Tampilkan postingan dengan label anak kos. Tampilkan semua postingan

Hujan, So, What?

Tanah di Kotaku, Serang, akhir-akhir ini sering basah, karena menampung air dari langit.

Yelah. Bilang aja hujan, Rim. Ribet amat dah.

Iya-iya. Akhir-akhir ini langit di Kotaku sering menangis.

Setdah. "Hujan" aja, woi.

Iya... akhir-akhir ini...

AKHIR-AKHIR PALELUUU. BILANG "HUJAN" AJA, KARPET ALADIN! 

I-iya, hujan. :|

....

Nggak biasanya Serang hujan semalaman. Biasanya hujan turun di sore hari, dan malamnya berhenti. Iya, cuma sebentar. Alhasil, paginya aku disuguhi pemandangan seperti ini di depan kostan.


Yeah. Banjir. Pemandangan yang belum pernah aku lihat selama di Lampung. Terima kasih Serang. Kini aku tahu wujud banjir yang sesungguhnya.
Lagipula, kayaknya ini lebih cocok dibilang becekan daripada banjir, ya? Ya udahlah, biar lebay sebut aja banjir. ._.

Pertama kali lihat banjir?
Panik? Tidak.
Kaget? Tidak.
Jatuh cinta? Iya. Cinta pada pandangan pertama.... Lalu, kami jadian. Ucet.
Ya nggak lah. Aku cuma bingung. Bingung gimana berangkat ke kampusnya. Aku ada kuliah jam 07.30 WIB. 

Tumben banget aku udah siap. Aku panggil teman kuliahku yang kostannya di depan kostanku.
"KHAAAAAY!"
Tidak ada yang keluar. Oh, mungkin tidak ada yang tau dengan panggilan Khay. Aku coba panggil lagi.
"KHARIIIS! KHARIIIS!" teriakku sambil membawa bambu runcing.
Yang keluar malah temannya, yang kebetulan mau jemur handuk.
"Mon, Kharisnya ada?"
"Ada, Kak," jawabnya. Dan kepalanya menoleh ke dalam kostan, "Kak Khariiis, dipanggil temennya." Tak lama dari itu Kharis keluar.
"Heh! Kuliah kagak luuu?" tanyaku, dengan setengah berteriak.
"Nggaak, Riiiim."
"Iihh, kenapaa?"
"Mageeer tauuu." 
Aku merengut. Iya. Kelihatan banget magernya. Si Kharis belum mandi. Sial. Aku pun dilema... jenis kelamin apa yang akan kucantumkan di KTP.

Aaaaaaak! Tidaaaak!

Udah terlambat, nih. Kuliah nggak, ya? Ah, kuliah aja kali, ya. Dosennya kan nggak serem ini.
Duh, tapi, kan, lagi banjir....
Elah, kan bisa naik becak.
Tapi males. Kharis aja nggak kuliah.
Tapi udah siap gini. Sayang sabunnya... eh, sayang absennya, Rim.
Absen mah bisa nitip.
GILA LU. BAYAR KULIAH MAHAL, RIM. INGET KERINGET ORANGTUA.
Waaiyaaa, parah lu, Rim. Inget keringet orangtuaaa!
LAH? LU, PIHAK MANA, SIH?!
YEEE. SUKA-SUKA, DONG!

Aaaaaaak! Berisiiiik!

Akhirnya, karena aku masih inget keringet orangtua beserta baunya, aku memutuskan untuk berangkat kuliah. Aku lihat jam di henponku menunjukkan pukul 08.00 WIB. Aku segera pakai sepatu dan memanggil becak yang lewat.

Baru ini aku berangkat kuliah naik becak. Mau bagaimana lagi, daripada sepatu aku kelelep, kan? Sebenarnya bisa saja aku jalan kaki. Iya, bisa basah celananya. -_- Jadi, aku memutuskan untuk pulangnya saja nanti yang jalan kaki. Toh, hari ini kebanyakan memang berangkatnya pada naik becak. Tak apalah... sesekali. Mungkin untuk sebagian orang, banjir ini menyusahkan. Namun, bagi mamang becak, banjir ini memberinya rezeki. :)


Ini nggak dalam, kok, cuma sebetis.
Betis buaya.
Buaya darat.

"Assalamualaikum. Pak, boleh masuk?"
"Iya, silakan."
Fyuuuuh. Terlambat tiga puluh menit, atau malah lebih? Tapi untung masih diperbolehkan masuk. Yaa, selama masih mampu untuk berangkat kuliah, kantor, atau sekolah yang memang masih sekolah, berangkatlah. Sesulit apapun, selama masih ada niat, semangat, dan harapan... yakinlah akan selalu ada jalan. InsyaAllaaah~ InsyaAllaaah~ InsyaAllaaah~ Adaa jaalaaan~
Super.

***

Udah, sih, gitu aja ceritanya. Nggak jelas, memang. Kapan coba Rima pernah jelasnya? :'
Hmm... btw, beneran nggak ada info lomba yang hadiahnya laptop, nih? Bhahahahaha.
BOSEN, RIM, BACANYAA! LAPTOP MULU, BOSEN!
Maaf. :(

Sebagai penutup yang manis, aku mau ngucapin: terima kasiiiih kamu udah baca postingan akuuu. Jangan bosaaan. Aku sebenarnya rindu main-main ke blog kamu. Maaf, ya, sekarang-sekarang ini jadi menghilang. Gimana atuh, yaa. Haha. Nggak. Aku nggak mau alasan apa-apa, kok. Apalagi beralasan hemat kuota, karena perekonomian sedang sulit. Nggaklah.

