Tampilkan postingan dengan label Mellow. Tampilkan semua postingan

Keresahan Semester Ini


Aku Rima, sudah semester 7, dan sekarang lagi migrain. Sejak menginjak semester akhir, si migrain sering bertamu ke kepalaku. Padahal semester ini aku cuma ngontrak 2 mata kuliah dan Usulan Penelitian yang nantinya berujung pada seminar proposal. Katanya, sih, si Usulan Penelitian (UP) yang mengundang si migrain.

Setdah. Ribet. Intinya mah UP yang bikin aku migrain. Parahnya, aku juga jadi sering nangis tiba-tiba gara-gara mikirin UP. Galau parah. Rima lemah. Rima butuh obat kuat. EH?

Iya, gimana enggak? Yang lain udah pada menyusun BAB 1 sampai 3, sedangkan aku? Bimbingan aja baru sekali. Itu juga langsung ngajuin judul, dan ditolak. Yaiyalah, Rim. Harusnya kamu ngajuin konsep dulu, baru judul.

Aku tahu aku salah, tapi masalahnya sekarang aku belum kepikiran lagi untuk konsep penilitian yang mau aku ajukan. Aku nge-blank banget. Seketika aku merasa bodoh. Bukannya baca jurnal banyak-banyak, aku malah blogwalking dan balesin komentar di postingan blog. Sungguh terpuji sekali.

Aku pengin lulus tepat waktu. Ya, lebih cepat lebih baik. Kalau ada yang nanya: “Buat apa, sih, lulus cepat-cepat? Selow aja.”
Bukannya apa-apa… aku cuma pengin kedua orangtuaku bisa lihat aku, anaknya yang terakhir ini, diwisuda. Semakin bertambahnya umur kita, ingatlah, orangtua kita juga semakin menua. Bukankah umur tidak ada yang tahu? Yak. Malah jadi mellow.

Untuk siapa pun yang membaca postingan ini, aku mohon doanya agar aku, kamu, dan mereka yang merasa sedang berjuang seperti aku dipermudah dan dilancarkan dalam menempuh semester akhir ini, khususnya dalam mengerjakan Usulan Penelitian dan skripsi. Aamiin. Terima kasih. :’)

Mungkin ada yang sudah pernah melewati masa skripsi-an ini? Boleh banget, dong, sharing pengalamannya di kolom komentar. Siapa tahu bisa memotivasi dan membantu aku sedikit banyak. Atau yang lainnya sekedar kasih kalimat semangat pun sangat boleeh. Ditunggu, yaaa. :')


Udahan, ah. Segini dulu, ya. InsyaAllah nanti cerita lagi yang lebih panjang dari ini. Dadah~

PING!!! Caca....

PING!!!
PING!!!
PING!!!
Udah di mana, Rim?

BBM dari Nia, teman kostan aku.

Masih di kapal. Kenapa?

Tidak ada balasan. Aku BBM lagi.

Ada apa? Caca sehat, kan?

Aku menanyakan kabar kelinciku dan kelinci Hanum. Entah kenapa feeling-ku buruk.

Turut berduka, Rim. Ini Hanum udah di kostan.

....

***

Innalillahi wa innailaihirajiun. Aku menangis di antara penumpang kapal. Caca.... :'(

Mungkin ada yang belum tahu siapa Caca. Aku sempat menuliskan tentang Caca di postingan yang ini, postingan ketika aku baru membeli kelinci. 

Aku dan Hanum beli dua kelinci untuk diurus bersama. Namun, yang satu meninggal duluan ketika baru beli. Dan sekarang Caca menyusul si Inci Abu. 

Begitu mendapat kabar ini, aku langsung menuliskan kepergian Caca. Aku nggak tahu harus apa. Aku hanya bisa mendoakan dan menulis ini. Aku nggak bisa ikut bantu menguburkan Caca seperti Inci Abu. Rasanya aku ingin cepat sampai kostan dan bantu menguburkannya. 

