Ini Pemanasan, Loh!
November. Halo.
Halo. November.
Hai.
Hehe.
Assalamualaikum, yaa, perindu yang agung....
Sedih lihat blog yang sudah aku anggap sebagai anak sendiri ini. Aku membuat, melahirkan, dan mengasuhnya seorang diri. Keren, kan? Iya, keren. Tapi beberapa bulan setelah kehilangnya laptop, blog ini sudah jarang produktif lagi. Maafkan. Ini semua salah aku yang tidak bisa mengurus anak sendiri dengan baik dan benar.
Tidak punya laptop bukanlah sebuah alasan. "Dasar manja. Pake hape kan bisa," kata seseorang yang namanya dirahasiakan. Iya, aku bisa saja pakai aplikasi di smartphone, pinjam laptop teman, atau ke warnet. Cuma... ya... iya, aku yang manja. Huft. Jadi, aku harus minta maaf ke siapa dulu, nih? Banyak sekali. Pokoknya aku mau minta maaf ke pembaca blog aku. Siapa pun yang merasa rindu akan tiap tulisan baru di blog ini. Adakah? Oh, nggak ada, ya? Iya. Nggak apa-apa, kok. Rima udah biasa diginiin. :')
Lama nggak posting, jujur saja aku jadi agak kaku. Bingung harus mulai dari mana. Akhirnya jadi beginian. Melihat blogger-blogger yang pernah menulis tentang cara memulai untuk membuat tulisan. Tuliskan saja apa yang ada di pikiran. Menuangkan yang ada di pikiran secara spontan. Asyik juga ternyata. Walaupun yang aku tulis ini isinya jadi nggak berbobot dan ngelantur ke mana-mana. Maaf lagi? Nggak, ah. Males. :p
Banyak yang mau aku ceritain. Ceritanya menyusul saja di postingan selanjutnya, ya. Untuk sekarang mau ngetik random saja. Hitung-hitung pemanasan.
Pemanasan. Ngomong-ngomong tentang pemanasan, panas, jadi pengin curhat tentang Kota rantauan aku yang panasnya tiada tara. Yang panasnya hanya bisa dikalahkan dengan perasaan yang panas ketika melihat gebetan jalan sama mantan gebetannya. Kota Serang.
Di Kota Serang, kalau kamu jemur baju jam 1 siang, nanti jam 2-nya jemuran kamu itu akan kering sebenar-benarnya. Hanya dalam waktu satu jam. Luar biasa, bukan? Jangankan jemur di siang hari, deh. Jemur di malam hari juga nanti paginya udah kering. Itu sangking panasnya udara di Serang, sekalipun malam hari. Tapi, ada untungnya juga, sih. Kalau misalkan, nih, ya. Misalkan, loh. Kalau misalkan aku kehabisan dalaman, aku bisa langsung cuci, jemur, lalu tunggu sebentar, dan... kering, deh! Dalaman bisa langsung dipakai dan terhindar dari berangkat ke kampus tanpa mengenakan dalaman. Eh, GIMANA?! Nggak. Aku nggak gitu, kok. Serius. Percayalah. Kan aku udah bilang "Misalkan". Hanya contoh. Ya udah, intinya Serang bakal bikin ketek kamu memproduksi keringat 100 kali lebih cepat dan banyak. Hmm. Lumayan buat anak kostan yang kekurangan air minum, dia bisa minum air keringat. Intinya nggak nyambung, ya? Ahak. Ahak. Bodo. :p
Oiya, air. Selain panas, Serang juga jarang hujan manteman. Jarang hujan yang artinya jarang basah. ._.
Jangankan basah, becek juga nggak. Hmm.
Dan beberapa bulan ini, kostan aku jadi sering susah air. Air di kostan sering nggak mengalir. Kostan yang lain juga. Kadang, kalau kostan yang di depan kostan aku airnya mengalir, aku numpang mandi atau boker di sana. Anak kostan depan pun begitu. Gantian. Namun, kalau air di antara kostan kami nggak ada yang mengalir, kami semua ngungsi ke WC masjid di komplek kostan. Ya, gitu, deh. Aku juga pernah numpang boker di WC masjid. Ya, gimana. Daripada aku pasrahkan saja di celana. Kan gak lucu, kalau becek-becek di celana. Astagfirullah. Apaan ini? -__-
Curhat tentang air belum selesai. Masih banyak. Air itu sumber kehidupan, loh. Orang bisa menahan lapar, nggak makan beberapa hari juga masih kuat. Orang juga bisa menahan rindu, nggak bertemu beberapa bulan juga masih bertahan. Lah, kalau haus? Orang susah menahan haus. Kalau haus ditahan, nanti bisa bikin orang dehidrasi, lalu mati. Ahak. Ahak. Serem.
Jadi, air itu penting buat kebutuhan hidup sehari-hari kita, guys. Iya, penting buat minum, makan, mandi, nyuci baju, nyuci kendaraan, nyiram tanaman, bersihin kandang, cebok, dan sebagainya. Bayangkan saja gimana kalau air di bumi ini habis? Kamu mau minum pakai apa? Kamu mau cebok pakai apa? Pakai keringat? Ingus? Mana cukuuup.
Berhubung bumi kita tercinta ini sedang mengalami pemanasan global. Cuaca juga sudah nggak menentu lagi. Panas terus, tapi nggak hujan-hujan. Sekalinya hujan deras banget, tapi cuma sebentar. Ya gitu, deh. Tiba-tiba panas, tiba-tiba hujan. Sama kayak perasaan kamu ke dia yang tiba-tiba sayang, tiba-tiba nggak. Tiba-tiba datang, tiba-tiba pergi. Tiba-tiba meninggal. Innalillahi....
Untuk menghindari krisis air yang makin parah, ayo usahakan dari diri sendiri dulu untuk menghemat air. Bisa dengan hal kecil seperti mandi dengan air secukupnya. Nggak perlulah sok-sokan berendam di bak, mandi susu. Susu kuda. Kuda mana pula yang susunya mau dipakai buat mandi? Apa, sih, Rim?! :|
Terus yang muslim, kalau wudhu hemat juga pakai airnya. Jangan menyalakan keran air besar-besar. Percuma. Masih besaran sayang aku ke Dia. Ke Allah maksudnya.
Terus yang suka beli minum, tapi airnya suka dibuang-buangin. Siapa, tuh? Daripada airnya dibuang sia-sia, mending dibuang ke tanaman terdekat saja. Sekalian nyiram tanaman, gitu. Iya, kan? Iya aja, sih. Biar Rima senang~
Hahahaha.
Ya udah. Gitu aja. Pegel ngetik di henpon, Mas-Mbak. :'D
Jadi, apa inti dari postingan aku ini? Nggak tau?
Dasar. Sini aku kasih tau.
Ehm.
Intinya, aku sayang kamu. Hehe. :)
SUT 3 THN BE
Genre Tulisan
Malaikat Tak Bersayap
- (Mantan) mahasiswi absurd, dan penghayal yang handal.