Nggak salah lagi. Hiks. 
Nanti aku main lagi, kok. Jangan ditunggu, ya. Nanti aku senang. Mumumu~ :3

Melati Pengantin

Cikulur, Rangkas, Banten. Tepat pada tanggal 5 Februari 2016 ketiga kalinya aku ke sana dan ke rumah yang sama, seingatku begitu. Yang pertama tujuannya untuk jalan-jalan, yang kedua untuk ikut lebaran haji di sana, dan yang ketiga untuk menghadiri akad nikah teman satu kostan aku... Linita Haida Sagitarius. Oke, ralat. Itu tadi nama fesbuknya. Yang benar, Linita Haida. Aku biasa memanggilnya...

"NTAAAAA! INI... DIBUKANYA NANTI AJA, YAA!" Kataku sambil menyerahkan sebuah kotak besar dan lumayan berat dengan antusias yang menggebu-gebu.
"IYAA. POKOKNYA HARUS ELU YANG BUKA. NGGAK BOLEH ORANG LAIN!" kata Nia dengan tidak kalah antusiasnya. Ya, kotak itu dari kami berdua.
"Hahaha. Emang kenapa? Kalo Chepy yang buka?"
"NGGAK BOLEEEH!" jawab aku dan Nia bersamaan.

Bagaimana kami tidak kekeuh supaya harus Linita yang buka? Sekalipun itu Chepy, calon suaminya pun tidak kami izinkan. Hahaha. Membayangkannya saja sudah membuat kami tertawa geli. Mengingat malamnya kami begadang untuk membungkus kotak besar yang baru saja kami serahkan. Kotak besar yang penuh dengan misteri. Kamu penasaran? Nggak? Sama. Aku juga nggak panasaran.

"Ayo, Neng, pada makan dulu...," kata mamahnya Linita.
"Iya, Mah," jawabku dengan gesit. Yoi. Karena sesungguhnya... Anak kostan sejati tidak akan menyia-nyiakan kesempatan makan gratis.

APA INI, YAA ALLAH?! RUSAK SUDAH NAMA BAIK RIMA.

Biarlah. Sudah terlanjur rusak. Mari kita rusak bersama-sama.

Aku melirik ke piring mereka. Nggak jauh beda juga sama punya aku. Dalam hati aku bergumam, yaa Allah anak kostan gini amat bringasnya. Biar nggak terlihat terlalu bringas, aku perlambat tempo makanku dari biasanya. Namun, ternyata percuma... tetap aku yang selesai pertama. Aku nggak tahu lagi. Ini aku yang makannya masih terlalu cepat atau mereka yang terlalu lama? :(

"Aaaaaak! Nta cantik bangeet," teriakku dengan gemasnya.

Iya. Linita beda dari biasanya. Lebih cantik. Aura pengantin memang beda, ya? Lebih "wow" gitu.
Aku memperhatikan setiap polesan yang diulaskan sang perias pada wajah pengantin. Menyenangkan. Membayangkan diriku sedang berada di posisi itu. Entah bagaimana rasanya, yang pasti bahagia, bukan? :)

Linita yang riasannya hampir selesai pun segera melaksanakan kewajibannya, salat Dzuhur setelah yang Jumatan selesai. Ini judulnya salat cantik. Salat dengan make up di wajah.

Selesai salat Dzuhur. Linita lanjut ganti pakaiannya dengan gaun pengantin. Terakhir, sang perias memasangkan rangkaian bunga melati sebagai hiasan di jilbabnya.

"Eh, tau nggak?" tanya Linita. Tanpa menunggu jawaban, dia langsung melanjutkan kalimatnya, "Katanya, kalo bawa pulang melati pengantin, nanti bakal nyusul nikah juga, loh."
"Oh, yaa?" Mataku terbelalak.
"Iya. Saya kan waktu itu sempet ke nikahan temen, terus sengaja bawa pulang melatinya."
"Wih, kalo gitu mau lah bawa pulang melatinya," kata Nia.
"Saya juga mau, Nta," aku menyambar.
"Gue juga."
"Ih, gue juga, dong."

Kemudian, semuanya, termasuk kaum undur-undur pun menginginkan melati pengantin itu. Bersyukur tidak ada mantan preman di antara kami. Kalau ada, bisa-bisa bukannya terjadi pernikahan, yang ada malah perkelahian. Kami pun memutuskan untuk membagi-bagi melati itu setelah acara akad nikah selesai.

Oiya, ngomong-ngomong soal mantan.... Aku dan Nia sempat ngobrol dengan mamahnya Linita. Bertanya tentang bagaimana Linita bisa bertemu dengan Chepy, karena setahuku, semester yang lalu Linita sempat berpacaran lama. Namun, bukan dengan Chepy. Sebut saja Joko. Ternyata, Linita dan Chepy sudah lebih dulu berpacaran saat Linita SMA. Iya, mantan pacar. Mereka sempat pacaran dan putus. Lalu, menghilang tidak ada kabar satu sama lain. Namun, karena Tuhan memang sudah melukiskan garis jodoh di antara mereka, Linita dan Chepy dipertemukan lagi. Chepy menghubungi Linita kembali. Tuhan memang penuh dengan kejutan, ya. :)

"Eh, Chepy udah di depan tuh katanya."
"Ciyeee, Spongebob mau menikah, ciyeee. Gimana perasaannya, Nta?" kataku kepada si penggila Spongebob Squarepants.

Linita tidak menjawab. Hanya senyum gugup yang membuat pipinya makin merona. Aku jadi ikutan gugup. Entahlah. Ini memang pertama kalinya aku menghadiri pernikahan teman. Teman yang bisa dikatakan lumayan dekat. Aku masih tidak menyangka Linita yang sepantaran denganku menikah di usia 19 tahun dengan Chepy yang berusia 28 tahun. Jarak usia yang cukup lumayan jauh. Aku jadi memikirkan 'di umur berapa nanti aku menikahnya?' 

Pada saatnya sang pengantin Pria mengucapkan ijab qabul dengan bahasa arab, lalu semua bilang sah. Linita langsung dibawa ke depan dan disandingkan dengan suaminya. Ya, sekarang Linita Haida sah menjadi istrinya Chepy Kusnandar.

