Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Kacang Rebus dan Harapan



Entah kenapa kacang rebus menjadi makanan favoritku. Mungkin, karena kacang rebus mengingatkanku pada dia yang tak pernah memandangku lama. Dia selalu menjaga pandangannya dariku. Ah, mungkin dia tidak tertarik denganku. Lalu, kalau memang tidak tertarik, mengapa dia mengajakku ke pasar malam dan membelikanku kacang rebus? Aku tak mengerti.

Sudah seminggu aku tidak masuk sekolah, karena kebanyakan makan kacang rebus. Aku terlalu menyukainya. Bodoh. Dan sekarang aku tidak boleh makan kacang rebus lagi. Rasanya aku semakin jauh dari dia. Aku rindu.

Kutatap tiga butir obat dari dokter. Ini harus kuminum. Sekarang obat yang ketiga. Susah sekali meneguknya. Obat ini mungkin memang membantu menghilangkan rasa sakitku, namun tak bisa menghilangkan rasa rinduku.

“Susah, ya? Mau kubantu?”

Suara yang muncul dari balik pintu mengagetkanku.

“Tono!” Kurasakan pipiku bersemu.
“Hai, ini bunga untukmu,” katanya sembari menatapku, kali ini lama.

Seketika aku merasa sembuh.

Dibantunya aku untuk meminum obat. Tak ada rasa pahit, semuanya terasa manis jika bersama Tono, termasuk obat ini. Tono, dia memang calon dokter kebanggaanku. Tanggannya seperti memiliki sihir khusus untuk menyembuhkan orang-orang.

“Nah, gitu, dong, diminum obatnya… Kau harus lekas sembuh, kan sebentar lagi akan menghadapi Ujian Nasional dan tes Universitas,” katanya dengan lembut. Ada perhatian di dalam kalimatnya. Aku mengangguk.

Selanjutnya kami hanya berbincang dan tertawa lepas. Tanpa dia sadari, ada rindu yang diam-diam menguap dari kepalaku. Ini yang kusuka, dia selalu bisa membuatku merasa nyaman. Perasaan yang tak bisa kudapatkan dari yang lainnya. Bagaimana bisa aku melepasnya pergi? Aku ingin selalu bersamanya….

“Oh, iya. Bulan depan aku akan wisuda,” kata Tono berseri-seri.
“Sungguh??” kataku setengah berteriak. Oh, mataku hampir saja keluar dari tempatnya. Tono mengangguk bersemangat.

Tono memang anak yang cerdas. Aku hanya tak percaya dia bisa lulus lebih cepat dari yang aku bayangkan. Tak kuasa aku menahan rasa bahagia, kurengkuh tubuhnya, kuberikan pelukan hangat. Lima menit kami tenggelam dalam pelukan. Entah, seperti tak ingin saling melepaskan. Ini sudah terlalu jauh untuk hubungan yang dibilang pertemanan. Aku tersadar dan melepaskan pelukan itu. Aku menatap wajahnya. Ada yang berbeda, mata itu terlihat sendu. Pertama kalinya aku melihatnya seperti itu.

“Kenapa?” tanyaku bingung.
“Maafkan aku, Anna.”

Dia kembali memelukku, aku tak mengelaknya. Kembali sunyi. Hanya terdengar suara detak jantung yang berdegup cepat, entah milikku, miliknya, atau mungkin keduanya. Perlahan kenangan-kenangan saat pertama kalinya kami bertemu, saat bermain di pasar malam, dan kacang rebus itu terputar ulang.  Akankah kita membuat kenangan lagi? Bersama-sama melewati hari? Selalu ingin melewati tiap detiknya bersamamu. Melihat senyummu di setiap pagi. Pasti bahagia sekali rasanya. Namun, aku merasa tidak akan pernah dapat mewujudkannya. Entahlah, wajah Tono saat ini yang menghentikan semuanya, ‘film’ di masa lalu dan masa depan. Tatapannya mematikan seluruh harapanku.

“Sudah malam. Aku pamit, ya,” kata Tono sambil melepaskan pelukannya.
“Buru-buru sekali. Nanti saja pulangnya…”
“Hahaha. Kamu kan harus istirahat. Anak kecil nggak boleh tidur malam-malam,” katamu meledek. Aku hanya cemberut.
“Kamu cepat sembuh, ya…” Diusapnya kepalaku.
“Iya, terima kasih. Kamu hati-hati, ya,” ucapku getir. Ada perasaan tidak rela, padahal dia hanya pamit pulang. Aku tidak mengerti.

Kuantarnya ke depan pintu. Aku menatap kepergiannya sampai di ujung jalan, hingga punggungnya tak terlihat lagi.

Saat aku kembali ke kamar, aku menemukan sebuah undangan di atas kasur – yang dengan cepat kuketahui siapa pengirimnya.


Dia akan menikah.


***

Taraaaaa! Cerpen lagi~ Dan kali ini bukan kecoa. Yey! Akakakaka. :p
Sedikit curhat. Awalnya ini cerpen singkat yang dibuat dalam waktu 5 menit. Benar-benar singkat, dan belum seperti ini. Akhirnya diperbaiki dan ditambah-tambah lagi ceritanya biar cantik, dan jadilah seperti ini. Bagaimana? Kasih kritik dan sarannya, dong, Kakaaak~
Maaf, ya, kalau ada kesamaan tokoh, tempat, maupun cerita. Ini hanya cerita fiksi, kok. Sungguh.
Semoga kamu nggak bosen baca cerpen aku. Hahaha.


Terima kasih. ^^

Pengorbanan



“Mau sampai kapan kamu memandangi cermin seperti itu?”

Dia tersentak. Mencari sumber suara yang baru saja didengarnya. Menoleh ke kanan dan ke kiri, namun tak menemukan apa-apa. Dan saat menoleh ke belakang, dia melihatku. Diam sebentar, kemudian perlahan ia mulai berjalan ke arahku.

Jarang-jarang ada yang mau menghampiriku lebih dulu. Kupasang senyum semanis mungkin. Aroma tubuhnya sudah tercium, begitu dekat. Aku memejamkan mata lekat-lekat. Saat kubuka mata, ternyata dia sudah melewatkanku dan masuk ke dalam kamarnya. Ah, lagi-lagi… batinku.

“Zahra, kamu kenapa?” kataku.

