Tampilkan postingan dengan label #memfiksikan. Tampilkan semua postingan

Kacang Rebus dan Harapan



Entah kenapa kacang rebus menjadi makanan favoritku. Mungkin, karena kacang rebus mengingatkanku pada dia yang tak pernah memandangku lama. Dia selalu menjaga pandangannya dariku. Ah, mungkin dia tidak tertarik denganku. Lalu, kalau memang tidak tertarik, mengapa dia mengajakku ke pasar malam dan membelikanku kacang rebus? Aku tak mengerti.

Sudah seminggu aku tidak masuk sekolah, karena kebanyakan makan kacang rebus. Aku terlalu menyukainya. Bodoh. Dan sekarang aku tidak boleh makan kacang rebus lagi. Rasanya aku semakin jauh dari dia. Aku rindu.

Kutatap tiga butir obat dari dokter. Ini harus kuminum. Sekarang obat yang ketiga. Susah sekali meneguknya. Obat ini mungkin memang membantu menghilangkan rasa sakitku, namun tak bisa menghilangkan rasa rinduku.

“Susah, ya? Mau kubantu?”

Suara yang muncul dari balik pintu mengagetkanku.

“Tono!” Kurasakan pipiku bersemu.
“Hai, ini bunga untukmu,” katanya sembari menatapku, kali ini lama.

Seketika aku merasa sembuh.

Dibantunya aku untuk meminum obat. Tak ada rasa pahit, semuanya terasa manis jika bersama Tono, termasuk obat ini. Tono, dia memang calon dokter kebanggaanku. Tanggannya seperti memiliki sihir khusus untuk menyembuhkan orang-orang.

“Nah, gitu, dong, diminum obatnya… Kau harus lekas sembuh, kan sebentar lagi akan menghadapi Ujian Nasional dan tes Universitas,” katanya dengan lembut. Ada perhatian di dalam kalimatnya. Aku mengangguk.

Selanjutnya kami hanya berbincang dan tertawa lepas. Tanpa dia sadari, ada rindu yang diam-diam menguap dari kepalaku. Ini yang kusuka, dia selalu bisa membuatku merasa nyaman. Perasaan yang tak bisa kudapatkan dari yang lainnya. Bagaimana bisa aku melepasnya pergi? Aku ingin selalu bersamanya….

“Oh, iya. Bulan depan aku akan wisuda,” kata Tono berseri-seri.
“Sungguh??” kataku setengah berteriak. Oh, mataku hampir saja keluar dari tempatnya. Tono mengangguk bersemangat.

Tono memang anak yang cerdas. Aku hanya tak percaya dia bisa lulus lebih cepat dari yang aku bayangkan. Tak kuasa aku menahan rasa bahagia, kurengkuh tubuhnya, kuberikan pelukan hangat. Lima menit kami tenggelam dalam pelukan. Entah, seperti tak ingin saling melepaskan. Ini sudah terlalu jauh untuk hubungan yang dibilang pertemanan. Aku tersadar dan melepaskan pelukan itu. Aku menatap wajahnya. Ada yang berbeda, mata itu terlihat sendu. Pertama kalinya aku melihatnya seperti itu.

“Kenapa?” tanyaku bingung.
“Maafkan aku, Anna.”

Dia kembali memelukku, aku tak mengelaknya. Kembali sunyi. Hanya terdengar suara detak jantung yang berdegup cepat, entah milikku, miliknya, atau mungkin keduanya. Perlahan kenangan-kenangan saat pertama kalinya kami bertemu, saat bermain di pasar malam, dan kacang rebus itu terputar ulang.  Akankah kita membuat kenangan lagi? Bersama-sama melewati hari? Selalu ingin melewati tiap detiknya bersamamu. Melihat senyummu di setiap pagi. Pasti bahagia sekali rasanya. Namun, aku merasa tidak akan pernah dapat mewujudkannya. Entahlah, wajah Tono saat ini yang menghentikan semuanya, ‘film’ di masa lalu dan masa depan. Tatapannya mematikan seluruh harapanku.

“Sudah malam. Aku pamit, ya,” kata Tono sambil melepaskan pelukannya.
“Buru-buru sekali. Nanti saja pulangnya…”
“Hahaha. Kamu kan harus istirahat. Anak kecil nggak boleh tidur malam-malam,” katamu meledek. Aku hanya cemberut.
“Kamu cepat sembuh, ya…” Diusapnya kepalaku.
“Iya, terima kasih. Kamu hati-hati, ya,” ucapku getir. Ada perasaan tidak rela, padahal dia hanya pamit pulang. Aku tidak mengerti.

Kuantarnya ke depan pintu. Aku menatap kepergiannya sampai di ujung jalan, hingga punggungnya tak terlihat lagi.