Moment yang paling membekas adalah saat mereka bersungkeman dengan orangtua dan mertuanya. Orangtua dan mertuanya mendoakan dan mengelus kepala mereka. Pengantin perempuannya menangis di sana. Aku yang termasuk tidak mudah menangis, ikut merasakan haru itu dan entah mengapa mataku jadi basah. Merinding bercampur bahagia sekali melihatnya. Ah... aku tak bisa membayangkan berada di posisi Linita. Ya, gimana mau membayangkan? Pasangannya saja belum ada. Tapi, sampai pada aku mengetik kalimat ini, aku hanya teringat pada satu nama, yang kemudian kubuyarkan lagi karena melihat keadaan sekarang saja sudah seperti ini.... Akankah? Entahlah.

Hei! Serius sekali membacanya! Hahahahaha. :p

Hari semakin sore. Karena kami tidak ada niatan untuk menginap, kami pun langsung berpamitan. Mamahnya Linita memberikan makanan satu dus untuk kami berenam. "Aaaah, makasih mamaaah~ Mamah emang paling mengerti anak kostan~"

Di tengah perjalanan pulang....
"Eh, ada yang kelupaan, ya?"
"Apaa?"
"Melatinya, guys...."
"AAAAAH, IYAAAA!"
Oke-oke. Cukup tau. Mungkin kita memang belum saatnya, guys. Sabar, ya.... Hahaha.

***

Malamnya, di multichat....
Linita: Njiir. Rima, Nia, jail amat kadonya.
Lili: Apa apa apa?
Nicky: Apa kadonya, Lin? Haha.
Linita: Do'a biar cepet dapet momongan. Hahaha.

Hahaha. Iya, hadiahnya memang do'a malam pertama pengantin, yang aku dan Nia tulis di surat. Tapi, hadiah intinya ada di dalam kotak yang kami lapis dengan 2 kotak lagi di dalamnya. Isinya, ehm, kostum untuk Linita bertarung dengan Chepy (?).

