Metamorfosis Tulisan Wortel

19.21 Rizka Ilma Amalia 21 Comments



Alkisah ada sebuah keluarga kecil di tengah hutan. Sangking terpencilnya, tak pernah ada yang tahu bahwa ada kehidupan di sana, kecuali hewan dan tumbuh-tumbuhan yang ada di dalam hutan.

Keluarga kecil ini membentuk kerajaan sendiri. Kerajaan Wortel. Begitu mereka dan penghuni hutan lain menamainya. Sebab, istana mereka yang sederhana itu dikelilingi oleh tanaman wortel yang tumbuh subur.

Di sana tinggallah seorang Raja bernama Kusmiran, beserta Ratunya bernama Susiah. Raja dan Ratu tersebut dikaruniai 2 orang anak. Anak pertama bernama Hesti Aprina sebagai Putri Wortel, dan anak kedua bernama Heru Arya sebagai Pangeran Wortel.

Sebelum mereka membentuk kerajaan di dalam hutan, sebenarnya mereka berasal dari kerajaan yang berbeda. Kusmiran dari Kerajaan Terong, dan Susiah dari Kerajaan Cabe.  Dua kerajaan yang selalu berselisih dan tidak jarang saling berperang, hanya untuk menunjukkan siapa yang paling hebat. Oleh karena itu, Kusmiran dan Susiah tahu kalau orangtua mereka tidak akan pernah berdamai. Akhirnya, Kusmiran dan Susiah yang sudah terlanjur saling jatuh cinta itu memutuskan untuk kawin lari dan menikah di dalam hutan. Dengan kudanil sebagai penghulunya dan alam yang menjadi saksinya.

Sejak saat itu, keluarga wortel akrab dengan harimau, macan tutul, kelinci, komodo, dan penghuni hutan lainnya. Raja dan Ratu sangat bersyukur karena bisa tinggal dengan damai di dalam hutan, namun tak jarang mereka juga merindukan kerajaannya masing-masing.
"Yang mulia, aku rindu Ayah dan Ibu," ucap sang Ratu dengan sendu.
"Aku pun begitu, sayang. Namun, kau tahu sendiri, tidak akan pernah ada yang bisa membuat Kerajaan Terong dan Kerajaan Cabe berdamai. Kecuali.. Kecuali keajaiban." ujar sang Raja sembari merangkul istrinya. Berusaha menenangkan.

Raja dan Ratu duduk di balkon sambil menatap lurus ke arah luar hutan. Menerawang. Berharap ada keajaiban datang. Tanpa menyadari, bahwa dari tadi ada yang menyimak pembicaraan mereka. Heru Arya sang Pangeran Wortel.

Pangeran paling tidak bisa melihat orangtuanya bersedih. Pangeran pun pergi ke hutan bagian selatan dengan menunggangi elang kesayangannya. Dia sudah biasa pergi ke sana, sekedar untuk menghilangkan keluh kesahnya.

"Meong, tunggu sini, ya. Nanti aku balik lagi," ucap Pangeran sembari mengikat elangnya di pohon.
"Iya Pangeran," jawab si Meong. Semua hewan di hutan ini memang bisa berbicara. Namun, tentu saja hanya keluarga wortel yang bisa berbicara dengan mereka.

Seluruh Kerajaan Wortel tahu kalau Pangeran sangat suka menulis. Di hutan bagian selatan ini ada rumah pohon yang dibangun oleh Raja, Ratu, dan Putri tahun lalu sebagai hadiah ulang tahun Pangeran. Pangeran senang sekali, karena rumah pohon itu sangat sejuk dan nyaman, cocok buat tempat untuk menulis.

Ketika di atas rumah pohon, Pangeran mulai mengeluarkan daun wortel dan bulu ayam dari karungnya. Lalu, ia pun mulai menulis...

Dear diare diary..
Hari ini aku sedih sekali..
Aku ingin memberi keajaiban untuk Raja dan Ratu..

30 menit berlalu... Pangeran sudah selesai menumpahkan keluh kesahnya pada 30 lembar daun wortel. Sekarang Pangeran sudah merasa lebih baik.

Sebelum pulang, ia menaruh 30 lembar daun wortel yang bertuliskan curhatannya itu ke dalam peti. Ia selalu menaruhnya di sana. Peti itu aman, karena selalu digembok dan dikunci. Pada penutup peti itu diberi ukiran nama: Harian Arya. 