Saat aku kembali ke kamar, aku menemukan sebuah undangan di atas kasur – yang dengan cepat kuketahui siapa pengirimnya.


Dia akan menikah.


***

Taraaaaa! Cerpen lagi~ Dan kali ini bukan kecoa. Yey! Akakakaka. :p
Sedikit curhat. Awalnya ini cerpen singkat yang dibuat dalam waktu 5 menit. Benar-benar singkat, dan belum seperti ini. Akhirnya diperbaiki dan ditambah-tambah lagi ceritanya biar cantik, dan jadilah seperti ini. Bagaimana? Kasih kritik dan sarannya, dong, Kakaaak~
Maaf, ya, kalau ada kesamaan tokoh, tempat, maupun cerita. Ini hanya cerita fiksi, kok. Sungguh.
Semoga kamu nggak bosen baca cerpen aku. Hahaha.


Terima kasih. ^^

Pengorbanan



“Mau sampai kapan kamu memandangi cermin seperti itu?”

Dia tersentak. Mencari sumber suara yang baru saja didengarnya. Menoleh ke kanan dan ke kiri, namun tak menemukan apa-apa. Dan saat menoleh ke belakang, dia melihatku. Diam sebentar, kemudian perlahan ia mulai berjalan ke arahku.

Jarang-jarang ada yang mau menghampiriku lebih dulu. Kupasang senyum semanis mungkin. Aroma tubuhnya sudah tercium, begitu dekat. Aku memejamkan mata lekat-lekat. Saat kubuka mata, ternyata dia sudah melewatkanku dan masuk ke dalam kamarnya. Ah, lagi-lagi… batinku.

“Zahra, kamu kenapa?” kataku.

Pintu itu tak sepenuhnya tertutup. Ada celah kecil, kumemandanginya dari sana. Zahra terlihat sedih dan meringkuk di dalam selimut. Aku tak berani mendekatinya.

“Aaaaargh! Aku lapaaar,” Zahra berteriak lumayan kencang, “Tapi kamu nggak boleh makan, Zahra! Nggak boleh! Ini sudah tengah malam! Lihat, lemakmu bergelambir ke mana-mana. Kamu harus diet!” Zahra memaki dirinya sendiri. Air matanya berhasil keluar. Tangisnya menderu, hingga membangunkan teman di kamar sebelahnya.
  
“Zahra, kenapa kamu menangis?”

Aku mengenal gadis itu, namanya Meli. Teman baik Zahra, katanya. Entah mengapa, aku tak suka dengan Meli. Aku pernah melihat Meli berciuman dengan kekasih Zahra, saat itu Zahra sedang di kamar mandi.

Kumelihat Meli mengusap pipi Zahra. Ah, aku pun ingin menghapus air matanya. Suatu kehormatan bagiku, jika kubisa melakukan hal itu.

“Aku lapar, Mel…”
“Makanlah, Zahra…”
“Tapi kan…”
“Tapi apa? Masih saja kau mendengar kata-kata pacarmu itu? Kalau dia memang benar-benar sayang, dia akan menerima kamu apa adanya. Yang terpenting itu kesehatanmu!”

Kemudian, mereka berpelukan. Kumelihat ada sesuatu yang licik di balik senyum Meli. Membuatku semakin kesal.

Setelah Meli kembali ke kamarnya, Zahra berjalan ke arah dapur. Ia memasak sesuatu.

Setelah beberapa menit, masakannya sudah matang. Zahra menatap makanannya dengan penuh keraguan. Aku yang melihatnya pun seram. Semangkuk mi instan dengan telur setengah matang dan sepiring nasi. Ingin kumelarangnya, namun aku tahu itu akan sia-sia.

Aku memang sayang dengan Zahra, meskipun Zahra sudah memiliki kekasih. Aku ingin Zahra memperbaiki pola makannya, bukan berarti aku tak bisa menerima dia apa adanya, tapi aku ingin yang terbaik buat Zahra.

“Ah, aku mau cuci tangan dulu, deh,” kata Zahra. Terlihat sekali ia sedang menutupi keraguannya.

“Hati-hati ya, Zahra. Di kamar mandi licin, takut kepeleset.” Lagi-lagi aku diabaikannya. Tak apa, sudah biasa.

Aku menatap makanan Zahra. Tekadku sudah bulat. Perlahan aku mulai melangkahkan kaki, mendekati makanan itu. Aku tahu, mungkin ini salah. Aku pun masing ingin melihat senyum Zahra dan mendengar tawanya tiap hari. Tapi, aku harus merelakan itu. Sebab, terkadang sayang itu butuh pengorbanan. Tak apa, ini semua untuk kebaikan Zahra.

