Darah Oh Darah

08.16 Rizka Ilma Amalia 36 Comments


JUNI!
Bulan baru. Buka lembaran baru.
MEI!
Terima kasih. Banyak hal yang terjadi. Meskipun sulit, tapi sudah terlewati.

Oke. Segitu aja kalimat pembukanya. Sebenarnya aku nggak tau mau ngetik apa. Yang jelas nggak mau bersajak dulu. Kali ini pengin ngetik random aja. Biar nggak jelas. Ya udah, biar nggak tegang, ketawa dulu, yuk.

HAHAHAHAHA.

Enaknya cerita apa, ya? Hmm.. Gimana kalau aku cerita tentang awal di bulan Juni?

***

Tanggal 1 Juni 2015. Sekitar jam 2 pagi, aku baru sampai di Serang. Ceritanya aku habis pulang ke Lampung gitu. Melepas rindu yang sudah tertahankan selama 2 bulan lebih. Lumayan. Meskipun cuma 2 hari di rumah.

Memasuki komplek kostan, aku menelepon Khay. Sebelumnya, aku udah bilang bakal numpang nginep di kostannya. Soalnya teman-teman kostan aku pada pulang ke rumahnya masing-masing dan berniat pulang hari Senin ini. Sedangkan aku nggak pegang kunci kostan. Jadi nggak bisa masuk.

Nggak lama dari itu dia ke luar. Kami cengengesan, kemudian masuk ke dalam. Bukannya tidur, kami malah ngobrol. Sekitar jam 4 pagi baru merem.

Baru tidur beberapa jam, aku melek dan melihat henpon. Jam menunjukkan angka 07.50. Aku panik dan langsung bangunin Khay. Gimana nggak panik, kami ada kuliah jam 07.30. Aku langsung pamit balik ke kostan asalku.

Sebenarnya kostan aku sama Khay cuma berseberangan. Yoi. Tinggal bersin juga sampai. Di depan kostanku, aku diam. Firasat buruk. Aku ketuk-ketuk dan mengucap salam, tapi nggak ada yang menjawab. DEMI KERANG AJAIB! MEREKA BELUM PADA DATANG! ARRRRGH!

Pikiran yang udah panik dan ditambah makin panik lagi, karena aku ingat kalau aku nggak bawa baju ganti. Aku nggak bisa berpikir jernih lagi. Untungnya di jemuran ada baju yang baru aku cuci beberapa hari yang lalu. Aku langsung ambil saja dan langsung lari ke kostan Khay. Kondisi aku pagi itu yang berantakan sambil bawa baju, mirip banget kayak Chelsea Islan yang lagi maling jemuran.

Singkat cerita, kami udah di kelas dan bebas dari omelan. Selamat, karena yang ngajar asisten dosen (asdos). Aku langsung buka henpon dan membuka materi yang akan kubaca. Iya. Hari ini kelompok aku maju presentasi. Aku baru baca sebentar sewaktu di kapal. Memanfaatkan waktu yang ada.

Tiba giliran kelompokku yang maju. Moderator sudah membuka, tapi kondisi kelas masih berisik. Moderator sudah berteriak, tapi tidak ada yang mendengarkan. Dengan refleks tanganku melayang ke atas meja.

BRAAAAAAAK!

Seketika kelas hening. Semua mata tertuju padaku. Da aku mah apa atuh. Aku hanya senyum-senyum selayaknya bayi…

Bayi dajjal.

Begitulah, akhirnya presentasi bisa dimulai. Dengan persiapan yang seadanya, Alhamdulillah presentasi berjalan lancar.

Mata kuliah selesai. Hanum, yang sebelumnya sudah mengajakku untuk ikut donor darah, langsung menggiringku ke sana.

Saatnya ganti pasangan. Malam sama Khay, siang sama Hanum. Yang disayangkan, mereka semua cewek. Oke. Skip.