Pintu itu tak sepenuhnya tertutup. Ada celah kecil, kumemandanginya dari sana. Zahra terlihat sedih dan meringkuk di dalam selimut. Aku tak berani mendekatinya.

“Aaaaargh! Aku lapaaar,” Zahra berteriak lumayan kencang, “Tapi kamu nggak boleh makan, Zahra! Nggak boleh! Ini sudah tengah malam! Lihat, lemakmu bergelambir ke mana-mana. Kamu harus diet!” Zahra memaki dirinya sendiri. Air matanya berhasil keluar. Tangisnya menderu, hingga membangunkan teman di kamar sebelahnya.
  
“Zahra, kenapa kamu menangis?”

Aku mengenal gadis itu, namanya Meli. Teman baik Zahra, katanya. Entah mengapa, aku tak suka dengan Meli. Aku pernah melihat Meli berciuman dengan kekasih Zahra, saat itu Zahra sedang di kamar mandi.

Kumelihat Meli mengusap pipi Zahra. Ah, aku pun ingin menghapus air matanya. Suatu kehormatan bagiku, jika kubisa melakukan hal itu.

“Aku lapar, Mel…”
“Makanlah, Zahra…”
“Tapi kan…”
“Tapi apa? Masih saja kau mendengar kata-kata pacarmu itu? Kalau dia memang benar-benar sayang, dia akan menerima kamu apa adanya. Yang terpenting itu kesehatanmu!”

Kemudian, mereka berpelukan. Kumelihat ada sesuatu yang licik di balik senyum Meli. Membuatku semakin kesal.

Setelah Meli kembali ke kamarnya, Zahra berjalan ke arah dapur. Ia memasak sesuatu.

Setelah beberapa menit, masakannya sudah matang. Zahra menatap makanannya dengan penuh keraguan. Aku yang melihatnya pun seram. Semangkuk mi instan dengan telur setengah matang dan sepiring nasi. Ingin kumelarangnya, namun aku tahu itu akan sia-sia.

Aku memang sayang dengan Zahra, meskipun Zahra sudah memiliki kekasih. Aku ingin Zahra memperbaiki pola makannya, bukan berarti aku tak bisa menerima dia apa adanya, tapi aku ingin yang terbaik buat Zahra.

“Ah, aku mau cuci tangan dulu, deh,” kata Zahra. Terlihat sekali ia sedang menutupi keraguannya.

“Hati-hati ya, Zahra. Di kamar mandi licin, takut kepeleset.” Lagi-lagi aku diabaikannya. Tak apa, sudah biasa.

Aku menatap makanan Zahra. Tekadku sudah bulat. Perlahan aku mulai melangkahkan kaki, mendekati makanan itu. Aku tahu, mungkin ini salah. Aku pun masing ingin melihat senyum Zahra dan mendengar tawanya tiap hari. Tapi, aku harus merelakan itu. Sebab, terkadang sayang itu butuh pengorbanan. Tak apa, ini semua untuk kebaikan Zahra.

Maafkan aku, Zahra…”


Ketika Zahra kembali...

“AAAAAAAAAA! APA INI?! ADA KECOA DI MAKANANKUUU!” teriak Zahra.
“Gimana ini? Persediaan makananku sudah habis... Ah, sudahlah. Mungkin aku memang tidak diperbolehkan untuk makan tengah malam.”

Aku yang mendengarnya, tersenyum. Dibuangnya semangkuk mi instan ini, beserta aku di dalamnya.


“Selamat tinggal, Zahra…”

***

Halooo. Terima kasih sudah membaca. :)
Gimana cerpennya? Minta pendapatnya, dong. Aneh, ya? Hahahaha. Ya, maaf. :p
Cerpen ini dibuat dalam rangka... kangen aja udah lama nggak nulis cerpen. Lagi kangen-kangennya gitu pengin nulis cerpen, eh, ada kecoa lewat. Muncullah sebuah ide, kemudian aku tuangkan ke dalam blog ini. Jadi, maaf saja kalau agak random. Ehehe.

Semoga suka. \o/


Berawal Dari Hari Sabtu


Ini hari Sabtu. Jadwal Azizah membeli kue putu. Belinya di mamang Kiptu. Sampai di situ, Azizah bingung kenapa harus beli kue putu dan di hari Sabtu. Menurutmu, kenapa Azizah harus membeli kue putu di hari Sabtu? Entahlah, ia pun tidak tahu mengapa begitu. Biarkan itu menjadi misteri para kutu yang selalu menggerutu di balik batu.

Persetan dengan para kutu. Azizah benci kutu. Sudah setahun ini Azizah memelihara kutu. Iya, Azizah benci kutu, tapi memelihara kutu. Kau tahu, Azizah tak bermaksud begitu. Mereka hinggap dan berkembangbiak begitu saja hingga membentuk persekutuan kutu. Azizah lelah menggerutu. Ia harus mencoba suatu cara yang bermutu.

Obat kutu. Azizah harus mencoba itu. Azizah pun menunggu hari Sabtu untuk pergi ke toko mamang Kiptu. Kini Azizah tahu, yang ia butuh bukanlah kue putu, melainkan obat kutu. Lalu, mengapa harus di hari Sabtu? Karena selain hari Sabtu, Azizah selalu menggerutu seperti para kutu. Maka, Azizah memilih Sabtu, agar tidak menggerutu seperti para kutu di hadapan mamang Kiptu yang ia sayangi itu.

Ini hari Sabtu. Jadwal Azizah membeli obat kutu. Belinya di mamang Kiptu. Sampai di situ, Azizah tak kunjung beranjak sambil memegangi obat kutu. Bingung, tatap mamang Kiptu. Hingga datang neneknya nenek mamang Kiptu yang kemudian melempari Azizah dengan batu. Azizah pun beranjak dari situ.

Sesampainya di rumah, yang lebih dikenal dengan orang-orang adalah rumah hantu. Azizah membuang obat kutu itu. Membiarkan para kutu membentuk persekutuan kutu lebih banyak lagi, kemudian bersatu. Sehingga Azizah tetap berkutu dan memiliki alasan untuk pergi ke toko mamang Kiptu di hari Sabtu, lalu membeli obat kutu, dan  melihat senyum manisnya mamang Kiptu yang Azizah sayangi itu.

Kembali


Langit jingga terbentang bangga. Menyelimuti malaikat-malaikat kecil penuh pesona. Dipinggiran gang, ada yang menatap bangga sembari bernostalgia.