Maafkan aku, Zahra…”


Ketika Zahra kembali...

“AAAAAAAAAA! APA INI?! ADA KECOA DI MAKANANKUUU!” teriak Zahra.
“Gimana ini? Persediaan makananku sudah habis... Ah, sudahlah. Mungkin aku memang tidak diperbolehkan untuk makan tengah malam.”

Aku yang mendengarnya, tersenyum. Dibuangnya semangkuk mi instan ini, beserta aku di dalamnya.


“Selamat tinggal, Zahra…”

***

Halooo. Terima kasih sudah membaca. :)
Gimana cerpennya? Minta pendapatnya, dong. Aneh, ya? Hahahaha. Ya, maaf. :p
Cerpen ini dibuat dalam rangka... kangen aja udah lama nggak nulis cerpen. Lagi kangen-kangennya gitu pengin nulis cerpen, eh, ada kecoa lewat. Muncullah sebuah ide, kemudian aku tuangkan ke dalam blog ini. Jadi, maaf saja kalau agak random. Ehehe.

Semoga suka. \o/


Hujan dan Awan


Ada yang ingin mulai jatuh, namun meragu.

Hujan: Sebentar lagi aku akan jatuh.

Awan: Jatuhlah..


Ada yang meragu pada sesuatu yang sudah jelas.

Hujan: Tidakkah yang di bawah sana bosan?

Awan: Maksudmu? Tanah?

Hujan: Iya. Dia pasti lelah.


Ada yang harus memberikan dorongan sedikit, agar yakinnya kuat.

Awan: Jangan bercanda. Tanah selalu siap dan ikhlas kapan pun kamu jatuh. Bahkan, di saat semua orang mengutukmu, ia yang selalu menunggumu.

Hujan: Benarkah?

Awan: Iya.


Hingga pada akhirnya, tak ada lagi keraguan. Yang ada hanya keberanian dan perasaan yang kuat.

Hujan: Awan, rasanya aku mau jatuh sekarang.

Awan: Baiklah. Sampaikan salamku pada tanah.


Jangan takut dan meragu. Percayalah, bahwa semua hal adalah berarti. Termasuk dirimu sendiri.


Di Sela Kuliah


Tatapannya yang kosong, memandang lurus pada tulisan di layar yang dipantulkan oleh proyektor. Apa yang dibacanya berbeda dengan yang dipikirkan. Entah apa yang dipikirkan. Banyak. Deadline tugas yang harus dikumpul sore nanti, rapat yang akan dihadirkan malam nanti, dan menanti yang tak lagi ingin dinanti.

Suara tepuk tangan yang riuh melunturkan lamunannya. Ia mengerjapkan mata, kembali pada dunia nyata. Presentasi sudah selesai, belanjut dengan tanya jawab. Yang lain berebut ingin bertanya, sedangkan ia hanya menatap kosong. Lagi. Mau bagaimana lagi, ia tidak menyimak apa yang disampaikan.

Tak ingin menyia-nyiakan sang waktu, ia pun mengeluarkan telepon genggamnya, membuka note. Jemari itu menari begitu saja di atas tombol telepon genggamnya. Menuangkan sampah-sampah yang ada di pikirannya. Sampah. Tak berguna. Seharusnya sampah-sampah itu jangan sampai diketahui apalagi dinikmati orang lain.

"Ah, mungkinkan ada yang mau menikmati sampah?"

Ia makin tak mengerti.
Ditutupnya note itu sambil menutup hati yang tak kunjung ingin.

Berawal Dari Hari Sabtu


Ini hari Sabtu. Jadwal Azizah membeli kue putu. Belinya di mamang Kiptu. Sampai di situ, Azizah bingung kenapa harus beli kue putu dan di hari Sabtu. Menurutmu, kenapa Azizah harus membeli kue putu di hari Sabtu? Entahlah, ia pun tidak tahu mengapa begitu. Biarkan itu menjadi misteri para kutu yang selalu menggerutu di balik batu.

Persetan dengan para kutu. Azizah benci kutu. Sudah setahun ini Azizah memelihara kutu. Iya, Azizah benci kutu, tapi memelihara kutu. Kau tahu, Azizah tak bermaksud begitu. Mereka hinggap dan berkembangbiak begitu saja hingga membentuk persekutuan kutu. Azizah lelah menggerutu. Ia harus mencoba suatu cara yang bermutu.

Obat kutu. Azizah harus mencoba itu. Azizah pun menunggu hari Sabtu untuk pergi ke toko mamang Kiptu. Kini Azizah tahu, yang ia butuh bukanlah kue putu, melainkan obat kutu. Lalu, mengapa harus di hari Sabtu? Karena selain hari Sabtu, Azizah selalu menggerutu seperti para kutu. Maka, Azizah memilih Sabtu, agar tidak menggerutu seperti para kutu di hadapan mamang Kiptu yang ia sayangi itu.

