Ada Cerita di Ragunan

10.33 Rizka Ilma Amalia 33 Comments


Hari Minggu. Nggak terasa udah hari Minggu lagi, Minggu yang tertumpuk rindu. Jadi ingat beberapa minggu yang lalu, saat kami melepas rindu.

***
“Rim, udah siap?” kata Hanum.
“Udah, yuk.”

Aku melakukan hal yang bodoh di Minggu pagi ini. Tidak biasanya aku memusingkan penampilanku. Namun, aku ingat kata-kata si Pacar yang bilang, “Jangan make up berlebihan, ya.” Tawaku pecah. Lucu saja, jangankan make up, pakai lipstick saja aku nggak betah. Yang ada lipstick-nya aku jilatin sampai habis. Iya, Rima emang nggak bisa dandan. Silahkan kalian tertawa~ Bodo amat, pikirku. Terserah apa katanya nanti, yang penting aku sudah berusaha jadi diri sendiri. Bukankah itu lebih baik? :)

“Kamu udah berangkat?” kata si Pacar di Whatsapp.
“Lagi pake sepatu.”
“Aku tidur dulu. :(“

Si Kampreet. Chat-ku tidak dibalasnya lagi, dia benar-benar tidur. Kebo! Setengah jam aku tempuh dengan menaiki angkot dua kali, kemudian bus. “Dikit lagi sampe,” kataku memberi kabar. Dibalasnya cepat, “Waparah baru bangun. :(“ Mataku terbelalak kaget. Nggak ngerti lagi sama si Pacar. :(

Bus berhenti di salah satu mall yang ada di Jakarta Barat. Aku memberinya kabar kalau aku sudah sampai. Aku pasrah saja, menunggunya di halte depan mall itu.

Aku menatap Hanum yang duduk di halte sebelah. Kami tertawa. Dia yang meminta untuk duduk terpisah dan pura-pura tidak kenal. Entahlah apa motivasinya. Aku memang malu-maluin, tapi nggak gini juga kali. Hhh. -_-

Menunggu memang tidak enak, ya. Tapi, menurutku lebih tidak enak lagi kalau ditunggu. Jadi, aku nggak keberatan menunggu seperti ini. Hmm.

Si Pacar mengabariku lagi kalau dia nggak ada helm. Aku bilang saja kalau aku tidak keberatan pergi naik bus. Sama Rima mah santai aja, selow, naik apa aja bisa. Hahaha. Songong, kan. Yang aku khawatirkan, si Pacar ini mabokan. Maksudku mabok naik kendaraan umum. Jadi, kayaknya nggak mungkin dia naik bus. Hahaha~

Lagi-lagi menunggu…

***
Ketika aku sedang asik Whatsapp-an sama Hanum…

“Hey.”

Aku menatap seseorang yang memanggilku itu. Lama. Maraknya berita penculikan dan berbagai modus untuk sekedar menjual ginjal, membuatku menelaah, meneliti, menyelidiki orang yang memanggilku ini. Tapi, kalau dilihat-lihat lagi, kayaknya dia si Pacar, deh. Hahaha.

Dia memberiku helm dan langsung memboncengku menuju Ragunan. Pertanyaan basa-basi pun keluar, “Kamu sama siapa ke sini? Sendirian?” kata si Pacar. Aku yang di belakangnya menahan tawa nggak karuan. “Iya. Sendirian, dong. Strong, kan?” kataku sok cool. Dia nggak tahu saja, kalau tadi aku sempat dadah-dadah ke Hanum. Pffft.

Di jalan, dia bercerita tentang keterlambatannya. Dia memang terlambat, tapi untuk ukuran orang terlambat, dia termasuk cepat dalam siap-siap seperti mandi dan segala macam. Tentu saja itu mengundang rasa curigaku, “Kamu nggak mandi, ya?” Ada jeda sebentar. Hening. Kemudian pertanyaanku dijawabnya, “Mandi lah.” Terdengar seperti menahan emosi. Jelas sekali. Aku tak bisa menahan tawaku lagi. HAHAHAHA.

Selama perjalanan, lebih banyak aku yang berbicara dibanding dia. Suaranya pun cemprengan aku daripada dia. “Bawel” katanya. Sial! Akhirnya aku memutuskan untuk diam.