Pangeran menatap petinya sejenak, tersenyum. Lalu Pangeran mencium.... keteknya. Ternyata bau. Karena Pangeran bau, dan merasa harus mandi, Pangeran pun pulang bersama elangnya.

***

"Aryaaaa, dari mana saja kamu naak?" teriak sang Ratu sambil membawa bambu runcing.
"Da.. dar.. dari rumah pohon Nyaak," Arya tergagap.
"HAPAAAH?! Sudah berapa kali Mami bilang, jangan panggil Nyak! Panggil MAMI! MA-MI!"
"...."

Setelah diberi ceramah selama 3.600 detik, Arya bergegas mandi, solat, makan, pup, lalu tidur.

***

Keesokan paginya, terjadi kegaduhan di Kerajaan Wortel. Pangeran Wortel menangis meraung-raung dan mencakar-cakar jamban, "HUAAAA KEMBALIKAN KUNCI PETIKUUUU! KEMBALIKAAAN! HUUAAAA DASAR JAMBAN SIALAAAN! HIKS HIKS." Namun, apa daya kunci peti tersebut telah hilang, sirna, musnah, lenyap tanpa jejak. Sejak kejadian itu, Pangeran mengalami depresi selama 1 abad.

Hingga pada abad berikutnya, Pangeran merasa rindu akan menulis. Seperti ada yang berteriak di dalam hatinya, "AKU INGIN MENULIS! INGIN! AKU SANGAT INGIN MENULIS! AKU HARUS MENULIS! OY OY OY! OOOOOYYY OY!" Ternyata hatinya Pangeran wota.

Sebagai kakak yang baik, Putri Wortel dapat mendengar suara hatinya Pangeran yang berteriak. Putri Wortel sedih dan merasa harus membantu adiknya. Ternyata Putri memiliki kebiasaan curhat dengan si Meong. Diam-diam ia pergi ke kandang Meong dan bercerita keluh kesahnya di sana. Meong menanggapinya dengan bijak.

"Jangan sedih lagi Putri.. Pangeran pasti akan segera melupakan kesedihannya. Karena, kesedihan dan kebahagiaan itu datang silih berganti."
"Iya, Meong.. Terima kasih sudah mendengarkan aku curhat."
"Iya, sama-sama, Putri."

Kemudian, mereka pun berpelukan. 

***

Tepat pada saat hari besar panen wortel, yang juga merupakan hari lahirnya Pangeran, Putri Wortel menemukan sebuah telur raksasa di kandang Meong. Kerajaan Wortel kembali gempar. 

"Maaamiii! Paaapiii! Aryaaa! Cepaaaat ke siniiii," sang Putri berteriak tak terkendali.
"Ada apa sayaang?" tanya sang Ratu.
"Kebiasaan deh kakak teriak pagi-pagi," omel sang Pangeran sambil membersihkan beleknya.
"Hoaaaam," sang Raja menguap.
"Coba lihat ini! Si Meong, elang kesayangan kita berteluuuur!"
"HAPAAAAAH?!" teriak ketiganya.
"MEONG! KATAKAN PADA KAMI SEKARANG JUGA, SIAPA YANG MELAKUKAN INI SAMA KAMU?! SIAPA, MENG? JAWAB!" Raja berteriak sambil mengguncang-guncangkan bahu Meong.

Sambil mendekati elangnya, Pangeran berkata, "Meong... Kamu tahu, kan, kalau aku dan keluargaku sangat menyayangi kamu?" tangan Pangeran memegang wajah Meong. "Kamu juga tahu, kan, banyak hal yang sudah kita lalui? tapi Meong, kenapa kamu tidak pernah bilang kalau selama ini kamu itu... wanita tulen?" 

Tidak ingin membuat Meong makin terpuruk, akhirnya keluarga wortel dapat menerima kehadiran sang telur yang tanpa bapak. Mereka pun mengurus, menjaga, dan mengeraminya bergantian. Hingga 224.5 hari kemudian, sang telur menetas.

Tak diduga-duga, yang keluar dari telur tersebut bukanlah seekor elang, tetapi 1 unit komputer beserta perangkat-perangkatnya dan 1 buah modem!