Adzan Ashar berkumandang. Malaikat-malaikat kecil berlarian menuju rumahnya masing-masing, kecuali gadis itu. Kini terlihat dewasa, sedang menatap malaikat yang berlarian, seolah ia berada di antaranya.

Gang perumahan itu seketika sepi. Mata gadis itu terlihat sendu. Seperti ada yang dirindu. Masa lalu.

***

“Zahra! Ayo pulang. Ngaji dulu,” ucap Ibunya.
“Nanti, Buu, tanggung.”
“Ini udah sore, Zahra. Nanti telat loh!”

Zahra memajukan bibirnya. Menggemaskan. Disegerakannya mandi, salat Ashar, kemudian berangkat. Zahra pamitan, lalu pergi sendirian. teman-temannya sudah berangkat lebih dulu. Zahra selalu saja datang terlambat. Guru dan teman-temannya sudah hafal.

***

Tak beberapa lama kemudian, malaikat-malaikat kecil tadi muncul kembali dari rumahnya. Kini mereka beramai-ramai memakai pakaian berwarna-warni. Tak lupa yang perempuan memakai kerudungnya, laki-laki memakai pecinya. Gadis itu tersenyum. Ia tahu akan ke mana malaikat-malaikat kecil itu. Ia membuntutinya sampai tempat.

TPA Al-Ikhlas.

Belajar mengaji setiap sore, sudah menjadi rutinitasnya ketika kecil. Tempat itu.. Dinding itu.. Meja kayu berukuran kecil dan panjang itu yang menjadi saksinya. Lemari tempat menyimpan Al-Quran itu pun masih ada pada tempat yang sama, kini ia sudah semakin rapuh.. Sama seperti dirinya.

Satu persatu malaikat kecil itu mengaji bergantian. Suara yang melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran maupun Iqra, meneduhkan hati bagi yang mendengarnya. Perlahan gadis yang bersembunyi di balik pohon itu memejamkan matanya. Meresapi setiap huruf yang terdengar. Menikmati kedamaian.

***

“Habis Ikke aku!” teriak Zahra.
“Ihh, apaan deh. Orang habis Ikke itu Dina. Iyaa kaan, Abi?” tanya Dina sambil bergelayutan dilengan Abi --- panggilan untuk guru ngajinya.
“Aku duluaan. Orang aku udah ngantri dari tadi,” sambar Toni.
“Eh.. Sudah-sudah jangan berantem. Nanti kan kebagian semuanya. Hmm.. Gimana kalau begini saja, yang duduknya paling rapi nanti Abi pilih ngaji duluan.” Setelah sang guru ngaji bilang begitu, anak-anak langsung pada duduk pada tempatnya masing-masing. Teratur. Guru yang cerdas..
“Yak, Zahra duluan,” ucap sang Abi. Yang lain pada bersorak, “Huuuu,” Zahra hanya cengar-cengir lucu.

***

Gadis itu tersenyum, menatap malaikat-malaikat kecil berlarian di halaman masjid. Abi sampai lelah meneriakinya. Mereka diamnya hanya sesaat, kemudian begitu lagi, akhirnya dibiarkan. Abi terlihat sudah semakin tua, gadis itu berkata dalam hatinya.

“Siapa yang mau pulaang?” teriak sang Abi.
“Akuuu!”
“Aku! Akuuu!”
“Ayo duduk yang rapi!” Kemudian malaikat-malaikat kecil itu menurutinya.

Doa pulang menggema dalam masjid. Satu persatu mereka mencium tangan Abi, berpamitan. Gadis itu membenarkan posisinya agar tak terlihat.

***

“Ayo lari! Yang sampe sana duluan, dia yang menang,” ujar Zahra sambil menunjuk satu rumah di ujung sana.
“Ayo! Siapa takut!” kata Ikke. Dan yang lain mengikuti.
Zahra mulai menghitung, “Oke. Satu.. Dua… Tigaaa!”

Serentak semuanya ikut berlari. Zahra yang paling bersemangat. Hingga ia tak melihat ada polisi tidur di depannya. Zahra sukses tersungkur di atas aspal. Teman-temannya langsung berhenti dan menghampiri Zahra. Mereka kira Zahra akan menangis, ternyata tidak. Zahra langsung bangun dan tertawa. Menertawakan kebodohannya. Menertawakan lututnya yang mengeluarkan darah. Menertawakan bayangan Ibu yang akan mengomelinya kesekian kali karena bajunya sobek.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya teman-temannya.
“Nggak apa-apa kok. Hehehe.”
“Hahahaha. Kebiasaan!”

***

Masjid itu kini terlihat sepi. Malaikat-malaikat kecil sudah pada pulang ke rumahnya masing-masing. Tinggal Abi yang berada di dalam sana. Sendirian. Duduk bersila, menghadap kiblat. Jemarinya memegang tasbih, dan bibirnya tak berhenti mengucap istigfar.

Gadis itu menarik napas dan menghembuskannya perlahan, berusaha menguatkan hati. Kemudian melangkah dengan pasti. Ada yang harus segera diselesaikan. Rindu ini. Jika tidak, waktunya akan segera habis. Entahlah, gadis itu merasa Ayah, Ibu, dan Kakaknya akan segera menjemput. Gadis itu sudah siap. Sebentar lagi..

“Abi..”

Pria yang sudah semakin tua itu menoleh pada arah suara yang memanggilnya. Terlihat dari matanya yang seketika membulat, ia terkejut. Posisi duduknya berubah, perlahan ia mulai berdiri, menghampiri gadis itu..

“Zahra…”

“Abi, Zahra minta maaf. Zahra menyesal sudah mengecewakan Ayah, Ibu, Kakak, dan Abi. Ayah, Ibu, dan Kakak sudah pergi. Sekarang Zahra nggak punya siapa-siapa, cuma ada Abi, orang terdekat Zahra. Beri Zahra kesempatan untuk memperbaiki diri, Abi..” ucap Zahra. Suaranya mulai bergetar.

“Abi, Zahra ingin mengaji lagi..”


Malam Bersama Ayah



“Ayah, ini tehnya..”

Malam ini langit pekat. Seperti secangkir teh yang dibuatkan Ibu Azizah, hangat. Terlalu pekat, hingga tak ada satu pun bintik di sana. Hanya sesekali ada yang berkilat. Ada yang dipersiapkan langit di sana, rintik.