Kehilangan Caca bisa sepedih ini. Yang membuat pedih dari sesuatu yang pergi adalah kenangannya. Kenangan tentang Caca terlintas begitu saja, begitu banyak. Saat aku ke pasar di sela-sela hari kuliah untuk membeli sayur Caca. Bergantian dengan Hanum untuk membawa Caca ke kostan, kadang di kostan aku dan kadang di kostan Hanum. Nyuapin Caca.  Memandikan Caca. Mengejar Caca yang tidak mau dimandikan. Membersihkan eek dan pipis Caca. Curhat dengan Caca, meskipun mungkin Caca tidak mengerti dengan apa yang kuceritakan, tapi aku senang ada tempat berbagi. Caca selalu ada untuk aku, tapi aku nggak selalu ada untuk Caca. Caca... maafkan aku.... 

Caca memang seekor kelinci, tapi bagiku ia lebih dari itu. Caca itu bukan hanya sebatas peliharaan, tapi Caca sudah menjadi sahabat aku dan Hanum. Caca moodbooster aku. Caca pendengar yang baik. Caca kesayangan aku. Maaf, tulisanku mungkin terlihat lebay, tapi biarlah. Aku hanya ingin mengungkapkan apa yang kurasa. Kegelisahanku, kesedihanku.

Ini kehilangan yang kudapat kesekian kalinya. Yaa Allah.... Maafkan aku belum bisa melakukan yang terbaik buat Caca. Aku tidak menjaga Caca dengan baik. Aku tidak pantas Engkau titipkan Caca. Maafkan aku.... Aku sangat berterima kasih atas segala rasa yang Engkau berikan. Aku mendapat banyak pelajaran dari sana. Setidaknya, jika aku mau memelihara Caca-caca yang lain, aku harus siap dengan segala resikonya, termasuk kepergiannya. Kelinci adalah makhluk hidup. Di mana sesuatu yang hidup itu akan mati. Sesuatu yang datang akan pergi. Yang pergi mungkin bisa kembali, tapi yang mati tidak bisa. Caca tidak akan kembali lagi. Lagi-lagi, aku harus belajar ikhlas di sini. Aku masih belum lulus di ujian itu. Satu yang kusadari, aku tidak memiliki apapun di kehidupan ini, termasuk Caca. Iya, aku harus mengikhlaskan Caca kembali kepada Sang Pencipta. Mungkin memang sudah waktunya. Semua pun memiliki waktu kepulangannya, termasuk aku. Entah kapan....

Selamat tinggal Caca. Semoga kamu bahagia di sana sama Inci Abu. Maafkan aku... maaf. :'(

Setelah kepergian Inci Abu dan Caca, entah kapan lagi aku bisa memelihara Caca-caca yang lain. Mungkin suatu saat nanti. Sampai aku pantas dan siap.

Nggak Penting



Seiring berjalannya waktu, semua manusia akan bertumbuh dan berkembang. Bertumbuh menjadi lebih besar dan berkembang menjadi lebih dewasa. 

Pernahkah kamu takut akan bertumbuh dan berkembangmu itu?

Pernahkah kamu merasa itu semua terlalu cepat?

Pernahkah kamu mencoba untuk menghentikannya?

Apabila kamu pernah..
Silahkan gabung bersama kami di klinik TONGPAN!

....

Aku pernah. Namun, tidak untuk menghentikan. Menghentikan berarti bunuh diri. Mati.

Aku takut. Sebab, dengan seseorang bertumbuh dan berkembang, semuanya tidak sama lagi. Selalu akan menciptakan perbedaan, seperti merasa... kehilangan.
Entah apa pun itu. 

Aku tahu. Itu memang tidak pernah direncanakan. Memang dirancang untuk mengalir begitu saja. Seperti tulisan ini. Mungkin ini yang membuatku uring-uringan seharian. Berkenankah kamu membacanya? Terima kasih. :)

....

Aku rasa alur hidup setiap manusia sama. Seperti:
  1. Lahir - Hidup - Anak-anak - Alay - Remaja - Dewasa - Menikah - Mati.
  2. Lahir - Hidup - Anak-anak - Alay - Remaja - Menikah - Dewasa - Mati.
  3. Lahir - Mati.