Ini hari Sabtu. Jadwal Azizah membeli obat kutu. Belinya di mamang Kiptu. Sampai di situ, Azizah tak kunjung beranjak sambil memegangi obat kutu. Bingung, tatap mamang Kiptu. Hingga datang neneknya nenek mamang Kiptu yang kemudian melempari Azizah dengan batu. Azizah pun beranjak dari situ.

Sesampainya di rumah, yang lebih dikenal dengan orang-orang adalah rumah hantu. Azizah membuang obat kutu itu. Membiarkan para kutu membentuk persekutuan kutu lebih banyak lagi, kemudian bersatu. Sehingga Azizah tetap berkutu dan memiliki alasan untuk pergi ke toko mamang Kiptu di hari Sabtu, lalu membeli obat kutu, dan  melihat senyum manisnya mamang Kiptu yang Azizah sayangi itu.

Manis



Manis

Ketika mata bersua
Kutemukan sinis
Hatimu yang mulai mendua
Membuatku teriris

Manis

Kunikmati irisan pertama
Kupejamkan mata
Manis yang kurasa
Tak akan sirna

Manis

Senyummu..
Yang meleburkan luka
Kutahu itu bukan untukku
Tapi untuknya

Manis

Yang tak kau rasa lagi
Boleh kumenangis?
Melihat kau yang mulai pergi
Dengan bengis

Manis

Ini telah larut
Bersama hati yang tak terpaut
Teriakku dalam laut
Menanti maut

***

#Memfiksikan ke-12. Temanya "Manis". Sesekali posting puisi di sini. Pendek banget, ya? Biarin. Kalian seneng, kaaan? Blogwalking-nya jadi lebih ringan. Nggak perlu kasih komentar kok. Nggak apa-apa. :)

Tapi, kalian taulaah "Nggak apa-apa"-nya cewek itu gimana... :p

Oh iya, puisi ini dibikinnya waktu sambil nunggu dosen datang. Nggak penting, sih. Hahaha. Yang paling penting dan perlu kalian ketahui adalah puisi ini hanya FIKSI. Camkan itu!

Terima kasih. \o/

Sandiwara Pilihan



“Mau sampai kapan berdiam diri seperti itu?”
“Entahlah. Aku bingung.”
“Ah, kamu selalu saja begitu. Kenapa? Bukankah hidup memang pilihan?”
“.…”

Kami duduk di kasur yang sama, namun saling membelakangi. Sunyi. Ada yang sedang kuratapi. Betapa hidup ini sulit dimengerti. Menjalani hari demi hari yang semakin terasa tak berarti.

Sudah satu tahun yang lalu kami menikah. Kami saling tidak mencintai pasangan masing-masing, namun Tuhan menjodohkan. Padahal pasangan kami sangat sempurna, begitu di mata mereka. Apakah ini berkah atau musibah? Manik mataku tertuju pada jam yang terus berdetik. Aku masih tak berkutik.

Sudah satu tahun kami menumpuk dosa yang sama. Tidak ada yang tahu, kecuali Tuhan dan kami. Ck! Tuhan. Masih pantaskah aku menyebut-Nya? Aku mulai bergerak. Menoleh pada pasanganku. Ia menyadariku, kemudian melempar senyum.

Hidup memang pilihan, sedangkan aku benci pilihan. Aku selalu bingung, dan akhirnya asal memilih. Jika beruntung, aku akan bahagia. Jika buntung, aku akan tersiksa. Kemudian aku merasakan keduanya. Lagi-lagi bingung. Kuambil telepon genggamku yang berkedip di meja dengan linglung.

Diana, sudah selesai? Sebentar lagi Mas turun, urusan Mas sudah selesai.. Mas tunggu di parkiran, ya..

Pesan dari Mas Bagas, suamiku.

Sama sekali tidak ada perasaan bersalah. Membuatku semakin bingung, siapa yang salah? Kupakai kembali pakaianku dan kuambilkan pakaiannya.

“Sudah?”
“Iya, yuk, turun. Mas Bagas sudah menunggu di parkiran.”

Penampilan kami sudah kembali rapi. Lalu saling melempar senyum dan merekatkan jemari, sembari menyusuri lorong, keluar dari hotel ini.
“Kirana!”
“Mas Teguh!” Teriaknya. Kemudian dilepasnya jemariku dan dihampiri suaminya, diberinya peluk.

Bersamaan dengan itu, Mas Bagas berlari menghampiriku dan memberikanku pelukan hangat, namun hambar.

“Lihat dua pasangan itu, serasi sekali,” bisik wanita itu pada suaminya.