Perlahan udara menyentuh kulit Azizah. Dingin. Sama seperti perasaannya saat ini. Ada yang membeku di dalam hatinya, dan sedang berusaha ia cairkan.

Sudah lama Azizah tidak duduk berdua dengan sang Ayah, seperti malam ini. Canggung, mungkin. Padahal Ayahnya sendiri. Dari dua kakak laki-lakinya, Azizah yang paling dekat dengan sang Ayah. Kata orang, biasanya anak perempuan lebih dekat dengan Ayah dari pada Ibunya. Begitu pun sebaliknya. Tapi tidak, menurut Azizah, semuanya sama. Sama-sama dekat. Memang, Ayahnya cenderung lebih banyak diam dan terkesan tidak peduli. Padahal sebaliknya. Dalam diam, sang Ayah paling mengerti apa yang Azizah mau.

“Ada apa, Nak?” Ucap sang Ayah sambil membaca buku tentang keagamaan.

Azizah terdiam. Menatap langit malam yang terasa kelam. Perlahan matanya mulai terpejam. Teringat akan masa kecilnya yang bersemayam.

***
Azizah kecil dulu nakal. Tidak bisa diam. Jika ada suatu hal yang membuatnya penasaran, pasti akan dicobanya.

Pernah Azizah menemukan pisau di halaman samping rumahnya. Dengan sifatnya yang serba mau tahu, diambilnya pisau itu. Kemudian ia memakainya untuk bermain masak-masakan. Azizah yang bermain sendirian itu mulai sok tahu dan memakainya seolah-olah ia adalah chef ternama di dunia. Daun-daun yang asal dipetiknya itu dengan tragis teriris-iris menjadi bagian paling kecil. Hingga diirisan daun paling akhir, jari mungilnya itu ikut teriris, tepat di telunjuknya. Melihat darah segar yang mengalir, Azizah kecil menangis.

Ayah yang mendengar tangisan Azizah langsung segera menghampiri. Memarahinya dengan bijak. Tangis Azizah makin pecah. Kemudian sang Ayah pun menenangkan, mengobati sembari menasehati. Sejak saat itu Azizah lebih berhati-hati dan tidak bersikap seenaknya lagi.

***
Tanpa sadar Azizah mengelus jari telunjuknya, bekas goresan pisau.

“Zizah sudah salat Isya?” Tanya sang Ayah, membuyarkan lamunan Azizah.
“Sudah, Yah..”
“Alhamdulillah.. Zizah kenapa diam saja? Mau minta bantuan Ayah buat ngerjain tugas lagi, ya?” Pertanyaan sang Ayah membuat tawa Azizah pecah.
“Bukaaan. Ayah maaah.” Sisi manja Azizah keluar.

Pikirannya kembali mengambang dan menepi pada belasan tahun silam, ketika Azizah masih di bangku Sekolah Dasar. Seperti ada yang memutar film, kembali pada masa lalu.

***
“Jangan lupa salat, ganti baju, makan, kerjakan PR, ya. Setelah itu baru boleh main.”
“Iyaa, Ayah.”

Ayah selalu mengantar dan menjemput Azizah ketika sekolah. Setelah itu, sang Ayah baru pergi ke kantornya lagi.

Azizah pulang ke rumah dengan bibirnya yang cemberut, lucu. Bingung dengan tugas yang diberikan gurunya dan harus segera dikumpul besok. Namun, kebingungannya seketika hilang ketika ada temannya yang memanggil di depan, mengajaknya untuk bermain. Azizah langsung mengganti seragamnya dengan baju dan celana, salat, makan, kemudian pergi keluar dengan sepeda kebanggaanya, hadiah dari Ayah ketika Azizah berulang tahun.

Azizah kalau sudah pergi main, tidak ingat waktu lagi. Tak terasa waktu sudah sore. Azizah pulang untuk mandi, salat dan pergi mengaji di TPA (Tempat Pembelajaran Al-Quran). Ayah selalu mengajarkan Azizah agar jangan lupa salat dan mengaji. Karena hanya itu yang akan kita bawa ketika meninggal nanti. Amal ibadah dan perbuatan di dunia ini.

Ketika makan malam bersama, Azizah dan keluarganya membuka obrolan kecil. Kedua kakaknya bercerita tentang sekolahnya, Azizah bercerita tentang petualangannya tadi siang dengan teman mainnya. Suasana meja makan seketika langsung ramai.

Selesai makan, Azizah membantu Ibu. Setelah itu baru ikut menonton TV bareng Ayah dan dua kakak laki-lakinya. Azizah yang sudah benar-benar kelelahan itu akhirnya tertidur di pangkuan sang Ayah. Melihat Azizah sudah tertidur, sang Ayah menggendongnya, memindahkan Azizah ke kamar. Selalu seperti itu, jika Azizah ketiduran di ruang tengah. Terkadang Azizah sengaja pura-pura ketiduran agar digendong Ayahnya sampai ke kamar. Nakal, memang. Azizah yang belum sepenuhnya tidur itu merasakan sang Ayah mencium keningnya dan menutupi badannya dengan selimut.

Sulit untuk nyenyak, ada yang mengganggu pikiran Azizah. PR. Iya, Azizah lupa, belum mengerjakan PR yang akan dikumpulkan besok. Azizah panik. Tugasnya itu disuruh membuat gambar. Kebetulan, Ayahnya memang pintar menggambar. Karena mata yang sudah terlalu berat, ingin cepat tidur, Azizah bangun dan menghampiri Ayahnya. Dengan keberanian yang dia punya, Azizah menyampaikan maksudnya ke Ayah. Sudah diduga, sang Ayah memarahinya. Azizah menunduk, merasa bersalah. Melihat reaksi Ayah yang sepertinya tidak peduli itu pun, akhirnya Azizah pasrah menghadapi gurunya besok.

Keesokan paginya, Azizah melihat selembar kertas di meja belajarnya. Kertas itu berisi gambar yang dia maksudkan ke Ayah tadi malam. Azizah terharu. Ternyata Ayah begitu peduli padanya. Azizah langsung menghampiri Ayahnya dan berteriak, “Ayaaaaah! Terima kasih gambarnyaa!”

***
Ah, ya, Ayah selalu menjadi hero buat Azizah. Ayah menjadi segalanya buat Azizah. Ingin rasanya bisa lebih lama lagi bersama Ayah. Dua puluh empat tahun ini belum cukup. Belum puas berada di samping Ayah. Azizah tak dapat membayangkan, di kehidupan sehari-harinya nanti tanpa Ayah di sisi. Namun, cepat atau lambat Azizah akan menghadapinya. Sebuah hidup yang baru.

