sebenarnya impian terpendam rima utk segera menikah juga. Hahaha.. bagus nih cerpennya. alurnya keren. nambah referensi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apa iniiiiii? Kak Arman sok tauuuu. Woooo~ :p
      Wakakak.
      Cieee nambah referensi. Aku nggak nyangka. Serius. Hahaha.
      Terima kasiiiih~

      Hapus
  7. Pas baca bagian Malaikat kecil sudah dewasa
    kena bgt + membuat saya sedih dan merinding
    semoga di pertemukan calon Imam yang baik ya
    amin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe. Aamiin.
      Terima kasih Kokoooh sudah bacaaa. :D

      Hapus
  8. Hikkkssss.....
    Hampir mau nangis waktu bacanyaaa.... Inget ayah di rumah....
    Dan aku semacam menjadi Azizah waktu baca cerita ini. karena aku kecil juga nakal seperti Azizah...

    Nice cerita mbaaakkk....
    *kemudian melipir ngambil tisu ngelap ingus dan air mata*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga kangen Ayah. Tapi nggak sampe mau nangis pas nulisnya. :(
      Kita samaa. *tosss*

      Terima kasiiih. \o/
      *ikut nyumbangin tisuu*merasa bersalah udah bikin sedih*

      Hapus
  9. Kenapa tiba2 sedih ya.
    Kalo baca tulisan tentang ayah yg putrinya mau menikah, tiba2 jadi gak pengen nikah karena harus ninggalin orang tua.

    Tiba2 inget sama ayah. Udah 1,5 tahun gak ketemu beliau dalam nyata. Selama ini hanya melihat lewat layar.
    Dan keinget kalo malem ini harus nelpon beliau di skype.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama dong kayak cinta? Datangnya tiba-tiba.. :(
      Waduuh. Jangan dong, Mbaak. Diajak aja ntar Ayahnya. :')
      Hehehe. Memang nggak mau pisah. Tapi pengin nikah juga. Dilema. Haha. ._.v

      Wah.. Lama juga, ya... :(
      Ayooo nelpooon. :')
      Salam buat ayahnya, ya, Mbak. :')

      Hapus
  10. baca cerita ini jadi ingat ayahnya temen yang baru jumat tadi meninggal :(
    terus jadi ngingetin aku sama ayah aku juga, ngebayangin gimana nanti kalau ayah mendahului aku, jadi sedih :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Innalillahi... Turut berduka cita.. :(
      Ya ampun.. Aku aja nggak sanggup ngebayanginnya. :((

      Hapus
  11. Rimaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa. Pangeran nyes banget baca cerita lu. Pangeran jadi kangen Raja yang jauh di istana. :'(

    Karakter Azizahnya membuat Pangeran tenggelam (sumur kali) banget menjamah rasa yang sedang Rima gambarkan.

    Deskripsinya bagus, rim. Pangeran jadi tambah ilmu, ni. Rima keren kalo soal Fiksi. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa. Uhuk. Uhuk. Huk. -___-"
      Nyes, ya, Pangeran? Sama dong. Aku juga lagi kangen sama keluarga... :'(

      Asik. Tenggelam. Lain kali Pangeran baca cerpen akunya sambil pake pelampung, ya. Hahaha. :p

      Terima kasih, Pangeran! Ya ampun.. Ilmu? Serius? Aku aja masih belajar. :(
      Kita sama-sama belajar, yaa. Aku memang keren sejak masih zigot. \o/

      Hapus
  12. cerpen fiksi mantep nih,bisa menyentuh hati gue,yang sama-sama kangen dengan ayah yang jauh disana. ayah memang seorang yang bijak, dan patut di contoh bagi anak laki-laki yang suatu saat nanti bakalan berada di posisi yang sama seperti dia,menjadi imam dalam keluarga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe. Cieee yang hatinya tersentuh. :))
      Cieee yang kangen sama ayahnyaaa. Sama. :(
      Cieee yang bakal jadi calon ayah. Ehem.

      Hapus
  13. Jadi ini ceritanya flashback azizah menjelang pernikahannya.. Bagus banget ceritanya kak.. Keren.

    Hadehh jadi kangen sama ayah. Kerjanya di luar kota sekarang.

    Sosok ayah emang gitu, diluar keliatan diam, cool gitu. Tapi dalam hatinya rasa sayangnya amat besar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya.. Flashback sebelum hari pernikahan. :))
      Terima kasih. :)

      Iya, kaan. Aku juga ngekos. Udah sebulan nggak pulang. Semoga minggu depan bisa pulang. Duh, jadi curhat. Hahaha.

      Yap. Sepakat.