HAHAHAHA. AKHIR KALIMAT,
HAPPY WEDDING LINITA DAN CHEPY. SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU. SEMOGA MENJADI KELUARGA YANG SAMAWA~ SAKINAH~ MAWADDAH~ WARAHMAH~ AAMIIN~ DITUNGGU HASIL DARI KADO RIMA DAN NIA, YA~

~~~\o/

Tragedi Say It With Line

"Besok hari Senin. Dan besok libur."

Sebagai Mahasiswi yang sering berdoa, "Yaa Allah, semoga Senin libur, Yaa Allah," seharusnya aku senang. Namun, untuk kali ini tidak. Karena...

AKU BOCAN, YAA ALLAH! AKU BOCAN...

BOsan CANtik. Ahehehe.

(Kemudian Rima tewas dibakar massa... massa lalu.)

Dih. Mitamit. Kalimat pembuka macam apa itu?! Kebanyakan libur, kok, otak jadi ikutan libur juga, Rim?!

Iya, maaf. :(
Habisnya... mending liburnya dipakai jalan-jalan gitu, kan enak. Ini mah boro-boro. Waktunya, sih, ada, bisa gitu buat jalan-jalan... tapi anggaran dananya itu, loh. Ora nduwe. Hiks. Jadi terpaksa, deh, habis bimbingan akademik aku mengendap di kostan sampai masuk kuliah. Alhasil, bukannya fresh malah kayak orang stress. HEHEHE. HE HE HE.

Di sela-sela menikmati otak yang lumutan karena kebanyakan libur ini, aku asyik dengan henpon. Dari mulai update status dan ngetwit nggak jelas, sampai dengan ngerusuh di group chat. Apa banget deh pokoknya. Ewh~
Lalu, ada chat masuk dari Line Indonesia.


"Hmm... hmm... dapet sticker, ya. Leh uga... tapi, telepon siapa, ya?"


Aku bingung. Kata mamang Line "Telepon orang terdekatmu". Lah, siapa coba?
Ayah? Nggak punya Line. Boro. Henpon aja masih yang pencetannya keras kek batu itu. :(
Ibu? Jarang pake.
Pacar? Nggak punya. Ehm, maksudnya nggak punya pacar.
Mantan? Nggak deh. Ntar aku digrebek sama pacar barunya.
Sahabat? Yak! Ini diaaa.

Aku pun memutuskan untuk menelepon sahabat. Namun, karena sahabat aku banyak, aku bingung kembali mau menelepon yang mana. Gileee. Udah songong banget belum? Bhahaha.

Berhubung waktu pulang ke Lampung kemarin nggak ketemu sama Amel, sahabatku yang masih sibuk sama urusan kuliahnya di Bandung, aku pun meneleponnya. 'Kangen juga sama anak itu.'

Tenoonet~ tenoonet~ tenoonet~
Suara sambungan telepon di Line menggema di telingaku.

"Halo. Assalamualaikum," sapaku setelah bunyi tenoonet tenoonet tenoonet itu berhenti.

"Waalaikumsalam," jawab Amel yang logatnya mulai ke-sunda-sundaan. Halus pisan euy. Beda banget sama aku yang... yang gitulah pokoknya. Hhh~ "Ada apa, Rim?"

Belum sempat aku jawab, dia langsung menodong dengan pertanyaan... "Oh! Mau dapetin sticker, yaaaa?" Terdengar nada mengejek. Aku tau banget ekspresi menyebalkan seperti apa yang ada di seberang sana.

Kemudian, tidak perlu jeda lama. Hanya jeda 2 detik, tawa kami langsung pecah bersamaan.
"HAHAHAHAHAHA!"
"HAHAHAHAHAHA!"
"HAHAHAHAHAHA!"
"HAHAHAHAHAHA!"

Masih dengan dialog tawa yang sama. Lama sekali. Sampai air mataku keluar. Tertawa yang tidak kontrol di tengah malam begini. 
"HAHAHAHAHAHA! GILA! GILA! GILA!" Aku tertawa sampai guling-guling di lantai kamar kost yang tidak terlalu besar, dan... BRAAAAAAK!

YAK.
SURPRISE!
Aku shock seketika, tapi masih terus tertawa. Malah makin tidak terkontrol.
"AH! GILAAAA! SAYA SAMPE NENDANG KIPAS ANGIN, NIH, MEL!" 
"HAH? KIPAS ANGIN? AHAHAHAHA."

Aku pun bangun dari posisi tidurku, dan menengok ke luar pintu...
"ASTAGFIRULLAH! TUTUPAN KIPASNYA SAMPE LEPAS GINI. TANGGUNG JAWAB, MEEEL! GEGARA KAMU, NIH."
"LAH, KOK, SAYA? HAHAHAHA. HAYO, LOH!"

Sambil memegang henpon, aku mencoba memasangkan kembali tutupan kipasnya. Nia, teman sekamarku yang juga belum tidur hanya bisa menggelengkan kepala. Antara sudah ngantuk, malas meladeni kelakuanku, atau sedang memikirkan rencana untuk mengusirku dari kamar ini nanti pagi. Alhamdulillah, kipas anginnya tidak jadi tewas dan Nia tidak jadi mengusirku dari kamar kost.

"Ada apa, Rim?" kata Yuana, teman kostanku yang lain, sambil membuka pintu kamarnya.

"Nggak ada apa-apa, Yun. Ini tadi kipasnya ketendang. Hehehe. Silakan tidur lagi, Yun. Hehehe." Yuana pun masuk lagi ke kamarnya.

Memang benar-benar si Rima ini. Rusuh maksimal! Ganggu orang tidur, iya. Hampir ngerusakin barang lagi, iya. Efek kebanyakan libur nggak gini juga kali. 

Maaf. :(

"Kok, tau, sih, Mel?"
"Taulaah."
"Ya, kalo tau juga mustinya pura-pura nggak tau aja gitu. Padahal saya udah nyiapin dialog tadi. Huft."
"Hahaha."
"Jangan-jangan ada yang habis telepon kamu juga, ya? Iya, kaaan?"
"Iya. Sama kamu jadi yang kedua kalinya, nih."

Meskipun niat awalnya udah ketahuan, aku tetap lanjut ngobrol. Tidak ada salahnya. Toh aku juga ingin melepas rindu. Obrolan kami pun ke mana-mana. Membahas kuliah dan pacarnya. Ada perasaan bahagia ketika mendengarkan cerita dari seseorang. Sebab aku tahu, di tiap cerita mereka selalu ada kepercayaan yang tersirat untukku. Aku bahagia diberi kepercayaan yang mereka miliki. Ya, kepercayaan itu mahal, gengs.... Maka dari itu aku selalu menjaganya. 

"Eh, kan kalo telepon pake Line selama 7 hari gitu bakal dapet Line Credit 20.000 tau," kata Amel.
"Iya tah?"