Kami berempat berdecak licik. Mereka lupa, kalau dunia ini panggung sandiwara, kita pemerannya. Beginilah cara kami menjalankannya. Kami memainkannya dengan cara yang berbeda.  Terlihat seperti ‘pertunjukkan’ yang sempurna di mata mereka, padahal ini salah.

Mas Teguh mencintai suamiku.

Aku mencintai istri Mas Teguh.

Kemudian kami menikah dengan kekasih yang berbeda.

Aku bingung..

Bahagia pada pilihan yang salah? Bisakah? Entahlah, tapi kami merasakannya. 

***

#Memfiksikan ke-11! Temanya "BINGUNG". Tema ini dipilih, karena semuanya pada bingung mau ngasih tema apa. Ya sudahlah, yaa~ -_-v

Kali ini aku bikin FF (Flash Fiction). Selamat menikmati! Mohon kritik dan sarannya. Terima kasih. :)

Malam Bersama Ayah



“Ayah, ini tehnya..”

Malam ini langit pekat. Seperti secangkir teh yang dibuatkan Ibu Azizah, hangat. Terlalu pekat, hingga tak ada satu pun bintik di sana. Hanya sesekali ada yang berkilat. Ada yang dipersiapkan langit di sana, rintik.

Perlahan udara menyentuh kulit Azizah. Dingin. Sama seperti perasaannya saat ini. Ada yang membeku di dalam hatinya, dan sedang berusaha ia cairkan.

Sudah lama Azizah tidak duduk berdua dengan sang Ayah, seperti malam ini. Canggung, mungkin. Padahal Ayahnya sendiri. Dari dua kakak laki-lakinya, Azizah yang paling dekat dengan sang Ayah. Kata orang, biasanya anak perempuan lebih dekat dengan Ayah dari pada Ibunya. Begitu pun sebaliknya. Tapi tidak, menurut Azizah, semuanya sama. Sama-sama dekat. Memang, Ayahnya cenderung lebih banyak diam dan terkesan tidak peduli. Padahal sebaliknya. Dalam diam, sang Ayah paling mengerti apa yang Azizah mau.

“Ada apa, Nak?” Ucap sang Ayah sambil membaca buku tentang keagamaan.

Azizah terdiam. Menatap langit malam yang terasa kelam. Perlahan matanya mulai terpejam. Teringat akan masa kecilnya yang bersemayam.

***
Azizah kecil dulu nakal. Tidak bisa diam. Jika ada suatu hal yang membuatnya penasaran, pasti akan dicobanya.

Pernah Azizah menemukan pisau di halaman samping rumahnya. Dengan sifatnya yang serba mau tahu, diambilnya pisau itu. Kemudian ia memakainya untuk bermain masak-masakan. Azizah yang bermain sendirian itu mulai sok tahu dan memakainya seolah-olah ia adalah chef ternama di dunia. Daun-daun yang asal dipetiknya itu dengan tragis teriris-iris menjadi bagian paling kecil. Hingga diirisan daun paling akhir, jari mungilnya itu ikut teriris, tepat di telunjuknya. Melihat darah segar yang mengalir, Azizah kecil menangis.

Ayah yang mendengar tangisan Azizah langsung segera menghampiri. Memarahinya dengan bijak. Tangis Azizah makin pecah. Kemudian sang Ayah pun menenangkan, mengobati sembari menasehati. Sejak saat itu Azizah lebih berhati-hati dan tidak bersikap seenaknya lagi.

***
Tanpa sadar Azizah mengelus jari telunjuknya, bekas goresan pisau.

“Zizah sudah salat Isya?” Tanya sang Ayah, membuyarkan lamunan Azizah.
“Sudah, Yah..”
“Alhamdulillah.. Zizah kenapa diam saja? Mau minta bantuan Ayah buat ngerjain tugas lagi, ya?” Pertanyaan sang Ayah membuat tawa Azizah pecah.
“Bukaaan. Ayah maaah.” Sisi manja Azizah keluar.

Pikirannya kembali mengambang dan menepi pada belasan tahun silam, ketika Azizah masih di bangku Sekolah Dasar. Seperti ada yang memutar film, kembali pada masa lalu.

***
“Jangan lupa salat, ganti baju, makan, kerjakan PR, ya. Setelah itu baru boleh main.”
“Iyaa, Ayah.”

Ayah selalu mengantar dan menjemput Azizah ketika sekolah. Setelah itu, sang Ayah baru pergi ke kantornya lagi.

Azizah pulang ke rumah dengan bibirnya yang cemberut, lucu. Bingung dengan tugas yang diberikan gurunya dan harus segera dikumpul besok. Namun, kebingungannya seketika hilang ketika ada temannya yang memanggil di depan, mengajaknya untuk bermain. Azizah langsung mengganti seragamnya dengan baju dan celana, salat, makan, kemudian pergi keluar dengan sepeda kebanggaanya, hadiah dari Ayah ketika Azizah berulang tahun.