      Hapus
  14. Ini sebagian kayaknya bukan fisi, Rim. Asli. terutama yang tentang masa kecil itu, yang teriris, yang ngerjain tugas. Kalo ngerasa mempelai bakal sedih karena menjauhkan dari ayahnya, kayaknya kalo niah entar, gue ajak aja bapaknya. ibunya gak usah. xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lah, ketahuan. Ada yang nyadar juga ternyata. Hahaha. Iya, itu kisah nyata. Keren bisa baca. :))

      Hahahah. Ya, nggak gitu juga maksudnyaaa. Wakakak. Ibunya juga pentiiiiing Kak Haaaw. XD

      Hapus
  15. Enak kali yaa bener punya ayah kayak gitu, hehe. Tulisannya keren nih. Kalo ikut lomba pasti menang. :)

    Baca yang bagian akhir jadi sedih. Sedih pas baca ucapan ayah. :'(

    Pokoknya ini tulisan keren lah. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe. Ayah aku kayak gitu. :)
      Oh, ya? Terima kasih. Ah si Ilham bisa aje. Wakaka.

      Aku nggak sedih ngetiknya. Hahaha. :'(

      Thaaanks! :D

      Hapus
  16. Aaaahhh... Cerpen ini bikin bingung mau komen gimana. Rim, ini keren, banget. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak Agung berlebihaaan. Hehehe. Terima kasih, Kak. :)

      Hapus
  17. Tiba-tiba menerawang, membayangkan saat itu tiba.. Huaaaaa.. T_T

    BalasHapus
  18. keren..tulisannya juga menarik buat dibaca hhehe mampir ya ke blog saya di www.sidicka.blogspot.com

    BalasHapus
  19. Ada yang typo, tuh. Mengahampiri Ayahnya. :)

    Ciyeee, tulisannya keren. Komentarnya juga banyak. Semoga pembacanya makin nambah. :D
    Semangat!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah diperbaiki. Terima kasih. :)

      Ciyeee. Makasih loh, ya. Pffft. Ngeledeeek. Masih banyakan kamuuu.
      Aamiiin. Wakaka.
      Semangat! \o/

      Hapus
  20. 2 minggu nggak ikutan memfiksikan, tapi tulisan masih baguuuus gini :D

    Aku ini loh, belum bisa bikin cerpen :' ajariiiin :'

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha. Ntah dapet ilham dari mana. :))
      Ya Allah.. Aku juga masih belajar, Kak. Masih amatir. :')
      Yuk, belajar sama-samaaa. \o/

      Hapus
  21. walopun cerpen tapi kayak nyata gitu kak.

    Berarti emang kangen banget yak ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, nggak sepenuhnya fiksi, sih. Ehehe.

      Kangeeen. Banget. Hehehe.

      Hapus
  22. Hangat ya tulisannya. Udah pengen nikah rim? \:p/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sehangat pelukan sang kekasih. Ehem.

      Hahaha. Pengin. Tapi bukan sekarang jugaaa, Kak. :p

      Hapus
  23. Sebagai anak kos aku juga jadikangen sama Ayah... jdi kebayang lusa pas udah menikah dgn orang lain gimana ya..udah bukan anak ayah lagi tapi istri orng..bagus cc cerpennya mengalir dn udah ada 10 episode ya..ditunggu cerpen selanjutbyaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Samaaa. *tossss*
      Sedih ngebayanginnya, Kaaakk.. :((
      Bener tuh. :(
      Episode... Udah kayak sinetron.. :'))
      Hahaha. Okeee. Terima kasih udah bacaaa, Kak Mey... :)

      Hapus
  24. Kirain ini cerita pribadinya rima. Haha kaget aja namanya kok azizah, eh ternyata bukan. :D

    Fadli kok jahat banget sih ngambil azizah dari ayahnya. :( #LihatDariSisiLain

    Etapi cerpennya keren, gak banyak kata-kata ungkapan jadinya pas baca gak bosen dan ngerti jalan ceritanya. Keep writing princes, dapat salam tuh dari pangeran wortel. Ciee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha. Sebenernya, sih, ini ada cerita aku yang terselubung gituu. Nggak semuanya fiksi. Wakakaka. :p

      Iya, Kak.. Terserah Kak Erik ajaa.. :(

      Terima kasih. :D
      Aku juga masih belajaar. Hehehe.
      Okee. Keep writing juga, Kak Erik. \o/
      Lah, kenapa ada Pangeran Wortel segala? ._.
      Wakaka. Okeee salam kembali. :D

      Hapus
  25. Waahh bagus juga ini ceritanya :O
    Btw, salam kenal mbak admin ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasiih. :D
      Okee. Salam kenal juga dari mimin kece~ :3

      Hapus
  26. ho ho jadi keinget ayahku ;')

    Rimmiiii Daebak, aku gak nangis loh, cuman pipinya basahhh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe.. :')

      Makasih Nimas udah bacaaa. :D

      Hapus
  27. Ceritanya kece punya :) Sampai aku kucek - kucek mata bacanya....eh jangan diartikan aku menangis loh, aku enggak LEMAH, cuma hatiku terharu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe. Cieee nangis. Nggak apa-apa kok kalo nangis juga. Nggak dosa ini. :p
      Terima kasih, ya. :)

      Hapus

Sudah selesai membaca? Terima kasih! :)
Komentar, yuk!
Sesungguhnya, sedikit komentar dari kalian akan berpengaruh besar untukku.

Rima bersabda:
"Barang siapa yang memberikan komentarnya dengan tulus dan ikhlas, maka akan dilipatgandakan jumlah viewers blognya."