“Ayah, Azizah mau bareng Ayah terus. Ayah ikut Azizah, ya?”

“Hahaha. Azizah sayang.. Semua orang pasti akan mengalami ini. Ayah tidak bisa bareng Azizah terus-terusan. Ada saatnya Azizah harus sendiri. Sekarang malaikat kecil Ayah sudah dewasa, harus bisa lebih mandiri lagi. Lagi pula, Azizah tidak akan sendiri, ada Fadli bukan? Ayah yakin, Fadli anak yang baik. Dia pasti bisa menjadi imam yang baik,” ucap sang Ayah menenangkan. Dielusnya kepala Azizah dengan lembut.

“Iya, Ayah.. Terima kasih… Azizah sayang Ayah…” Pipi Azizah mulai basah. Dipeluknya sang Ayah dengan erat.

“Ya sudah.. Azizah istirahat, gih. Besok akad nikahnya. Azizah harus jaga kesehatan. Nggak lucu, kan, kalau nanti mempelai wanitanya sakit?” Ucap Ayah menggoda Azizah.

“Ihh Ayaaah… Iya-iya… Azizah masuk ke dalam duluan, ya. Ayah juga, jangan tidur malam-malam.” Azizah bangun dari duduknya, kemudian mencium kening sang Ayah, lembut.


Malam ini adalah malam terakhir Azizah berada di sisi Ayah. Besok Azizah akan menikah. Perasaan sedih dan bahagia itu menyatu, kemudian pecah.

Langit sudah siap menjatuhkan rintik. Sama seperti Azizah yang sudah siap menjalani hidup barunya bersama Fadli, air mata pun kembali menitik.


***

Haloo. Udah 2 minggu aku nggak ikut #memfiksikan. Kalo nggak salah ini #memfiksikan yang ke-10, ya? Hahaha.
Kali ini bikin cerpen lagi, tentang Ayah.
Pas banget, nih, lagi kangen sama rumah. Yaa.. Biasalah sindrom anak kos emang begini. Pffft~

Oke. Semoga terhibur dengan cerpen aku yang ala kadarnya. Hehe. :)

BEGAL



“Berhenti! Turun dari motor ini sekarang! Cepat!”

Aku yang malam-malam pergi keluar sendirian, tidak menyangka akan mengalami hal yang sedang marak di kalangan masyarakat dan sudah tidak asing lagi bagiku. Pembegalan.

Lelaki yang diperkirakan seumuran denganku. Seorang remaja. Mulai mengeluarkan senjata tajamnya. Pisau yang sepertinya sudah terasah dengan baik. Kilatannya begitu tajam. Sama seperti matanya.

“Jangan, Bang, aku harus pergi beli obat buat Adikku.”

Kata-kataku seperti tak digubrisnya. Dia mendorongku, tubuhku mendarat dengan cepat di jalan aspal. Aku mengaduh dengan kencang, namun tak satu pun yang mendengarnya. Lokasi ini memang lumayan jauh dari pemukiman. Aku tahu di sini memang sepi. Namun, hanya ini jalan satu-satunya menuju kota yang memiliki apotek.

“Emang gue peduli?! Sini tas lo!”

Sekuat mungkin aku mempertahankan tas itu. Di sana ada beberapa lembar uang yang kukumpulkan dengan susah payah. Bekerja sejak pagi hingga sore hanya untuk sesuap nasi dan obat untuk Adikku. Tidak seharusnya anak seumuranku pergi bekerja, seharusnya fokus saja belajar di sekolah. Berkutat dengan buku-buku pelajaran, bukannya malah berkutat dengan penumpang dan mengantarnya ke tempat tujuan. Entah kenapa perasaan ini begitu kuat. Aku merasakannya begitu nyata.

“Jangan, Bang, aku harus segera beli obat. Satu-satunya keluarga yang kupunya hanya Adikku.”

Kurasakan bagian runcing itu berada tepat di leherku, dan aku menahannya sekuat tenaga dengan bagian tanganku. Sedikit lagi. Nafasku sudah tidak beraturan. Aku harus bisa melawannya. Demi Adik…

“A.. ak.. aku mohon, Bang, jangan sakiti aku. Adikku masih kecil. Ia tidak punya siapa-siapa lagi selain aku.”

CREEEP!
Aku merasakan pisau itu dengan sempurna masuk ke dalam leherku. Hingga seluruh bagiannya tenggelam, lalu diangkatnya lagi pisau tersebut. Aku mulai merasakan aroma darah segar milikku sendiri. Di ujung ajalku, aku bersyahadat. Bersamaan dengan kelopak mataku yang perlahan mulai tertutup, aku memohon agar Adikku dapat melanjutkan hidupnya dengan tegar, dan semoga ini kasus pembegalan yang terakhir.

***

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAH!!” aku berteriak hingga tenggorokanku sakit.

Aku terbangun dengan posisi duduk. Ini mimpi yang sama kesekian kalinya. Mimpi itu, aku merasakan dengan nyata, ujung pisau itu masuk menerobos leherku. Napasku tersenggal, keringat dingin mengalir di pelipisku. Kasus pembegalan selalu menghantui semua orang. Berita-berita di koran, televisi, sosial media, semuanya tentang pembegalan. Karena itu aku selalu gelisah dan tidak pernah keluar rumah. Aku selalu takut. Ketakutan itu hampir membuatku gila. Aku tidak bisa terus-terusan begini. Aku harus keluar rumah!

Pagi ini aku memutuskan untuk pergi keluar. Pertama kalinya aku keluar rumah, sejak seminggu yang lalu. Pagi selalu ramai dengan aktivitas warga, tidak ada yang perlu ditakuti.

Sambil mengendarai motor, kunikmati udara pagi yang selalu kurindukan. Begitu nikmat. Motorku memasuki sebuah kantor yang sudah tidak asing lagi. Aku parkirkan pada tempatnya.

Dengan yakin dan langkah pasti, aku memasuki ruangan kantor.

“Selamat pagi, Nak, ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang bapak-bapak berseragam coklat dan berkumis tebal. Nada bicaranya yang tegas, membuatku agak gugup.

“Selamat pagi, Pak. Nnggg… Tolong… Tolong masukkan saya ke dalam penjara, Pak.”