"Iya. Nggak percaya amat. Ntar saya kirim skrinsyutannya, deh."
"Hahaha. Oke. Eh, Mel, kok, suaranya menggema, sih? Lagi di kamar mandi, ya?"
"Iya, nih, mau eek."
"Hahaha." Bercanda mulu ini anak, batinku.
"Hahaha."
"Kok, masih menggema? Beneran mau eek, tah?"
"Iya, beneran." Kemudian di seberang telepon aku mendengar suara air.
"EDAAAAN. YA UDAH. UDAHAN DEH, YA."
"HAHAHA. IYA."
"ASSALAMUALAIKUM. DAAH."
"WAALAIKUMSALAM."

Telepon pun berakhir karena Amel mau eek. Penutupan yang tidak elegan sama sekali. Terima kasih, Amel.

Selesai mengakhiri telepon, henponku langsung berteriak, "LINE~" Suara yang menandakan ada chat masuk. Aku pun membukanya. Ternyata dari mamang Line lagi.

Wuiiih. Ternyata beneran.

"LINE~" Kali ini dari Amel.


Amel, kok, kita gini banget, ya? Hahaha. -___- #kamipecintagratisan #kamitidakakanmenyerah #kamipastibisa

Jadi, ada yang mau bantu aku dapet pulsa gratis? Malaikat Tak Bersayap ini akan meneleponmu~ Namun, kalau kamu sedang tidak beruntung, Malaikat Izroil yang akan meneleponmu~ :p

Terima kasih sudah membaca curhatan anak kost yang lagi gabut. Ada yang iseng telepon juga demi dapet sticker gratis kayak aku? Cerita, doong~ Aku tunggu, ya, di kolom komentar. \o/

Oiya. Selamat Hari Raya Imlek bagi yang merayakan~ \^^/

***

(Diketik, diedit, dan diposting dengan henpon. Fyuuuh~ #RimaButuhLaptop #BeriRimaLaptopGratis #RimaPecintaGratisan)

Desember Hari Ini

Desember adalah bulan ke dua belas, bulan terakhir di akhir tahun. Dan semua individu di dunia ini tahu itu. Di bulan terakhir ini, semoga perasaanku padamu pun turut berakhir. Eeaaak. Kamuflase~

Hari ini masih suasana UAS, tapi tidak ada mata kuliah yang sedang di-UAS-kan. Lumayan, ada kesempatan buat tidur lebih lama. Tapi tetap aja masih kepikiran sama UAS. UAS kali ini harus dapat hasil yang memuaskan. Kalau sampai IP turun lagi, habislah sudah~ Bisa dinikahi nanti aku~ Bohong deng. :|

Hari ini ada Pemira di kampus aku. Iya, semacam pemilihan Presiden Mahasiswa dan sebagainya. Malas sekali datang ke kampus untuk memilih. Lagi pula syaratnya harus bawa KTM (Kartu Tanda Mahasiswa). Kan aku nggak punya. Biasa... hilang bersamaan dengan dompet saat itu. Hahaha. Ya sudah, nikmati waktu di kostan saja. Kalau dipikir-pikir, aku ini lebih banyak waktu di luarnya dari pada di kostan. Kostan cuma jadi tempat singgah aja. Kamu boleh percaya dan boleh tidak tentang aku yang beberapa hari yang lalu baru pulang ke kostan jam empat subuh. Rekor baru yang aku capai di akhir tahun. Huh~ Jangan tanya kenapa aku bisa sampai pulang subuh begitu. Kalau aku mau, pasti kuceritakan. Kalau aku tidak mau, ya, tidak kuceritakan.

Hari ini aku kembali mengenang sesuatu. Sepertinya ada yang salah dengan sistem di otak aku yang harus segera ditangani lebih lanjut oleh pihak yang bersangkutan. Atau biarkan saja otak ini terus-menerus memutar film dengan akhir yang sama sampai waktu yang menghentikannya. Tuan waktu, kapan berhenti?

Lalu, hari ini adalah Hari Ibu. Memang setiap hari adalah istimewa untuk Ibu. Sebab, Ibulah keistimewaan itu. Tak perlu menunggu Hari Ibu untuk bilang sayang ke Ibu. Namun, anggap saja hari ini, 22 Desember adalah puncaknya. "Selamat Hari Ibu. Sehat selalu, Bu. Maapin Rima yang sering nakal. Terima kasih untuk semuanya, Ibu."
Biasanya aku membantu pekerjaan Ibu di rumah, memasakkan sesuatu buat Ibu, dan terakhir memberi jasa pijat sepuasnya untuk Ibu. Namun, berhubung aku dan Ibu sedang LDR-an, jasa pijat sepuasnya di-pending dulu, ya. InsyaAllah, kalau ada kesempatan, hari Rabu besok Rima pulang ke rumah. Dan semoga Rima nggak pura-pura lupa sama hal-hal yang disebutkan di atas. Ahahahaaa~
Ada oleh-oleh dari postingan pertamaku di akhir tahun ini, fotoku bersama Ibu. Ibu paling hitz seduniaaaaa. Yoi, broooo~ Ini beliaaaau.
Mirip nggak? Mirip kaaaan? Awas aja kalo ada yang bilang nggak mirip. Aku sumpahin kamu bahagia selamanya. Aamiin.

Terakhir, tapi bukan berarti menjadi tulisan yang terakhir. Karena aku masih dan akan terus menulis sampai bang Izroil menjemput. Ihiiiik~
Sebenarnya banyak yang mau aku tulis, tapi aku bingung. Untuk kamu yang membaca postingan ini, boleh banget memilih ingin membaca cerita aku selanjutnya tentang apa. Aku kasih pilihan, ya:
1. Cerita Damai dari Jogja
2. Cerita Baduy Luar yang luar biasa bikin betis membengkak
3. Cerita main ke UNJ naik Gojek
4. Cerita jualan untuk dana kegiatan sampai digrebek SATPOL PP
5. Cerita hijrah ke domain baru
6. Cerita mantan. Nggak deng. Nomer enam dicoret. Lima aja. Hahahaha. \o/

Silahkan dipilih dan tuliskan di kolom komentar, nanti nomer yang terbanyak, aku akan menuliskan cerita tersebut. Bahahaha. Sok-sokan banget kali si Rima, palingan juga nggak ada yang peduli. Yaa, ini salah satu cara aku buat motivasi posting blog lagi aja, sih. Serah kamu, Rim. Hahahaha. 

Terima kasih yang sudah peduli. Terima kasih juga yang sudah membaca tulisan di blog ini.