Suasana hening, sampai dia yang memecahnya.

“Nanti kalo ada pom bensin bilang, ya,” katanya.
“Kamu ngomong apa sih, Yog?”
“Bzzzzzz”

Anjir. Ini anak ngomong apaan sih?

“Apaan? Nggak kedengeran.”
“Kalo ada pom bensin bilang!” Suaranya agak kencang. Tapi masih tidak terdengar jelas.
“Suara kamu lembut banget, sih, Yog. Aku nggak dengeer.”
“NANTI KALO ADA POM BENSIN BILANG!”

Aku diam. Bingung. Yang aku dengar hanya ‘bensin’-nya. Jadi, aku menyimpulkan sendiri kalau dia mau beli bensin. Oke. Aku pun memperhatikan sekitar. Ketika mataku menemukan pom bensin, aku refleks bilang, “Itu disebelah kanan.” Dari belakang aku menahan tawa. Dia pasti kesel. Aku memang suka buat dia kesel. Habisnya lucu. Hahaha. :p

Di pom bensin. Aku sengaja nggak mau turun dari motor. Penasaran. Ini orang dari tadi nggak mau melihat aku. Sampai antrian habis, aku pun turun sendiri. Aku melihat ke arahnya, tapi dia melihat ke arah lain. Selesai mengisi bensin, aku sengaja tidak langsung naik ke motornya, tunggu disuruh dulu. “Heh! Ayo, naik,” katanya sambil menoleh ke arahku. Aku menurut dan tersenyum diam-diam. :))

“Oiya, masih lama nggak sampenya?” tanyaku.
“Masih. Ragunan itu jauh banget. Belum ngelewatin sungai dan jalanan yang kanan kirinya jurang,”
“Emang di Jakarta ada begituan?” tanyaku bingung.
“Ada. Nanti kamu juga tau.”

Setelah itu aku lebih memperhatikan jalan. Mencari sungai sama jalan yang kanan kirinya jurang. Aku cuma mau memastikan saja. Memastikan kalau dia nggak bohong.

Sampai memasuki parkiran Ragunan, aku masih mencari sungai sama jembatannya. Kita pun turun dari motor, kemudian menuju loket pembelian tiket. Aku yang masih penasaran akhirnya bertanya, “Mana? Katanya jauh? Lewat sungai dulu, terus kanan kiri jurang?” Bukannya memberi penjelasan, dia malah tertawa ngakak. TAEUCING.

“YOGA KAMPREETTT. NGERJAIN ORANG AJA!” Aku mengelus dada, menyabarkan diri. Sabar, Rim.. Sabar… Masih pagi nggak boleh marah-marah…

Selesai membeli tiket, kita langsung masuk. Ini pertama kalinya aku ke Ragunan. Rasanya bersemangat sekali, mau mengelilinginya dari ujung ke ujung. Mendengar si Pacar yang katanya belum sarapan, aku pun tidak tega dan mengurungkan niatku yang ingin langsung berkeliling.

Kita mencari tempat, dan pilihan jatuh pada kursi panjang di tengah taman. Dia mengeluarkan roti dan menawariku, aku menggeleng. Dia menawariku chiki, aku menggeleng. Dia menawariku beng-beng, aku langsung mengambilnya. Aku suka yang berbau cokelat.

Aku masih nggak habis pikir. Aku ini cewek macam apa? Nggak ada prepare-nya sama sekali. Kalah sama si Pacar yang bawa-bawa makanan sama minuman. Jarang-jarang ketemu orang begini. Rasanya, aku pengin langsung taruh dia di museum.

Selesai makan, saatnya berkeliling. Yey! Jika kalian melihat ada pasangan di Ragunan, yang ceweknya terlihat terlalu bersemangat dan hampir jejingkrakan, dengan cowoknya yang sok cool dan lebih terlihat bersemangat dalam hati, itu kita.

Kaki ini berjalan begitu saja. Mengikuti papan tanda panah yang sesat. Tandanya menunjukkan ke kandang beruang, tapi ketemunya gajah-gajah lagi. Pucing pala berbi.
  