“Loh, kenapa?”

“Saya… Saya akhir-akhir ini selalu mimpi tentang hal yang sama. Pembegalan. Saya mimpi, saya dibegal dengan anak seumuran saya. Motor dan tas saya diambil, kemudian leher saya ditusuk pisau.”

“Lalu, apa yang salah?”

“Saya merasa itu begitu nyata. Saya benar-benar merasakan masalah yang dihadapi saya di dalam mimpi. Merasa gelisah, takut, khawatir terhadap Adik, dan juga merasakan sakit ketika pisau itu menerobos leher saya. Dan itu memang terjadi. Kejadiannya sama persis, tepat seminggu yang lalu. Namun, posisinya bukan saya yang dibegal, tapi yang membegal.”

“Jadi, kamu…”

“Iya, Pak. Saya tersangka pada kasus pembegalan seminggu yang lalu. Jadi, sekarang Bapak bisa memasukkan saya ke dalam penjara?”

***

Sejak aku menyerahkan diri, mimpi itu tidak pernah hadir lagi. Anak laki-laki seumuranku, yang kutusuk lehernya dengan pisau, seolah ingin membuatku merasakan bagaimana jika aku berada di posisi korban.  

Sejak aku menyerahkan diri, ini menjadi kasus pembegalan yang terakhir…

…. di daerahku.

Semoga.


***

#memfiksikan yang ketujuh. Temanya Begal. Cerpennya nggak bagus. Buatnya juga buru-buru, dan waktunya udah kelewatan. Yaudah, maafkan tulang rusukmu ini, ya. Lain kali bakal lebih telat lagi. Hahaha. Bercanda~ :')

Semoga suka. Mumumu~


Metamorfosis Tulisan Wortel



Alkisah ada sebuah keluarga kecil di tengah hutan. Sangking terpencilnya, tak pernah ada yang tahu bahwa ada kehidupan di sana, kecuali hewan dan tumbuh-tumbuhan yang ada di dalam hutan.

Keluarga kecil ini membentuk kerajaan sendiri. Kerajaan Wortel. Begitu mereka dan penghuni hutan lain menamainya. Sebab, istana mereka yang sederhana itu dikelilingi oleh tanaman wortel yang tumbuh subur.

Di sana tinggallah seorang Raja bernama Kusmiran, beserta Ratunya bernama Susiah. Raja dan Ratu tersebut dikaruniai 2 orang anak. Anak pertama bernama Hesti Aprina sebagai Putri Wortel, dan anak kedua bernama Heru Arya sebagai Pangeran Wortel.

Sebelum mereka membentuk kerajaan di dalam hutan, sebenarnya mereka berasal dari kerajaan yang berbeda. Kusmiran dari Kerajaan Terong, dan Susiah dari Kerajaan Cabe.  Dua kerajaan yang selalu berselisih dan tidak jarang saling berperang, hanya untuk menunjukkan siapa yang paling hebat. Oleh karena itu, Kusmiran dan Susiah tahu kalau orangtua mereka tidak akan pernah berdamai. Akhirnya, Kusmiran dan Susiah yang sudah terlanjur saling jatuh cinta itu memutuskan untuk kawin lari dan menikah di dalam hutan. Dengan kudanil sebagai penghulunya dan alam yang menjadi saksinya.

Sejak saat itu, keluarga wortel akrab dengan harimau, macan tutul, kelinci, komodo, dan penghuni hutan lainnya. Raja dan Ratu sangat bersyukur karena bisa tinggal dengan damai di dalam hutan, namun tak jarang mereka juga merindukan kerajaannya masing-masing.
"Yang mulia, aku rindu Ayah dan Ibu," ucap sang Ratu dengan sendu.
"Aku pun begitu, sayang. Namun, kau tahu sendiri, tidak akan pernah ada yang bisa membuat Kerajaan Terong dan Kerajaan Cabe berdamai. Kecuali.. Kecuali keajaiban." ujar sang Raja sembari merangkul istrinya. Berusaha menenangkan.

Raja dan Ratu duduk di balkon sambil menatap lurus ke arah luar hutan. Menerawang. Berharap ada keajaiban datang. Tanpa menyadari, bahwa dari tadi ada yang menyimak pembicaraan mereka. Heru Arya sang Pangeran Wortel.

Pangeran paling tidak bisa melihat orangtuanya bersedih. Pangeran pun pergi ke hutan bagian selatan dengan menunggangi elang kesayangannya. Dia sudah biasa pergi ke sana, sekedar untuk menghilangkan keluh kesahnya.

"Meong, tunggu sini, ya. Nanti aku balik lagi," ucap Pangeran sembari mengikat elangnya di pohon.
"Iya Pangeran," jawab si Meong. Semua hewan di hutan ini memang bisa berbicara. Namun, tentu saja hanya keluarga wortel yang bisa berbicara dengan mereka.

Seluruh Kerajaan Wortel tahu kalau Pangeran sangat suka menulis. Di hutan bagian selatan ini ada rumah pohon yang dibangun oleh Raja, Ratu, dan Putri tahun lalu sebagai hadiah ulang tahun Pangeran. Pangeran senang sekali, karena rumah pohon itu sangat sejuk dan nyaman, cocok buat tempat untuk menulis.

Ketika di atas rumah pohon, Pangeran mulai mengeluarkan daun wortel dan bulu ayam dari karungnya. Lalu, ia pun mulai menulis...

Dear diare diary..
Hari ini aku sedih sekali..
Aku ingin memberi keajaiban untuk Raja dan Ratu..

30 menit berlalu... Pangeran sudah selesai menumpahkan keluh kesahnya pada 30 lembar daun wortel. Sekarang Pangeran sudah merasa lebih baik.

Sebelum pulang, ia menaruh 30 lembar daun wortel yang bertuliskan curhatannya itu ke dalam peti. Ia selalu menaruhnya di sana. Peti itu aman, karena selalu digembok dan dikunci. Pada penutup peti itu diberi ukiran nama: Harian Arya. 

Pangeran menatap petinya sejenak, tersenyum. Lalu Pangeran mencium.... keteknya. Ternyata bau. Karena Pangeran bau, dan merasa harus mandi, Pangeran pun pulang bersama elangnya.

