Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Kacang Rebus dan Harapan



Entah kenapa kacang rebus menjadi makanan favoritku. Mungkin, karena kacang rebus mengingatkanku pada dia yang tak pernah memandangku lama. Dia selalu menjaga pandangannya dariku. Ah, mungkin dia tidak tertarik denganku. Lalu, kalau memang tidak tertarik, mengapa dia mengajakku ke pasar malam dan membelikanku kacang rebus? Aku tak mengerti.

Sudah seminggu aku tidak masuk sekolah, karena kebanyakan makan kacang rebus. Aku terlalu menyukainya. Bodoh. Dan sekarang aku tidak boleh makan kacang rebus lagi. Rasanya aku semakin jauh dari dia. Aku rindu.

Kutatap tiga butir obat dari dokter. Ini harus kuminum. Sekarang obat yang ketiga. Susah sekali meneguknya. Obat ini mungkin memang membantu menghilangkan rasa sakitku, namun tak bisa menghilangkan rasa rinduku.

“Susah, ya? Mau kubantu?”

Suara yang muncul dari balik pintu mengagetkanku.

“Tono!” Kurasakan pipiku bersemu.
“Hai, ini bunga untukmu,” katanya sembari menatapku, kali ini lama.

Seketika aku merasa sembuh.

Dibantunya aku untuk meminum obat. Tak ada rasa pahit, semuanya terasa manis jika bersama Tono, termasuk obat ini. Tono, dia memang calon dokter kebanggaanku. Tanggannya seperti memiliki sihir khusus untuk menyembuhkan orang-orang.

“Nah, gitu, dong, diminum obatnya… Kau harus lekas sembuh, kan sebentar lagi akan menghadapi Ujian Nasional dan tes Universitas,” katanya dengan lembut. Ada perhatian di dalam kalimatnya. Aku mengangguk.

Selanjutnya kami hanya berbincang dan tertawa lepas. Tanpa dia sadari, ada rindu yang diam-diam menguap dari kepalaku. Ini yang kusuka, dia selalu bisa membuatku merasa nyaman. Perasaan yang tak bisa kudapatkan dari yang lainnya. Bagaimana bisa aku melepasnya pergi? Aku ingin selalu bersamanya….

“Oh, iya. Bulan depan aku akan wisuda,” kata Tono berseri-seri.
“Sungguh??” kataku setengah berteriak. Oh, mataku hampir saja keluar dari tempatnya. Tono mengangguk bersemangat.

Tono memang anak yang cerdas. Aku hanya tak percaya dia bisa lulus lebih cepat dari yang aku bayangkan. Tak kuasa aku menahan rasa bahagia, kurengkuh tubuhnya, kuberikan pelukan hangat. Lima menit kami tenggelam dalam pelukan. Entah, seperti tak ingin saling melepaskan. Ini sudah terlalu jauh untuk hubungan yang dibilang pertemanan. Aku tersadar dan melepaskan pelukan itu. Aku menatap wajahnya. Ada yang berbeda, mata itu terlihat sendu. Pertama kalinya aku melihatnya seperti itu.

“Kenapa?” tanyaku bingung.
“Maafkan aku, Anna.”

Dia kembali memelukku, aku tak mengelaknya. Kembali sunyi. Hanya terdengar suara detak jantung yang berdegup cepat, entah milikku, miliknya, atau mungkin keduanya. Perlahan kenangan-kenangan saat pertama kalinya kami bertemu, saat bermain di pasar malam, dan kacang rebus itu terputar ulang.  Akankah kita membuat kenangan lagi? Bersama-sama melewati hari? Selalu ingin melewati tiap detiknya bersamamu. Melihat senyummu di setiap pagi. Pasti bahagia sekali rasanya. Namun, aku merasa tidak akan pernah dapat mewujudkannya. Entahlah, wajah Tono saat ini yang menghentikan semuanya, ‘film’ di masa lalu dan masa depan. Tatapannya mematikan seluruh harapanku.

“Sudah malam. Aku pamit, ya,” kata Tono sambil melepaskan pelukannya.
“Buru-buru sekali. Nanti saja pulangnya…”
“Hahaha. Kamu kan harus istirahat. Anak kecil nggak boleh tidur malam-malam,” katamu meledek. Aku hanya cemberut.
“Kamu cepat sembuh, ya…” Diusapnya kepalaku.
“Iya, terima kasih. Kamu hati-hati, ya,” ucapku getir. Ada perasaan tidak rela, padahal dia hanya pamit pulang. Aku tidak mengerti.

Kuantarnya ke depan pintu. Aku menatap kepergiannya sampai di ujung jalan, hingga punggungnya tak terlihat lagi.

Saat aku kembali ke kamar, aku menemukan sebuah undangan di atas kasur – yang dengan cepat kuketahui siapa pengirimnya.


Dia akan menikah.


***

Taraaaaa! Cerpen lagi~ Dan kali ini bukan kecoa. Yey! Akakakaka. :p
Sedikit curhat. Awalnya ini cerpen singkat yang dibuat dalam waktu 5 menit. Benar-benar singkat, dan belum seperti ini. Akhirnya diperbaiki dan ditambah-tambah lagi ceritanya biar cantik, dan jadilah seperti ini. Bagaimana? Kasih kritik dan sarannya, dong, Kakaaak~
Maaf, ya, kalau ada kesamaan tokoh, tempat, maupun cerita. Ini hanya cerita fiksi, kok. Sungguh.
Semoga kamu nggak bosen baca cerpen aku. Hahaha.


Terima kasih. ^^