Azizah kalau sudah pergi main, tidak ingat waktu lagi. Tak terasa waktu sudah sore. Azizah pulang untuk mandi, salat dan pergi mengaji di TPA (Tempat Pembelajaran Al-Quran). Ayah selalu mengajarkan Azizah agar jangan lupa salat dan mengaji. Karena hanya itu yang akan kita bawa ketika meninggal nanti. Amal ibadah dan perbuatan di dunia ini.

Ketika makan malam bersama, Azizah dan keluarganya membuka obrolan kecil. Kedua kakaknya bercerita tentang sekolahnya, Azizah bercerita tentang petualangannya tadi siang dengan teman mainnya. Suasana meja makan seketika langsung ramai.

Selesai makan, Azizah membantu Ibu. Setelah itu baru ikut menonton TV bareng Ayah dan dua kakak laki-lakinya. Azizah yang sudah benar-benar kelelahan itu akhirnya tertidur di pangkuan sang Ayah. Melihat Azizah sudah tertidur, sang Ayah menggendongnya, memindahkan Azizah ke kamar. Selalu seperti itu, jika Azizah ketiduran di ruang tengah. Terkadang Azizah sengaja pura-pura ketiduran agar digendong Ayahnya sampai ke kamar. Nakal, memang. Azizah yang belum sepenuhnya tidur itu merasakan sang Ayah mencium keningnya dan menutupi badannya dengan selimut.

Sulit untuk nyenyak, ada yang mengganggu pikiran Azizah. PR. Iya, Azizah lupa, belum mengerjakan PR yang akan dikumpulkan besok. Azizah panik. Tugasnya itu disuruh membuat gambar. Kebetulan, Ayahnya memang pintar menggambar. Karena mata yang sudah terlalu berat, ingin cepat tidur, Azizah bangun dan menghampiri Ayahnya. Dengan keberanian yang dia punya, Azizah menyampaikan maksudnya ke Ayah. Sudah diduga, sang Ayah memarahinya. Azizah menunduk, merasa bersalah. Melihat reaksi Ayah yang sepertinya tidak peduli itu pun, akhirnya Azizah pasrah menghadapi gurunya besok.

Keesokan paginya, Azizah melihat selembar kertas di meja belajarnya. Kertas itu berisi gambar yang dia maksudkan ke Ayah tadi malam. Azizah terharu. Ternyata Ayah begitu peduli padanya. Azizah langsung menghampiri Ayahnya dan berteriak, “Ayaaaaah! Terima kasih gambarnyaa!”

***
Ah, ya, Ayah selalu menjadi hero buat Azizah. Ayah menjadi segalanya buat Azizah. Ingin rasanya bisa lebih lama lagi bersama Ayah. Dua puluh empat tahun ini belum cukup. Belum puas berada di samping Ayah. Azizah tak dapat membayangkan, di kehidupan sehari-harinya nanti tanpa Ayah di sisi. Namun, cepat atau lambat Azizah akan menghadapinya. Sebuah hidup yang baru.

“Ayah, Azizah mau bareng Ayah terus. Ayah ikut Azizah, ya?”

“Hahaha. Azizah sayang.. Semua orang pasti akan mengalami ini. Ayah tidak bisa bareng Azizah terus-terusan. Ada saatnya Azizah harus sendiri. Sekarang malaikat kecil Ayah sudah dewasa, harus bisa lebih mandiri lagi. Lagi pula, Azizah tidak akan sendiri, ada Fadli bukan? Ayah yakin, Fadli anak yang baik. Dia pasti bisa menjadi imam yang baik,” ucap sang Ayah menenangkan. Dielusnya kepala Azizah dengan lembut.

“Iya, Ayah.. Terima kasih… Azizah sayang Ayah…” Pipi Azizah mulai basah. Dipeluknya sang Ayah dengan erat.

“Ya sudah.. Azizah istirahat, gih. Besok akad nikahnya. Azizah harus jaga kesehatan. Nggak lucu, kan, kalau nanti mempelai wanitanya sakit?” Ucap Ayah menggoda Azizah.

“Ihh Ayaaah… Iya-iya… Azizah masuk ke dalam duluan, ya. Ayah juga, jangan tidur malam-malam.” Azizah bangun dari duduknya, kemudian mencium kening sang Ayah, lembut.


Malam ini adalah malam terakhir Azizah berada di sisi Ayah. Besok Azizah akan menikah. Perasaan sedih dan bahagia itu menyatu, kemudian pecah.

