Tampilkan postingan dengan label flashfiction. Tampilkan semua postingan

Sandiwara Pilihan



“Mau sampai kapan berdiam diri seperti itu?”
“Entahlah. Aku bingung.”
“Ah, kamu selalu saja begitu. Kenapa? Bukankah hidup memang pilihan?”
“.…”

Kami duduk di kasur yang sama, namun saling membelakangi. Sunyi. Ada yang sedang kuratapi. Betapa hidup ini sulit dimengerti. Menjalani hari demi hari yang semakin terasa tak berarti.

Sudah satu tahun yang lalu kami menikah. Kami saling tidak mencintai pasangan masing-masing, namun Tuhan menjodohkan. Padahal pasangan kami sangat sempurna, begitu di mata mereka. Apakah ini berkah atau musibah? Manik mataku tertuju pada jam yang terus berdetik. Aku masih tak berkutik.

Sudah satu tahun kami menumpuk dosa yang sama. Tidak ada yang tahu, kecuali Tuhan dan kami. Ck! Tuhan. Masih pantaskah aku menyebut-Nya? Aku mulai bergerak. Menoleh pada pasanganku. Ia menyadariku, kemudian melempar senyum.

Hidup memang pilihan, sedangkan aku benci pilihan. Aku selalu bingung, dan akhirnya asal memilih. Jika beruntung, aku akan bahagia. Jika buntung, aku akan tersiksa. Kemudian aku merasakan keduanya. Lagi-lagi bingung. Kuambil telepon genggamku yang berkedip di meja dengan linglung.

Diana, sudah selesai? Sebentar lagi Mas turun, urusan Mas sudah selesai.. Mas tunggu di parkiran, ya..

Pesan dari Mas Bagas, suamiku.

Sama sekali tidak ada perasaan bersalah. Membuatku semakin bingung, siapa yang salah? Kupakai kembali pakaianku dan kuambilkan pakaiannya.

“Sudah?”
“Iya, yuk, turun. Mas Bagas sudah menunggu di parkiran.”

Penampilan kami sudah kembali rapi. Lalu saling melempar senyum dan merekatkan jemari, sembari menyusuri lorong, keluar dari hotel ini.
“Kirana!”
“Mas Teguh!” Teriaknya. Kemudian dilepasnya jemariku dan dihampiri suaminya, diberinya peluk.

Bersamaan dengan itu, Mas Bagas berlari menghampiriku dan memberikanku pelukan hangat, namun hambar.

“Lihat dua pasangan itu, serasi sekali,” bisik wanita itu pada suaminya.

Kami berempat berdecak licik. Mereka lupa, kalau dunia ini panggung sandiwara, kita pemerannya. Beginilah cara kami menjalankannya. Kami memainkannya dengan cara yang berbeda.  Terlihat seperti ‘pertunjukkan’ yang sempurna di mata mereka, padahal ini salah.

Mas Teguh mencintai suamiku.

Aku mencintai istri Mas Teguh.

Kemudian kami menikah dengan kekasih yang berbeda.

Aku bingung..

Bahagia pada pilihan yang salah? Bisakah? Entahlah, tapi kami merasakannya. 

***

#Memfiksikan ke-11! Temanya "BINGUNG". Tema ini dipilih, karena semuanya pada bingung mau ngasih tema apa. Ya sudahlah, yaa~ -_-v

Kali ini aku bikin FF (Flash Fiction). Selamat menikmati! Mohon kritik dan sarannya. Terima kasih. :)