Sambil mencari kandang beruang, kita berhenti di kandang burung elang. Kita nggak foto. Ngapain? Elangnya kecil. Aku kira bakal sebesar elang di Ind*siar, terus elangnya bisa bertransformasi gitu. Ternyata nggak. Bahiklah…

Padahal belum dikelilingin semua, tapi rasanya udah capek begini. Si Pacar jalannya cepat banget. Perasaan kalo aku jalan sama teman-teman aku, aku yang jalannya paling cepat. Benar kata pepatah, “Di atas langit masih ada langit”.

Aku berhenti, minta minum sama si Pacar. “LEMAH!” katanya. Sialan. Enak aja aku dikatain lemah. Dengan sok tegar aku lanjut jalan.

Selang beberapa menit dari itu, dia yang minta istirahat. “LEMAAAH!” kataku bersemangat. Gantian! HA-HA!

Setelah sekian lama, akhirnya ketemu kandang beruang juga!

“Mana beruangnya?” kataku bersemangat.
“Itu di sana.”
“Manaaa?”
“Ituu di bawah.”
“.…”

Demi apaaa? Beruangnya bikin aku kecewa lagi. Aku kira beruangnya besaaar, kayak di film Masha. Ternyata…

“Itu beruangnya? Kecil amat..” kataku tak bersemangat lagi.

Baru juga lihat sebentar, eh, beruangnya udah masuk lagi ke dalam kandangnya kandang untuk istirahat. Udah nyarinya susah, kecil, cuma sebentar pula. DASAR BERUANG TAK BERPERASAAN! BHAY!

Biar nggak bete. Foto-foto aja, deh.

Ehm. Difotoin pacar.


***

“Ya main ke Ragunan mah cuma gini-gini aja..” kata si Pacar tiba-tiba.
“Emang kenapa? Gapapa, kan..” kataku sambil menoleh padanya, ”… yang penting bahagia.”
“Emang kamu bahagia?”
“Iya. Kamu?”

Lama tidak ada jawaban. Matanya masih menghadap ke depan. Bukannya menjawab pertanyaanku, malah mengalihkan pembicaraan.

“Dih, jawab! Curang, kan, nggak mau jawab,” kataku kesal.
“Kalo bahagianya nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata, gimana?” ucapnya sambil menoleh padaku. Tersenyum. Membuatku tersipu malu.

Sepasang mata kami saling bertatapan, meraba masa depan. Tatapnya penuh keyakinan, tak ada yang perlu aku khawatirkan. Entah sampai kapan… Rasanya genggaman ini tak ingin aku lepaskan. Biar maut yang memisahkan.

***

Teruntuk Sekarangku, terima kasih atas senyum dan tawamu. Jangan pernah bosan merajut bahagia bersamaku.

Teruntuk para pembaca, terima kasih. Dan maaf, mungkin tulisan ini membuat mata kalian pedih.


See you! Mumumu~

You Might Also Like

33 komentar:

  1. Tulisan gue di-copas terus diedit doang ini. HIH! Nyesel gue baca.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ciyeee ketemuan. Ciyeee pacaran. Ciyeee. Mau batuk sebentar, boleh? UHUK!. Udah.

      Hapus
    2. Yoga: YAAAAAAH! KETAHUAAN, KAAAAAN. :((( Semoga nggak ketahuan kalo tulisan yang lain juga hasil copas. :(
      Agung: Batuk? Dikarbol aja~

      Hapus
  2. Udah pernah baca di blognya Yoga ini. Malah jadi kayak cerita fiksiku gini, Make sudut pandang yang laki dan sudut pandang yang perempuan di cerita terpisah, yang isinya sama. :o

    BalasHapus
    Balasan
    1. kayak hawadis dan silvia :)

      Hapus
    2. Haw: Loh? Emang ini cerita fiksi. Belum sadar? :/ Hehehe. Nggak apa-apa, kan? Cara penulisannya juga beda. :)

      Hapus
  3. Memang menunggu itu nggak enak, kok ini saling berbohong sih, "kamu nggak mandi y?" "mandilah," pasti jawabnya dengan penuh rasa cemas, elang yang di Indosiar itu aneh, tapi keren juga sih, hehe... Kok beruangnya nggak difoto -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saling berbohong di mananyee? :/
      Hahaha. Beruangnya kecil. Gak keren. Ngapain difoto. Huft. -_-

      Hapus
  4. Horee main ke Ragunaan. \:D/
    Hahaha masih malu-malu. Langgeng ya kalian. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Horee. \:D/
      Hahaha. Aamiin. Makasih, Kak. :)