Keluarga wortel hanya melongo, karena tidak mengerti itu jenis spesies apa. Bentuknya sangat berbeda dengan induknya. Sang Meong pun mendekat dan berusaha menjelaskan, bahwa telur itu sebenarnya hadiah untuk Pangeran. Suatu keajaiban. Pangeran sangat senang, dan mencium Meong. Raja, Ratu, dan Putri hanya menatapnya terharu. Kini Pangerannya sudah kembali seperti dulu.

Tentu saja Pangeran belum mengerti cara penggunaannya. Tetapi, karena Pangeran adalah anak yang jenius. Pangeran mempelajarinya secara otodidak, berdasarkan buku panduan yang ada. Dan dari sanalah Pangeran mulai mengenal "blog".

Sementara itu, di dunia lain...
"Loh? Kenapa tiba-tiba jadi canggih gitu?"
"Ya, kan, rentang waktunya 1 abad. Wajar dong."
"Mana bisa begitu!"
"Yaelaah, lontong sayur! Terserah narator, dong!"
"Nnggg..."
"Apa lagi?!"
"Lontong sayurnya berapaan, ya?"
***

Sejak memiliki blog, Pangeran tidak pernah lagi menulis di daun wortel. Tulisan-tulisan di daun wortel itu, Pangeran tidak membuangnya. Biarlah itu menjadi bukti sejarah..

Kini, Pangeran tumbuh menjadi anak yang pandai, cerdas, lincah, luwes, dan bergairah... dalam hal menulis tentunya. Itu terbukti dari beberapa kali Pangeran mengubah nama blognya.

Metamorfosis Blog Tulisan Wortel

Pertama, Harian Arya. Pangeran memberi nama tersebut untuk mengenang curhatan di atas daun wortel yang ia simpan di dalam peti. Peti yang ditinggalkan sang kunci. Sang kunci yang bunuh diri ke jamban. 
Pada akhirnya,  blog yang Pangeran buat ini pun sama nasibnya dengan peti Harian Arya-nya. Pangeran lupa password-nya.

Tidak ingin bersedih lama-lama, Pangeran meneruskan lagi kelanjutan hidup blognya. Kali ini Pangeran menggunakan nama yang berbeda, sebab takut terulang dengan kejadian yang lalu. Dan nama blognya adalah Ocehan Arya. Entah apa yang dipikirkan oleh Pangeran pada saat itu, hatinya sendiri yang bergerak menuliskan nama itu. 
Namun, blog ini pun akhirnya menjadi usang, sebab Pangeran harus belajar dengan tekun untuk menghadapi UNMK (Ujian Nasional Memanah Komodo).

Pangeran Wortel kini sudah makin dewasa, kecintaannya akan menulis kian erat dan keinginannya untuk menjadi seorang penulis terkenal semakin melekat. Ia merasa nama Ocehan Arya ini sudah tidak cocok lagi sama pribadinya, akhirnya ia pun menggantinya dengan Sudut Lain Seorang Penulis. 

Sejak menggunakan nama ini, blognya makin dikenal oleh orang-orang di luar hutan sana, yaitu Kerajaan Terong dan Kerajaan Cabe. Tetapi, tiga bulan kemudian Pangeran merubahnya lagi dengan Tuwor (Tulisan Wortel). Kali ini dengan alasan kepanjangan dan susah diingat.

Lalu, karena Pangeran merasa nama Tuwor itu asing di telinga, dan yang lebih parah, pernah ada yang menyangkanya Tumor. Maka dari itu, Tuwor berubah menjadi Wortel Hidup. 

Dari Wortel Hidup berubah menjadi Tulisan Wortel. Pangeran Wortel tidak ingin melupakan sejarah pertama kali ia menulis di atas daun wortel, selain itu Pangeran beranggapan bahwa wortel memiliki sisi yang ia rasa cocok dengan kepribadiannya. Oleh karena itu, Pangeran memberi nama blognya Tulisan WortelDan pada akhirnya, inilah puncak dari metamorfosis blog Pangeran.

***

"Rajaaaaa! Ratuuuuu!" Pangeran lari tergopoh-gopoh ke balkon.
"Ada apa anakku? Mengapa kamu lari-lari seperti anak kecil?" tanya sang Raja dengan heran.
"A.. A..."
"Apa, Arya?" tanya sang Ratu bingung melihat anaknya tiba-tiba gagap. 
"A.. A... Ada.."
"ADA SETAN?? ADA APA?! Kamu mau jawab, atau Mami kutuk jadi gantugan kunci?!"