Terima kasih banyak. Blog ini tidak ada apa-apanya tanpa pembaca seperti kamu. Aku akan berusaha balik mampir ke blog kamu. Maafkan kalau agak lama, karena aku blogwalking lewat henpon. Sini sun dulu. Mwah~ :*

Kejutan Dari September




Bulan September yang sangat-sangat berkesan.
Sebelumnya, aku mau berterima kasih sekaligus minta maaf ke teman-teman semua.
Terima kasih masih sudi mampir ke blog ini dan khilaf membaca tulisan-tulisanku.
Mohon maaf atas apa yang pernah aku tulis, mungkin ada yang pernah tersinggung atau tersakiti. Aku mohon maaf. Apalagi bulan ini udah jarang banget update blog. Maaf. :(

Banyak yang mau aku ceritain di sini. Tentang bulan September ini. Bulan yang penuh kejutan untukku.

Kejutan.
Kamu suka kejutan?
Kamu pernah mendapat kejutan?
Kapan kamu menerima kejutan-kejutan itu?
Kejutan itu apa, sih?

Kejutan adalah suatu keadaan ketika mata kamu berdenyut-denyut sendiri. Oh, itu kedutan.

Aku suka kejutan, tapi kalau dikejutin aku nggak suka. Soalnya aku orangnya kagetan. Kalau kaget, aku deg-degan. Kalau deg-degan, berarti aku jatuh cinta. Hhh~

Menurutku semua orang pasti pernah mendapat kejutan. Entah kejutan apa, dari siapa, dan bagaimana. Kejutan tidak melulu tentang ulang tahun. Dan ketika hanya sedang berulang tahun kamu mendapat kejutan. Tidak musti. Banyak hal yang bisa dibilang kejutan. Aku mau cerita beberapa kejutan yang aku alami beberapa hari ini.

Oke. Tarik napas dulu, ya. 

Hmmmmppppph~ 
 
Haaaaah~

***

Minggu, 20 September 2015
Hari ini aku ke Cilegon naik motor. Sendirian. Nekat. Aku tidak pernah mengendarai motor sampai sejauh ini. Biasanya hanya sekitaran Serang saja. Serang – Cilegon bisa ditempuh dalam waktu setengah jam. Kalau aku yang bawa, yaaa, 45 menitlah baru sampai. Hehe.
Masih di kawasan Serang, di Ciceri. Aku nggak tau jalan menuju ke Cilegon. Ketika sedang lampu merah, aku bertanya ke seorang laki-laki paruh baya di sebelahku.
“Permisi, Mas.”
“Ya?”
“Kalau mau ke Cilegon, jalannya ke mana, ya?”
“Oh, lurus aja, neng.”
“Lurus aja?”
“Iya… atau kalau nggak ikutin saya aja. Saya juga mau ke Cilegon.”
“Oh, gitu? Iya, Mas. Makasih….”
Lampu pun berganti hijau. Aku mengikutinya dari belakang. Lambat sekali jalannya. Ya, kebetulan, sih. Aku juga nggak begitu berani mendahului kendaraan yang ada di depan.
Ketika sudah hampir masuk Cilegon, si Masnya memberi kode agar aku mendahuluinya. Aku pun mendahuluinya. Dia pun pindah ke sebelah kendaraanku, beriringan.
“Neng, Cilegonnya di mana?”
“Hah?! Apa??”  kataku tak mendengarnya.
“Cilegonnya di manaa?”
“Oh, Halte PCI!” aku setengah berteriak.
“Haahh??” sekarang gentian si Masnya yang mendadak gangguan telinga.
Aku mengulang jawabanku sambil berusaha menoleh ke arahnya.
“HALTE PCI!”
Begitu aku menoleh ke depan lagi….
BRAAAAAAAAAK!
Aku terjatuh. Berusaha menghindari mobil yang kebetulan memang sedang diparkirkan di situ. Sulit sekali melihat ke samping kanan sambil tetap mengawasi pandanganku ke depan. Aku tidak fokus.
“Nggak apa-apa, Neng?”
“Nggak… nggak apa-apa, kok. Ha-ha,” aku malu. Tidak ingin ditonton banyak orang, aku berusaha bangun dengan bantuan Mas-mas itu. Si Masnya minta maaf, karena sudah mengajakku ngobrol di jalan. Aku, sih, yang salah. Harusnya minggir dulu, jangan ngobrol di jalan. Hhh~

Aku memeriksa keadaan motor. Alhamdulillah motornya nggak kenapa-kenapa. Cuma lecet sedikit. Aku pun melanjutkan tujuanku ke Cilegon yang tinggal sebentar lagi – dengan keadaan lutut kanan yang nyut-nyutan.
Sepulangnya dari Cilegon, aku memeriksa sumber rasa nyeri itu. Ternyata cuma lecet biasa. Alhamdulillah.


Senin, 21 September 2015
Ketika sedang di kelas, ada pesan masuk.
“Teh Rima, kalo sempet, beli tinta hitam 2, magenta 2, yellow 2, cian 1.”
Selesai kuliah, aku pun langsung berangkat dan mengajak Hanum. Tujuannya adalah ke MOS (Mall of Serang). Tinta printer di sana lebih murah. Sampai di sana, ternyata tinta hitamnya habis, hanya dapat yang cian. Aku memutuskan untuk membelinya di tempat lain.

Di parkiran MOS…
“Num, kamu aja, ya, yang bawa motor… masih nyeri, nih, kakinya…”kataku.
“Ya udah…”

Motor pun sudah keluar dari MOS dan melaju ke tempat jual tinta printer yang lain. Baru juga beberapa menit dari MOS, dari belakang ada Polisi yang mengejar kami dengan motornya.
“Mbak, tolong ikut saya sebentar,” katanya.

Kami hanya memasang wajah bingung yang mengisyaratkan pertanyaan “Ada apa? Kami salah apa? Mengapa kami berbeda?” Dengan berbagai banyak pertanyaan itu, kami menurutinya. Daripada dikejar, kan, malu.

Sampai di posnya, kami turun dan mengikuti si Bapak Polisi masuk ke ruangannya. Sial. Pikirku. Ada apaan lagi, sih, ini? Padahal kami sudah pakai helm, dan tidak menerabas lampu lalu lintas.
“Kenapa, ya, Pak?”
“Lampu stop di belakang motor itu warna putih, seharusnya warna merah.”
Dengan wajah polos aku bilang, “Emang iya, ya?”