      Hapus
  5. Uhuy banget ini sekarang gue baca dari sudut pandang si ceweknnya wkwk. Banyak banyakin main lg, biar bisa diceritain diblog haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Okaaay, Mau banget diceritain di blog? Hahaha. :p

      Hapus
  6. ahayyy kencan di ragunan nih ye. :p :D

    "Jangan pernah bosan merajut bahagia bersamaku" >> kayaknya dari dalem ati nulis itu ya kaka *wink

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe. Pake diperjelas lagi~ *melipir*

      Hapus
  7. baca ginian serasa baca flashfictionnya howhaw....
    dari yoga dulu, terus lanjut ke halaman rima...dan ini bikin penasaran..

    oyaa...ralat...yang ada gambar elangnya bukannya metr* ya...bukan indosi*r

    BalasHapus
    Balasan
    1. Flash Fiction.. -_-"
      Hahaha. Bagian mana yang bikin penasarannya, Mbak?

      Ngg.. Nggak.. Maksudku, di Indosi*r kan sering ada sinetron yang naik-naik elang gitu. ._.

      Hapus
  8. Cieelah moga langgeng aja lah :3 baru tau ceritanya
    PJ nya mana nih ? UHULK!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Makasih, ya. :3
      Ngg.. PJ itu apa, sih? :/

      Hapus
    2. Aamiin. Makasih. :3
      Ngg.. PJ itu apa, ya? :/
      UHUK!

      Hapus
  9. Ini versi balesannya atau apaan niii . .??
    Yahhh kayaknya sih kalian kompak . . semoga awet dan langgeng terus aja deh sampe tua ntar . .
    Semoga bertahan juga buat Ledereannya . . :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini cerita dari sudut pandang yang berbeda saja~
      Iya semoga awet, soalnya tiap hari udah minum formalin gitu deh. Aamiin. Makasih doanya. Hihi~ :))

      Hapus
  10. cerita di ragunan versi rima :D, bagus-bagus,hehe baca ini jadi ingat cerita fiksinya hawadis sama silvia :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Kak. :D Hahaha. Iya, yang di atas juga ada yang komentar begitu. XD

      Hapus
  11. Ternyata Rizka pacaran sama anak kampret. Semoga lo enggak ketularan, ya :))

    Boleh bersin sebentar enggak ? HACIM!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku udah mulai ketularan.. :(

      NGGAK BOLEH. BAYAR! GOCENG!

      Hapus
  12. Bahahah.. Yoga kode banget biar kamu belajar pakek make up, Rim! :P Lalalalaaa~
    Masih bisa sabar kamu yah ngadepin pacal yang bilang 'aku tidur dulu'..
    Kalok Febri ngomong kek gitu, aku uda bakalan teleponin sampek hpnya bisa ngomong sendiri! Hih! -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, emang iya itu kode? :/
      Wakakaka. Kak Beby sereeeem. XD
      Iya aku bisa sabar gitu soalnya aku pake cheat. :))

      Hapus
    2. Iss.. Yoga uda kayak Adi aja. Komennya :)) doank! -_- *baper*

      Keknya emang iya deh dia kode. Apalagi kencan pertama. Kan harus tampil maksimal. Mihihihi :P
      Cheatnya apaan? Segitiga bulet 2x? ._.

      Hapus
    3. Hahahaha. Kayaknya nggak deh. XD
      Naaah. Itu udah tau, Kak! ._.

      Hapus
  13. RIMAAAA YOGAAAA SEMOGA LANGGENG!!! :*
    Yang lagi anget-angetnya nih, ntap. :3 Itu si Yoga juga cerita soal beruang asli ngakak. Hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiiin. Makasih Devaaaa! :*
      Hahaha. Iyaaaa beruang apaan kayak gitu. Hih. -_- Cupu! Diadu sama ayam tetangga juga kalah itu beruang. Pffft.

      Hapus

Sudah selesai membaca? Terima kasih! :)
Komentar, yuk!
Sesungguhnya, sedikit komentar dari kalian akan berpengaruh besar untukku.

Rima bersabda:
"Barang siapa yang memberikan komentarnya dengan tulus dan ikhlas, maka akan dilipatgandakan jumlah viewers blognya."