Pangeran yang sangat tidak menginginkan untuk berubah wujud menjadi gantungan kunci pun langsung hilang gagapnya.
XAZSSSSSSSS
"Ada Terong-terongan sama Cabe-cabean berkelahi di halaman depaan!"
"Hah??" Raja dan Ratu teriak berbarengan. "Maksud kamu, Terong sama Cabenya lagi tarung tinju?!" teriak sang Ratu.
"BUKAN MIIII. Coba deh lihat ke sana!"

Raja, Ratu, dan Pangeran pun secepat mungkin pergi ke halaman depan. Biar lebih cepat, mereka naik elang. Sampai di depan, Raja dan Ratu tercengang melihat apa yang ada di hadapannya. 

"AYAH... IBU..." ucap Raja dan Ratu berbarengan. Seketika perkelahian antara Raja-Ratu Terong dan Raja-Ratu Cabe berhenti. Tak bisa berkata-kata lagi, ratusan detik mereka habiskan dengan menangis sambil berpelukan. Pangeran dan Putri hanya menatap haru dalam diam.

"Susiah, ini anak-anak kamu?" tanya sang Ratu Cabe.
"Iya, Bu."
"Yaampuuun lucu bangeeet. Gimana buatnya? Eh, ikut Ibu aja yuk, pulang ke Kerajaan Cabe. Ajak anak-anak kamu juga," ucap Ratu Cabe sambil menyubit pipi Pangeran.
"Nnggg gimana ya, Bu.."
"Eh! Enak aja si cabe-cabean ini! Tentu saja anak-anak Kusmiran ini akan ikut pulang ke Kerajaan Terong! Iya kan, Kusmiran?" ujar Ratu Terong.
"Nnggg tunggu dulu, Bu.." 
"Heh! Dasar kurang hajar si terong-terongan!" Ratu Cabe murka dan hendak merusak alis Ratu Terong yang sudah dibuat susah payah.
"BERHENTIIIIIII!" Kali ini Pangeran Wortel yang murka. Ia sudah tidak tahan lagi.

Pangeran Wortel harus menengahi mereka, sebelum terjadi adegan berdarah di sana. Pangeran meminta penjelasan; bagaimana mereka bisa sampai di Kerajaan Wortel, dan apa tujuannya.

Menurut keterangan pelaku, ternyata mereka bisa sampai di Kerajaan Wortel karena membaca blog Tulisan Wortel milik Pangeran. Tulisan Pangeran kini sudah menyebar luas, terkenal, dan banyak yang membacanya. Mereka mendapatkan informasi tersebut dari penduduknya. 

Berdasarkan alamat kerajaan wortel yang dituliskan pangeran pada blognya Tulisan Wortel, mereka pun menyusulnya ke tengah hutan. Dan mereka tidak menyangka kalau anak mereka masih hidup. Raja dan Ratu dari Kerajaan Terong dan Cabe tidak sengaja dateng berbarengan ke Kerajaan Wortel. Namun, mereka ke sini karena memiliki tujuan yang sama yaitu; mengajak pulang anak-anaknya, Kusmiran dari kerajaan Terong dan Susiah dari kerajaan Cabe.

Setelah mendengar penjelasan mereka. Raja Wortel memutuskan untuk tetap tinggal di Kerajaan Wortel. Namun, Raja Wortel memberi kebijakan; Raja dan Ratu dari Kerajaan Terong dan Cabe tetap dapat menemui cucu-cucunya. Dengan syarat; Kerajaan Terong dan Kerajaan Cabe harus berdamai.

Sejak saat itu, Kerajaan Terong dan Kerajaan Cabe pun berdamai. Kemudian, ketiga Kerajaan itu bergabung membentuk Kerajaan Wortel dan Terong Dicabein. Semua ini berkat tulisan Pangeran. Mulai dari tulisan di atas daun wortel, hingga menjadi tulisan di blog, yang bisa dinikmati oleh banyak orang. Merupakan suatu proses yang harus dilalui untuk mencapai keajaiban. Pangeran pun berjanji untuk tidak pernah berhenti menulis hingga sampai akhir hayatnya. Ia akan terus menulis, menyebar keajaiban. Dengan melalui Tulisan Wortel, Pangeran akan membuat tulisan yang bermanfaat bagi orang banyak. 