***

"Aryaaaa, dari mana saja kamu naak?" teriak sang Ratu sambil membawa bambu runcing.
"Da.. dar.. dari rumah pohon Nyaak," Arya tergagap.
"HAPAAAH?! Sudah berapa kali Mami bilang, jangan panggil Nyak! Panggil MAMI! MA-MI!"
"...."

Setelah diberi ceramah selama 3.600 detik, Arya bergegas mandi, solat, makan, pup, lalu tidur.

***

Keesokan paginya, terjadi kegaduhan di Kerajaan Wortel. Pangeran Wortel menangis meraung-raung dan mencakar-cakar jamban, "HUAAAA KEMBALIKAN KUNCI PETIKUUUU! KEMBALIKAAAN! HUUAAAA DASAR JAMBAN SIALAAAN! HIKS HIKS." Namun, apa daya kunci peti tersebut telah hilang, sirna, musnah, lenyap tanpa jejak. Sejak kejadian itu, Pangeran mengalami depresi selama 1 abad.

Hingga pada abad berikutnya, Pangeran merasa rindu akan menulis. Seperti ada yang berteriak di dalam hatinya, "AKU INGIN MENULIS! INGIN! AKU SANGAT INGIN MENULIS! AKU HARUS MENULIS! OY OY OY! OOOOOYYY OY!" Ternyata hatinya Pangeran wota.

Sebagai kakak yang baik, Putri Wortel dapat mendengar suara hatinya Pangeran yang berteriak. Putri Wortel sedih dan merasa harus membantu adiknya. Ternyata Putri memiliki kebiasaan curhat dengan si Meong. Diam-diam ia pergi ke kandang Meong dan bercerita keluh kesahnya di sana. Meong menanggapinya dengan bijak.

"Jangan sedih lagi Putri.. Pangeran pasti akan segera melupakan kesedihannya. Karena, kesedihan dan kebahagiaan itu datang silih berganti."
"Iya, Meong.. Terima kasih sudah mendengarkan aku curhat."
"Iya, sama-sama, Putri."

Kemudian, mereka pun berpelukan. 

***

Tepat pada saat hari besar panen wortel, yang juga merupakan hari lahirnya Pangeran, Putri Wortel menemukan sebuah telur raksasa di kandang Meong. Kerajaan Wortel kembali gempar. 

"Maaamiii! Paaapiii! Aryaaa! Cepaaaat ke siniiii," sang Putri berteriak tak terkendali.
"Ada apa sayaang?" tanya sang Ratu.
"Kebiasaan deh kakak teriak pagi-pagi," omel sang Pangeran sambil membersihkan beleknya.
"Hoaaaam," sang Raja menguap.
"Coba lihat ini! Si Meong, elang kesayangan kita berteluuuur!"
"HAPAAAAAH?!" teriak ketiganya.
"MEONG! KATAKAN PADA KAMI SEKARANG JUGA, SIAPA YANG MELAKUKAN INI SAMA KAMU?! SIAPA, MENG? JAWAB!" Raja berteriak sambil mengguncang-guncangkan bahu Meong.

Sambil mendekati elangnya, Pangeran berkata, "Meong... Kamu tahu, kan, kalau aku dan keluargaku sangat menyayangi kamu?" tangan Pangeran memegang wajah Meong. "Kamu juga tahu, kan, banyak hal yang sudah kita lalui? tapi Meong, kenapa kamu tidak pernah bilang kalau selama ini kamu itu... wanita tulen?" 

Tidak ingin membuat Meong makin terpuruk, akhirnya keluarga wortel dapat menerima kehadiran sang telur yang tanpa bapak. Mereka pun mengurus, menjaga, dan mengeraminya bergantian. Hingga 224.5 hari kemudian, sang telur menetas.

Tak diduga-duga, yang keluar dari telur tersebut bukanlah seekor elang, tetapi 1 unit komputer beserta perangkat-perangkatnya dan 1 buah modem!

Keluarga wortel hanya melongo, karena tidak mengerti itu jenis spesies apa. Bentuknya sangat berbeda dengan induknya. Sang Meong pun mendekat dan berusaha menjelaskan, bahwa telur itu sebenarnya hadiah untuk Pangeran. Suatu keajaiban. Pangeran sangat senang, dan mencium Meong. Raja, Ratu, dan Putri hanya menatapnya terharu. Kini Pangerannya sudah kembali seperti dulu.

Tentu saja Pangeran belum mengerti cara penggunaannya. Tetapi, karena Pangeran adalah anak yang jenius. Pangeran mempelajarinya secara otodidak, berdasarkan buku panduan yang ada. Dan dari sanalah Pangeran mulai mengenal "blog".

Sementara itu, di dunia lain...
"Loh? Kenapa tiba-tiba jadi canggih gitu?"
"Ya, kan, rentang waktunya 1 abad. Wajar dong."
"Mana bisa begitu!"
"Yaelaah, lontong sayur! Terserah narator, dong!"
"Nnggg..."
"Apa lagi?!"
"Lontong sayurnya berapaan, ya?"
***

Sejak memiliki blog, Pangeran tidak pernah lagi menulis di daun wortel. Tulisan-tulisan di daun wortel itu, Pangeran tidak membuangnya. Biarlah itu menjadi bukti sejarah..

Kini, Pangeran tumbuh menjadi anak yang pandai, cerdas, lincah, luwes, dan bergairah... dalam hal menulis tentunya. Itu terbukti dari beberapa kali Pangeran mengubah nama blognya.

Metamorfosis Blog Tulisan Wortel

Pertama, Harian Arya. Pangeran memberi nama tersebut untuk mengenang curhatan di atas daun wortel yang ia simpan di dalam peti. Peti yang ditinggalkan sang kunci. Sang kunci yang bunuh diri ke jamban. 
Pada akhirnya,  blog yang Pangeran buat ini pun sama nasibnya dengan peti Harian Arya-nya. Pangeran lupa password-nya.

Tidak ingin bersedih lama-lama, Pangeran meneruskan lagi kelanjutan hidup blognya. Kali ini Pangeran menggunakan nama yang berbeda, sebab takut terulang dengan kejadian yang lalu. Dan nama blognya adalah Ocehan Arya. Entah apa yang dipikirkan oleh Pangeran pada saat itu, hatinya sendiri yang bergerak menuliskan nama itu. 
Namun, blog ini pun akhirnya menjadi usang, sebab Pangeran harus belajar dengan tekun untuk menghadapi UNMK (Ujian Nasional Memanah Komodo).