Yaa kurang lebih seperti itu. Kira-kira kamu sedang ada di fase yang mana?
Kalau misalkan aku di fase 'dewasa', mau tidak mau dalam beberapa tahun kedepan aku akan menikah. Haha. Wahai waktu, bisakah kau berjalan lebih pelan lagi? 

Perihal menikah. Kakak laki-lakiku yang pertama sudah menikah, sekitar 4 tahun yang lalu. Dia lebih memilih pisah sama keluarga, tidak tinggal di rumah ini. Dia sudah dewasa, bisa memilih sendiri jalan hidup seperti apa yang akan dia lalui. Bertanggung jawab, dan berani menerima resiko atas apa yang dia pilih. Ayah, Ibu, Aku, dan Kakak laki-lakiku yang kedua, tidak berhak ikut campur terlalu jauh atas rumah tangganya.

Semenjak itu, bagiku, rumah sangat berbeda. Aku merasa kehilangan Mas Rendra, kakakku yang pertama. Padahal ia masih sering berkunjung ke rumah. Tapi, tetap saja suasananya sudah berbeda. Menikah yang membuatnya.

Sepi. Tak ada lagi sosok yang menciumku ketika sedang menonton televisi, membantuku mengerjakan tugas, mengganggu tidurku, dan tidur berempat di kamar sama aku, Ibu, Mas Andri, dan Mas Rendra. Ayah? Ayah tidur di kamar lain. Hahaha. Maaf ya Ayah.. :p

Dulu.. Ah, iya dulu... Keluargaku selalu menyempatkan untuk makan malam bersama di luar. Selalu solat magrib berjamaah. Ketika mati lampu, keluargaku pasti akan berkumpul disalah satu ruangan, hanya sekedar untuk bercerita, bercanda, tertawa, bernyanyi. Dan ah, ya, kami selalu menggunakan lilin. Masih lilin, tidak pakai diesel. Menciptakan suasana hangat di ruangan tersebut. Namun, jika lilin tersebut tinggal sedikit dan lampu tak kunjung hidup, kami akan masuk ke kamar, dan tidur bareng-bareng. :')

Sekarang? Kami masih selalu menyempatkan untuk makan bersama, meskipun hanya di rumah. Aku sangat senang. Dan solat bersama. Namun itu semua jarang, dan itu tidak lengkap.

....

Ada yang kurang, dan itu sudah hilang. Bolehkan aku membencinya? Tentu saja tidak. Itu hanya ego sesaatku saja.

Apakah setiap pernikahan membuat segalanya berbeda? Apakah keluarga baru yang kecil nan bahagia itu mampu melupakan keluarganya yang lama? Hingga kehangatan itu mulai memudar. Bisakah itu semua kembali?

Ah, waktu sudah membuatnya pergi.

Dengan ini bukan berarti aku tidak ingin menikah. Tentu saja aku ingin. Tak terbayang betapa bahagianya bisa menikah dan membentuk keluarga baru dengan seseorang yang kita sayang. Right?

Hanya saja dengan pernikahanku nanti, akan kupastikan tidak akan banyak yang berubah. Apabila berubah, itu pun ke arah yang lebih baik. Dan semoga Tuhan akan selalu mengingatkan jika aku lupa atau mencoba mengabaikan. Jika itu terjadi, semoga Tuhan segera membawaku kembali pada keluargaku.

....

Kok, kayaknya kalimat di atas seolah-olah menunjukkan kalau aku akan menikah besok. Geli. -___-"

Entah kenapa tulisan kali ini kacau banget. Tapi, berkat nulis ini di sini, perasaanku jadi lega. Maaf, kalau kamu jadi membaca tulisan bak abege labil ini. Aku tidak bermaksud. Lagian, aku kan sudah memperingatkanmu kalau postingan ini "Nggak Penting", tapi kamu masih saja membacanya. :))

Bhahahaha. Thanks, ya.

Bye bye~ Mumumumu~