Akhirnya, Pangeran bersama Kerajaan Wortel dan Terong Dicabein hidup bahagia selamanya...


"Keajaiban tak selalu datang, namun kita dapat membuatnya. Jika keajaibanmu telah datang, berarti metamorfosismu telah sempurna." – @rimatakatta


You Might Also Like

21 komentar:

  1. Ehm. Tingkat kecanggihan telur elang yang menetas menjadi seperangkat komputer membuat Pangerna jadi inget Ijab qobul. :D "Seperangkat alat sholat itu..." :D

    Alurnya yahut banget.

    Sudah dimaukkan ke penilaian.

    Terima kasih atas partisipasinya.

    Tunggu Pengumumannya, ya. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pangeran udah ngebet pengen nikah, ya? ._.v

      Terima kasih. :D

      Asiiik. Jadi deg-degan~

      Sama-sama, Pangeraaan.

      Okee. Aku akan selalu menunggu. \o/

      Hapus
  2. Horeeee akhirnya berdamai. Happy ending nih yee.. Btw gimana caranya kuda nil ngawinin 2 insan??, hehehe... Good luck yaa, saya pun ikutan?? Penasaran??? Langsung baca saja di blog saya yah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Horeeee~ \o/
      Caranya? Gampang, kayak penghulu pada umumnya aja. Soalnya dulu kudanilnya itu lulusan pesantren.
      Okee. Sudah dibaca dan dikomentari, kok. :)

      Hapus
  3. Panjang banget, Rim. Pusing bacanya. Ahaha. Aturan ada beberapa adegan yang nggak perlu ditulis. Terus ada jokes yang garing. Nggak usah dipaksain, sih. Kayaknya itu kurang penting. Tapi keseluruhan. Bagus. :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Kepanjangan, ya? Nanti dibawa ke tukang cukur deh. :(
      Hahaha. Oke nanti di tulisan selanjutnya diperbaiki. InsyaAllah. Ingetin lagi kalo masih ada yang kurang pas, atau masih kurang bumbu-bumbunya, ya~
      Terima kasiiiih. :))

      Hapus
  4. Idenya mayan kece ini. Hehehe tetap semangat ya
    salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih. Semangat juga, ya, buat kamu~
      Salam.

      Hapus
  5. izin mau komentar dulu ahh mba rima hehe cerita nya panjaaaang hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkakakaka. Iya. Panjaaaaaaaaaaang banget, ya. :((

      Hapus
  6. Asik, semoga menang GA-nya Pangeran Wortel. Tapi kok judulnya metamorfosis ya? Saya gregetan kalo denger istilah ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Terima kasih, yaaa.
      Hahaha. Dasar pelajar IPA!! Itu biar mengingatkan yang pelajar untuk belajar. :))

      Hapus
  7. Sadaqallahulazim.. panjangee -___- tapi keren sih alurnya
    Good luck yo GA nya, semoga GA menang ._.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sadaqallahulazim.. :)))
      Hahaha. Maapin aku, yak. :(
      Terima kasih loh udah mau bacaa. :(
      Oke. Aamiin. \o/

      Hapus
  8. Telur berisi laptop dan modem? Wow. Seberapa besar telurnya. Sepertinya susah untuk dibayangkan. Haha. :D
    Salam dari http://erlisy.wordpress.com/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang jelas tidak sebesar cintaku pada-Nya. Jadi, jangan dibayangkan. Bhahahaa~ :D
      Salam. :)

      Hapus
  9. Wa dr judulnya uda menarik ni berbau2 qortel, mampir jg ya di www.gembulnita.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waa jadi, cuma baca judulnya aja nih? Aku sedih loh.. :(
      Terima kasih ya sudah berkunjung~ \o/

      Hapus
  10. ternyataaa.. mas worteel juga labiil

    BalasHapus

Sudah selesai membaca? Terima kasih! :)
Komentar, yuk!
Sesungguhnya, sedikit komentar dari kalian akan berpengaruh besar untukku.

Rima bersabda:
"Barang siapa yang memberikan komentarnya dengan tulus dan ikhlas, maka akan dilipatgandakan jumlah viewers blognya."