Pangeran Wortel kini sudah makin dewasa, kecintaannya akan menulis kian erat dan keinginannya untuk menjadi seorang penulis terkenal semakin melekat. Ia merasa nama Ocehan Arya ini sudah tidak cocok lagi sama pribadinya, akhirnya ia pun menggantinya dengan Sudut Lain Seorang Penulis. 

Sejak menggunakan nama ini, blognya makin dikenal oleh orang-orang di luar hutan sana, yaitu Kerajaan Terong dan Kerajaan Cabe. Tetapi, tiga bulan kemudian Pangeran merubahnya lagi dengan Tuwor (Tulisan Wortel). Kali ini dengan alasan kepanjangan dan susah diingat.

Lalu, karena Pangeran merasa nama Tuwor itu asing di telinga, dan yang lebih parah, pernah ada yang menyangkanya Tumor. Maka dari itu, Tuwor berubah menjadi Wortel Hidup. 

Dari Wortel Hidup berubah menjadi Tulisan Wortel. Pangeran Wortel tidak ingin melupakan sejarah pertama kali ia menulis di atas daun wortel, selain itu Pangeran beranggapan bahwa wortel memiliki sisi yang ia rasa cocok dengan kepribadiannya. Oleh karena itu, Pangeran memberi nama blognya Tulisan WortelDan pada akhirnya, inilah puncak dari metamorfosis blog Pangeran.

***

"Rajaaaaa! Ratuuuuu!" Pangeran lari tergopoh-gopoh ke balkon.
"Ada apa anakku? Mengapa kamu lari-lari seperti anak kecil?" tanya sang Raja dengan heran.
"A.. A..."
"Apa, Arya?" tanya sang Ratu bingung melihat anaknya tiba-tiba gagap. 
"A.. A... Ada.."
"ADA SETAN?? ADA APA?! Kamu mau jawab, atau Mami kutuk jadi gantugan kunci?!"

Pangeran yang sangat tidak menginginkan untuk berubah wujud menjadi gantungan kunci pun langsung hilang gagapnya.
XAZSSSSSSSS
"Ada Terong-terongan sama Cabe-cabean berkelahi di halaman depaan!"
"Hah??" Raja dan Ratu teriak berbarengan. "Maksud kamu, Terong sama Cabenya lagi tarung tinju?!" teriak sang Ratu.
"BUKAN MIIII. Coba deh lihat ke sana!"

Raja, Ratu, dan Pangeran pun secepat mungkin pergi ke halaman depan. Biar lebih cepat, mereka naik elang. Sampai di depan, Raja dan Ratu tercengang melihat apa yang ada di hadapannya. 

"AYAH... IBU..." ucap Raja dan Ratu berbarengan. Seketika perkelahian antara Raja-Ratu Terong dan Raja-Ratu Cabe berhenti. Tak bisa berkata-kata lagi, ratusan detik mereka habiskan dengan menangis sambil berpelukan. Pangeran dan Putri hanya menatap haru dalam diam.

"Susiah, ini anak-anak kamu?" tanya sang Ratu Cabe.
"Iya, Bu."
"Yaampuuun lucu bangeeet. Gimana buatnya? Eh, ikut Ibu aja yuk, pulang ke Kerajaan Cabe. Ajak anak-anak kamu juga," ucap Ratu Cabe sambil menyubit pipi Pangeran.
"Nnggg gimana ya, Bu.."
"Eh! Enak aja si cabe-cabean ini! Tentu saja anak-anak Kusmiran ini akan ikut pulang ke Kerajaan Terong! Iya kan, Kusmiran?" ujar Ratu Terong.
"Nnggg tunggu dulu, Bu.." 
"Heh! Dasar kurang hajar si terong-terongan!" Ratu Cabe murka dan hendak merusak alis Ratu Terong yang sudah dibuat susah payah.
"BERHENTIIIIIII!" Kali ini Pangeran Wortel yang murka. Ia sudah tidak tahan lagi.

Pangeran Wortel harus menengahi mereka, sebelum terjadi adegan berdarah di sana. Pangeran meminta penjelasan; bagaimana mereka bisa sampai di Kerajaan Wortel, dan apa tujuannya.

Menurut keterangan pelaku, ternyata mereka bisa sampai di Kerajaan Wortel karena membaca blog Tulisan Wortel milik Pangeran. Tulisan Pangeran kini sudah menyebar luas, terkenal, dan banyak yang membacanya. Mereka mendapatkan informasi tersebut dari penduduknya. 

Berdasarkan alamat kerajaan wortel yang dituliskan pangeran pada blognya Tulisan Wortel, mereka pun menyusulnya ke tengah hutan. Dan mereka tidak menyangka kalau anak mereka masih hidup. Raja dan Ratu dari Kerajaan Terong dan Cabe tidak sengaja dateng berbarengan ke Kerajaan Wortel. Namun, mereka ke sini karena memiliki tujuan yang sama yaitu; mengajak pulang anak-anaknya, Kusmiran dari kerajaan Terong dan Susiah dari kerajaan Cabe.

Setelah mendengar penjelasan mereka. Raja Wortel memutuskan untuk tetap tinggal di Kerajaan Wortel. Namun, Raja Wortel memberi kebijakan; Raja dan Ratu dari Kerajaan Terong dan Cabe tetap dapat menemui cucu-cucunya. Dengan syarat; Kerajaan Terong dan Kerajaan Cabe harus berdamai.

Sejak saat itu, Kerajaan Terong dan Kerajaan Cabe pun berdamai. Kemudian, ketiga Kerajaan itu bergabung membentuk Kerajaan Wortel dan Terong Dicabein. Semua ini berkat tulisan Pangeran. Mulai dari tulisan di atas daun wortel, hingga menjadi tulisan di blog, yang bisa dinikmati oleh banyak orang. Merupakan suatu proses yang harus dilalui untuk mencapai keajaiban. Pangeran pun berjanji untuk tidak pernah berhenti menulis hingga sampai akhir hayatnya. Ia akan terus menulis, menyebar keajaiban. Dengan melalui Tulisan Wortel, Pangeran akan membuat tulisan yang bermanfaat bagi orang banyak. 

Akhirnya, Pangeran bersama Kerajaan Wortel dan Terong Dicabein hidup bahagia selamanya...


"Keajaiban tak selalu datang, namun kita dapat membuatnya. Jika keajaibanmu telah datang, berarti metamorfosismu telah sempurna." – @rimatakatta