Langit sudah siap menjatuhkan rintik. Sama seperti Azizah yang sudah siap menjalani hidup barunya bersama Fadli, air mata pun kembali menitik.


***

Haloo. Udah 2 minggu aku nggak ikut #memfiksikan. Kalo nggak salah ini #memfiksikan yang ke-10, ya? Hahaha.
Kali ini bikin cerpen lagi, tentang Ayah.
Pas banget, nih, lagi kangen sama rumah. Yaa.. Biasalah sindrom anak kos emang begini. Pffft~

Oke. Semoga terhibur dengan cerpen aku yang ala kadarnya. Hehe. :)

BEGAL



“Berhenti! Turun dari motor ini sekarang! Cepat!”

Aku yang malam-malam pergi keluar sendirian, tidak menyangka akan mengalami hal yang sedang marak di kalangan masyarakat dan sudah tidak asing lagi bagiku. Pembegalan.

Lelaki yang diperkirakan seumuran denganku. Seorang remaja. Mulai mengeluarkan senjata tajamnya. Pisau yang sepertinya sudah terasah dengan baik. Kilatannya begitu tajam. Sama seperti matanya.

“Jangan, Bang, aku harus pergi beli obat buat Adikku.”

Kata-kataku seperti tak digubrisnya. Dia mendorongku, tubuhku mendarat dengan cepat di jalan aspal. Aku mengaduh dengan kencang, namun tak satu pun yang mendengarnya. Lokasi ini memang lumayan jauh dari pemukiman. Aku tahu di sini memang sepi. Namun, hanya ini jalan satu-satunya menuju kota yang memiliki apotek.

“Emang gue peduli?! Sini tas lo!”

Sekuat mungkin aku mempertahankan tas itu. Di sana ada beberapa lembar uang yang kukumpulkan dengan susah payah. Bekerja sejak pagi hingga sore hanya untuk sesuap nasi dan obat untuk Adikku. Tidak seharusnya anak seumuranku pergi bekerja, seharusnya fokus saja belajar di sekolah. Berkutat dengan buku-buku pelajaran, bukannya malah berkutat dengan penumpang dan mengantarnya ke tempat tujuan. Entah kenapa perasaan ini begitu kuat. Aku merasakannya begitu nyata.

“Jangan, Bang, aku harus segera beli obat. Satu-satunya keluarga yang kupunya hanya Adikku.”

Kurasakan bagian runcing itu berada tepat di leherku, dan aku menahannya sekuat tenaga dengan bagian tanganku. Sedikit lagi. Nafasku sudah tidak beraturan. Aku harus bisa melawannya. Demi Adik…

“A.. ak.. aku mohon, Bang, jangan sakiti aku. Adikku masih kecil. Ia tidak punya siapa-siapa lagi selain aku.”

CREEEP!
Aku merasakan pisau itu dengan sempurna masuk ke dalam leherku. Hingga seluruh bagiannya tenggelam, lalu diangkatnya lagi pisau tersebut. Aku mulai merasakan aroma darah segar milikku sendiri. Di ujung ajalku, aku bersyahadat. Bersamaan dengan kelopak mataku yang perlahan mulai tertutup, aku memohon agar Adikku dapat melanjutkan hidupnya dengan tegar, dan semoga ini kasus pembegalan yang terakhir.

***

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAH!!” aku berteriak hingga tenggorokanku sakit.

Aku terbangun dengan posisi duduk. Ini mimpi yang sama kesekian kalinya. Mimpi itu, aku merasakan dengan nyata, ujung pisau itu masuk menerobos leherku. Napasku tersenggal, keringat dingin mengalir di pelipisku. Kasus pembegalan selalu menghantui semua orang. Berita-berita di koran, televisi, sosial media, semuanya tentang pembegalan. Karena itu aku selalu gelisah dan tidak pernah keluar rumah. Aku selalu takut. Ketakutan itu hampir membuatku gila. Aku tidak bisa terus-terusan begini. Aku harus keluar rumah!

Pagi ini aku memutuskan untuk pergi keluar. Pertama kalinya aku keluar rumah, sejak seminggu yang lalu. Pagi selalu ramai dengan aktivitas warga, tidak ada yang perlu ditakuti.

Sambil mengendarai motor, kunikmati udara pagi yang selalu kurindukan. Begitu nikmat. Motorku memasuki sebuah kantor yang sudah tidak asing lagi. Aku parkirkan pada tempatnya.

Dengan yakin dan langkah pasti, aku memasuki ruangan kantor.

“Selamat pagi, Nak, ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang bapak-bapak berseragam coklat dan berkumis tebal. Nada bicaranya yang tegas, membuatku agak gugup.

“Selamat pagi, Pak. Nnggg… Tolong… Tolong masukkan saya ke dalam penjara, Pak.”