Singkat cerita. Aku nggak tahu harus apa. Karena ini pertama kalinya aku ditilang. Si Bapak Polisi yang Terhormat sempat menyebutkan nominal yang harus kubayar untuk menebus tilang tanpa disidang. Cukup mencengangkan nominalnya. Akhirnya, aku mengharuskan diri untuk menelepon Ibu sebentar, dan aku disuruh untuk sidang saja. Oke. Baiklah. Aku memilih untuk hadir sidang tanggal 30 nanti dan STNK aku pun ditahan.


Rabu, 30 September 2015
Dari jam 7 pagi aku udah stay di kampus untuk hadir praktikum mata kuliah. Aku sengaja hari ini berangkat ke kampus naik motor. Biar nanti selesai praktikum aku langsung ke Pengadilan, bareng Hanum.
Aku belum pernah ikut persidangan. Di bayangan aku, tempat persidangannya itu luas, adem, dan menegangkan. Namun, ekspetasiku terlalu tinggi. Justru yang telihat malah sebaliknya. Tidak luas, tidak adem, dan tidak menegangkan.

Panas dan sumpek sekali. Hari ini banyak yang akan disidang. Aku dan Hanum berdiri di luar ruang sidang sambil memegang kartu tilangnya.
“Mau sidang?” kata Bapak-bapak di depanku.
“Iya.”
“Itu kartu tilangnya dikumpulin di sana, kalo nggak dikumpulin, ya, sampai besok pagi juga nggak akan dipanggil-panggil.”
Pffft. Malu-maluin si Rima.

Masih di luar ruangan….
“Num, bayarnya di mana, ya?” aku sambil menatap ke dalam. Ada 3 orang di depan sana. Yang di tengah Hakim, sebelah kiri Hakim ada seorang perempuan (entah dia sebagai apa, aku lupa), sebelah kiri Hakim ada seorang laki-laki yang memanggil daftar orang-orang yang akan disidang.
“Katanya, nanti ada tempat bayarnya,” jawab Hanum.
“Oh, ada tukang kasirnya gitu, ya?”
Aku tertawa dengan pertanyaanku sendiri. Iya, nanti habis disidang, bayar di kasir, terus keluar struknya.
Jenis tilang: Tidak pakai helm. Biaya: Rp. 50,0-
Jenis tilang: Pakai helm, tapi tidak pakai perasaan. Biaya: Siksa kubur.
Bebas, Rim!

Karena di luar panas, kami masuk ke ruangan. Dan ternyata lebih panas.
Di dalam, aku menemukan si Tukang Kasir yang tadi dicari. Di mejanya bertumpuk uang yang sudah disusun agak rapih.  Lumayan, tuh, buat beli mi instan berdus-dus untuk stock di kostan. Hehe.

Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas. Aku dan Hanum mulai cemas, karena jam sepuluh ada kuliah lagi. Namun, tidak lama dari itu, nama Hanum dipanggil. Aku pun maju untuk mewakili Hanum (Sssst… aku yang mewakili, soalnya Hanum belum punya SIM). Lagi pula aku yang salah, meminta Hanum untuk membawa motor. Maaf, Numeee. >.<

“Hanim? Harim?” kata Hakimnya.
“Hanum, Pak.”
“Oh, Hanum…”
“Saya Rima, Pak.”
“Loh? Kamu siapanya? Pacarnya, ya?”
“Hah?? Bukan, Pak. Bukan… saya temennya. Lagian, Hanum, kan, cewek…”
“Ya udahlah, udah… nggak apa-apa…” kata Bapak Hakim yang Terhormat, yang seolah-olah menganggap aku-pacaran-sama-cewek-juga-nggak-masalah.
Lalu satu ruangan sidang yang 97% lebih didominasi oleh cowok itu pada tertawa. Yak. Jadi….
SIDANG MACAM APA INI, YA TUHAAAAAN?!
NGGAK ADA SEREM-SEREMNYA.
MALAH LAWAK.
BHAAAAAY MAKSIMAL UNTUK BAPAK HAKIM.

Nggak sampai lima menit, sidang selesai. Aku membayar dan langsung ke kampus lagi.
Aku dan Hanum terlambat. Alhamdulillah masih diperbolehkan masuk.
Skip.
Kuliah selesai. Masih ada waktu satu setengah jam lagi, aku berniat melanjutkan desain spanduk untuk suatu acara. Aku pun balik ke kostan.
Dan inilah puncaknya kejutan di bulan September.
Aku parkir motor.
Aku masuk kostan.
Aku masuk kamar.
Daaaaaan.
Yak!
JENG-JEEEEENG.
Laptop aku nggak ada.
Yang ada hanya tas laptop, charger laptop, batere laptop yang sengaja aku lepas dan kutaruh di lemari, juga coolingpad.
Sudah kucari. Sepertinya laptop aku… diambil orang. Entah siapa. Aku nggak berani nuduh siapa-siapa. Aku bingung. Ini ketiga kalinya kostan aku kehilangan laptop, dengan korban yang berbeda.
Aku nggak nangis sampai kostan benar-benar sepi.
Data aku. Kenangannya banyak di sana. Semuanya. Hilang.
Astagfirullahaladzim.

***

Kejutan berturut-turut di bulan September. Terima kasih, September. Sangat berkesan. \o/
Di balik kejutan-kejutan ini ada hikmahnya.
Satu. Jangan ngobrol ketika sedang mengendarai. Baik mengendarai motor, mobil, atau buraq.
Dua. Jangan ganti-ganti lampu stop di belakang motor. Biarkan dia apa adanya.
Tiga. Jangan taruh laptop atau barang berharga lainnya sembarangan. Selagi masih bisa dibawa, lebih baik dibawa saja ke mana pun kamu pergi.
Empat. Jangan berpergian dengan meninggalkan rumah atau kamar dalam keadaan tidak terkunci. Pastikan rumah atau ruangan itu terkunci lebih dulu.
Lima. Jangan takut sama Hakim. Hakim itu nggak serem.
Enam. Rima itu normal. Nggak pernah dan nggak akan pacaran sama cewek.
Tujuh. Mohon maaf, kalau aku jadi jarang ngeblog. Rima udah nggak punya laptop lagi. Tapi, gimana pun caranya, aku usahain tetap konsisten ngeblog.
Delapan. Semangaaaat untuk kita semuaaaa!
Sembilan. Terima kasih udah baca postingan yang panjang ini.
Sepuluh. Ya udah. Gitu aja. 

Mainan Baru



Beberapa Minggu yang lalu di depan MOS (Mall of Serang)….

“Ihhh, lucuuu!”
“Ihhh, iyaa, lucuuu!”
“Kamu mau nggak?” aku berbisik ke Hanum.
“Maauuu,” teriak Hanum tertahan.