“Loh, kenapa?”

“Saya… Saya akhir-akhir ini selalu mimpi tentang hal yang sama. Pembegalan. Saya mimpi, saya dibegal dengan anak seumuran saya. Motor dan tas saya diambil, kemudian leher saya ditusuk pisau.”

“Lalu, apa yang salah?”

“Saya merasa itu begitu nyata. Saya benar-benar merasakan masalah yang dihadapi saya di dalam mimpi. Merasa gelisah, takut, khawatir terhadap Adik, dan juga merasakan sakit ketika pisau itu menerobos leher saya. Dan itu memang terjadi. Kejadiannya sama persis, tepat seminggu yang lalu. Namun, posisinya bukan saya yang dibegal, tapi yang membegal.”

“Jadi, kamu…”

“Iya, Pak. Saya tersangka pada kasus pembegalan seminggu yang lalu. Jadi, sekarang Bapak bisa memasukkan saya ke dalam penjara?”

***

Sejak aku menyerahkan diri, mimpi itu tidak pernah hadir lagi. Anak laki-laki seumuranku, yang kutusuk lehernya dengan pisau, seolah ingin membuatku merasakan bagaimana jika aku berada di posisi korban.  

Sejak aku menyerahkan diri, ini menjadi kasus pembegalan yang terakhir…

…. di daerahku.

Semoga.


***

#memfiksikan yang ketujuh. Temanya Begal. Cerpennya nggak bagus. Buatnya juga buru-buru, dan waktunya udah kelewatan. Yaudah, maafkan tulang rusukmu ini, ya. Lain kali bakal lebih telat lagi. Hahaha. Bercanda~ :')

Semoga suka. Mumumu~


Tidur atau Bubur



“Tidur atau bubur?”
“Bubur.”

Seingatku, terakhir kali aku makan bubur, aku merasakan kantuk. Kemudian tertidur. Bangun dari tidur, tubuhku sudah di kasur. Kudengar isak tangis Ayah, Adik, dan Bibi dari dapur. Aku bergegas ke sana. Kulihat Ibuku tewas, diduga keracunan kapur yang sengaja dicampurkan ke dalam bubur.

***

“Tidur atau bubur?”
“Tidur.”

Sejak Ibu meninggal, diam-diam aku membenci bubur. Aku lebih memilih tidur, adikku pun. Mengenang Ibu dalam tidur. Menyenangkan. Mengingat caranya mendengkur. Membuatku cepat tertidur.

Gelap. Samar-samar kulihat adikku melambaikan tangan dalam senyap. Tersenyum. Kemudian masuk ke gerbang putih disambut Ibu. Aku tercekat. Berusaha mengejar, namun bayangnya hilang dengan cepat.

“IBUUUU! ADIIIIK!”

Ayah dan Bibi menghampiriku ke kamar. Mereka terlihat khawatir. Kemudian coba menenangkan.

“Sabar, ya, Kak. Yang tabah.. Adik sudah tidak ada.”

Kalimat Ayahku membuatku tergugu. Katanya, ketika kami semua tertidur, Adik mencoba bunuh diri seperti Ibu. Ini lucu. Mungkin aku terlalu lugu atas kantuk dan tidur yang selalu mempermainkanku. Tapi, mulai detik ini, tidak akan lagi.

Hingga pada hari ini…

“Tidur atau bubur?”
“Tidur, Bi.”

Aku pun tidur, tentu saja hanya pura-pura. Kali ini kantuk tak akan bisa mengelabuiku untuk tidur. Kantuk ini akan kukutuk!

Satu jam berlalu. Aku masih bergeming dengan kepura-puraanku.

Dalam hening, aku mendengar suara. Sudah kuduga, ada yang aneh di rumah ini ketika aku tak terjaga. Kulangkahkan kaki pada sumber suara. Aku melihat dua bayangan hitam terkikik di atas ranjang sana.

“Tinggal satu lagi yang harus kita singkirkan.”
“Jangan. Tinggal dia anakku satu-satunya.”
“Ayolah. Bukankah kau sudah tidak mempersalahkan ini lagi?”
“….”
“Dia hanya akan mengganggu kebahagiaan kita, Sayang.”

Dua bayangan hitam itu tak terlihat lagi, hanya terdengar suara ranjang berderit. Dasar manusia terkutuk! Menjelma kantuk, tuk membuat maut. Aku mengutuknya dari lubang kunci kamar Bibi, pembantuku.


Aku pun balik ke kamarku. Tuk menjemput maut.

***

HALOO~ 
INI DIA #MEMFIKSIKAN KE-ENAAAAM! TEMANYA "TIDUR".
YAUDAH. GITU AJA. 

HAHAHA.