“Beli, yuk?” masih dalam bisik-bisik. Hanum mengangguk.

Setelah bertanya soal jenis, harga, dan sebagainya, Aku dan Hanum pun memutuskan untuk memikirkannya terlebih dahulu. Pembelian pun ditunda.

***

Seminggu setelah beberapa Minggu yang lalu di depan MOS….

“Bang, jadi beli yang kecil, yang nggak bisa besar itu.”
“Yang ini?” jawab abangnya.
“Iya,” kataku. “Num, pilih warna apa?” tanyaku ke Hanum.

Hanum memilih warna putih – abu-abu.

“Yang mana, Rim?” kata Hanum.
“Bingung.... pilihin, dong.”
“Yang ini aja,” kata abangnya seperti tidak sabaran. Aku memang bingungan.
“Coklat? Lucu, sih… nggg… yang panjang umur ada nggak, bang?”
“….”

Hari menjelang sore. Singkat cerita, kami jadi membeli dan balik ke kostan.

***

Dari tadi aku belum memberi tahu apa yang aku dan Hanum beli, ya? Atau kamu sudah bisa menebaknya? Whoa. Hebat. Kamu dukun, ya?

Jadi, yang aku dan Hanum beli itu adalah…

Kelinciiiii!


Uwuwuw~

Sudah lama aku ingin punya hewan peliharaan dan itu kumasukkan ke dalam resolusi 2015-ku. Ehehe. Kebetulan Hanum juga ingin. Akhirnya kami beli sepasang, cewek-cowok. Satu kandang. Tenang saja, mereka sudah dimuhrimkan oleh babang penjualnya.

Sempat berdebat mengenai: di mana kelinci-kelinci suci ini akan diletakkan?
Kami pun sepakat untuk merawatnya bergantian. Kadang di kostan aku, kadang di kostan Hanum.

Setelah membeli, hari itu juga kelinci-kelinci suci dibawa ke kostan Hanum. Sampai di kostan, wajah kami seperti bocah yang memiliki mainan baru. Bahagia sekali. Melihat kelincinya bergerak ke sana – ke mari. Lucu sekali. Bahagia sesederhana ini.

Namun, ada yang aneh. Kelinci-kelinci itu tidak mau makan peletnya. Iya, abangnya bilang, kalau biasanya kelinci-kelinci yang dia jual dikasih pelet. Di tempat jualnya pun aku melihat kelincinya memang mau makan pelet. Aku berpikiran positif aja, mungkin mereka masih kenyang.

Aku dan Hanum pun meninggalkannya sebentar untuk pergi rapat. Para kelinci dijaga oleh teman-teman di kostan Hanum.

***

Selesai rapat, aku membuka henpon dan mendapat kabar dari teman kostan Hanum, kalau kelinci yang putih abu-abu itu lagi sakaratul maut. Dia kejang-kejang. Aku dan Hanum panik. Karena Hanum sedang ada urusan lain, jadi aku pulang duluan.
Baru sampai di kostan aku, aku mendapat kabar lagi, kalau kelincinya sudah meninggal. Rasanya ingin menangis, tapi kutahan. Langsung kuhampiri ke kostan Hanum. Kudapati si kelinci sudah terbalut kain dan terbujur kaku. Aaaaaah. Bayangkan kesedihan seseorang yang baru saja bahagia dengan kelinci barunya, lagi sayang-sayangnya, lalu ditinggal pergi.
Ditinggal pas lagi sayang-sayangnya itu rasanya…. Ah, sudahlah.

Di tengah dinginnya angin malam, dengan perasaan sedih dan si kelinci di dekapku yang semakin membeku, aku berjalan menuju suatu tempat untuk menguburkannya. Aku menggali kuburan untuk si kelinci, dibantu juga oleh teman-temannya Hanum. Nggak beberapa lama, Hanum datang dan ikut bantu menguburkan.

Lumayan lama menggali kuburannya, tapi nggak sebanding dengan hasilnya. Kuburannya tidak begitu dalam. Sulit sekali menggali tanahnya. Tanahnya keras dan banyak batu. Karena kami nggak tahu di mana ada tanah gembur, terpaksa kami menguburnya di sana. Ya, meskipun dengan keadaan yang tidak terlalu dalam.

Selesai menguburkan, kami mendoakan si kelinci.

***

Keesokan harinya, aku menjenguk makam si kelinci. Namun, keadaan makam kelinci sudah berantakan. Aku menemukan kain yang digunakan untuk mengafani si kelinci ada di luar makam, sedangkan si kelinci kucari-cari tidak ada di sekitar. Kagetnya bukan buatan. Siapa yang melakukan ini? Kenapa jahat sekali? :’(

Entah ke mana si kelinci. Menurutmu ke mana? Dimakan kucing-kah? Atau sudah dijemput ke padang Mahsyar? Aku tidak tahu…. :’(

Ya sudah… sekarang aku sudah ikhlas, kok. Semoga si kelinci bahagia di surga. Aamiin.

Kini aku hanya memiliki satu kelinci yang berwarna coklat. Aku dan Hanum bergantian merawatnya.
Sejak merawat kelinci, kami jadi punya mainan baru. Mainannya bisa menghilangkan stress. Canggih sekali.
Sejak merawat kelinci, kami jadi sering pergi ke pasar membeli sayuran untuk si kelinci coklat. Dan kami punya tempat langganan yang sering memberikan kami sayuran gratis. Hehe. #AkuCintaGratisan

Sampai postingan ini dibuat, si kelinci coklat sehat sentosa. Dia makannya banyak. Karena dia nggak bisa membesar, dia jadi memanjang. Badannya panjang. Telinganya panjang. Kukunya panjang. Kumisnya panjang. Bulunya panjang. Semoga umurnya juga panjang.

Karena aku tidak ingin kehilangan si kelinci lagi, aku dan Hanum memberinya sebuah nama.



Perkenalkan!
Nama lengkap : Panjang Umur
Nama panggilan : Caca
Jenis kelamin : Perempuan
Umur : Sekitar 3 bulan
Hobi : Makan, eek, dan pipis
Cita-cita : Dokter
Status : Lajang (Tapi sebentar lagi taken. Aku dan Hanum sedang mencarikan pasangannya.)

Ingin mengenal Caca lebih dalam? Dekati dulu pemiliknya. Aku. Ehm.
Jangan dekati Hanum. Nanti aku cemburu.
Huwahahaha.
*Terbang*