Donor darah. FYI aja, nih. Aku belum pernah donor darah. Takut? Nggak. Masalahnya aku selalu gagal. Entah itu karena acaranya pas saat aku lagi datang bulan, berat badanku yang kurang dari 45, atau yang terakhir kali aku gagal donor darah itu orang PMI-nya nggak sanggup ngambil darah aku. Bukan karena kulitku yang tebal kayak kulit badak dan susah diambil darahnya, tapi karena pembuluh darah vena-ku yang kecil. Harus orang yang sudah ahli dan berpengalaman yang melakukannya. Jadi bukan salah aku, dong? Orang PMI-nya waktu itu aja yang lemah~

Sudah beberapa kali aku gagal. Hingga tibalah kesempatan untuk donor darah itu datang lagi. Sambil mengisi data, aku berdoa semoga kali ini gagal lagi. Namun apa daya, tensi aku bahkan sangat bagus, berat badan melampaui batas, dan tidak sedang datang bulan.

Tinggal tunggu ada tempat yang kosong dan serahkan diri ke sana. Sempat ada pemikiran untuk kabur ke kostan. Tapi seorang Rima nggak boleh cemen. Apa pun yang terjadi. Hadapi.

Nggg…

Tapi…

JARUMNYA ITU, LOH. JARUMNYA NGGAK KECIL. YA ALLOOOH.

“Rim, itu tempatnya kosong!” kata Hanum bersemangat.
“Cepetan, Rim. Lama banget lu, gua sama Rangga aja udah selesai,” kata Mamad, salah satu teman sekelasku.

Dengan langkah gontai karena dengkul lemas, aku pasrah berjalan menuju Mbak-mbak yang akan mengambil darahku satu kantung.

Kantung mata.

Mata SBY.

Yakali. Banyak amat. :(

Astagirulloh. Bawa-bawa mantan..
Mantan presiden.

Aku tiduran. Mbak itu mengoleskan alkohol di lenganku. Terasa dingin. Kemudian dia mengambil sesuatu yang ada di plastik. DEG. Jarum!

“Mbak, waktu itu aku pernah gagal donor darah gara-gara pembuluh vena-nya kecil,” kataku. Berharap si Mbak ini nggak sanggup juga. Namun, respon yang kudapat di luar dugaan. Si Mbak hanya diam saja, dan lanjut memencet-mencet lenganku, mencari pembuluh darah yang kecil itu.

“Susah, ya, Mbak? Ketemu nggak?” aku menahan senyum. Si Mbak masih tak menjawab. Wajahnya tampak serius. Dia pun memasang alat tensi di lengan kananku untuk membantunya. Kerutan di wajahnya mulai mengendur. PERTANDA BURUK! Aku mulai mules.

Jarum yang masih baru itu dikeluarkannya. Lumayan panjang dan besar. Jarumnya.
Aku yang melihatnya, menarik napas agar tetap relax, dan memiringkan kepala ke kiri. Kupejamkan mata kuat-kuat. Tak ingin merasakan jarum yang masuk. Tapi percuma. Aku yang orangnya sangat perasa dan peka ini dapat merasakan dengan jelas saat jarum menusuk tepat di lengan kananku. Eeaaa. Mataku masih terpejam kuat. Aku cemen sekali. Argh~

“Rim, kenapa?” tanya Hanum yang baru saja menghampiriku.
“Nggak apa-apa. Hahaha,” kataku sambil menyeka ujung mataku.

Aku lihat lengan kananku. Jarum berhasil masuk dan dengan lancar mengeluarkan darah suci milikku. Terlihat jelas sekali saat darah itu mengalir di selang kecil memenuhi kantung darah. Aku mulai biasa saja. Hanum yang di sebelahku sibuk mengambil gambarku. Naluri photographer-nya keluar.

The first time..

“Pusing nggak?” tanya si Mbak penyedot darah itu.
“Nggak,” jawabku dengan pasti.
Sekitar 10 menit, proses penyedotan darah itu pun selesai. Saat jarum yang menusuk di lenganku tadi dicabut, terasa sekali gesekannya di kulit. Aku memejamkan mata lagi, sampai si Mbak PMI memanggil namaku.

“Rizka Ilma Amalia, ya?”

Aku hanya mengangguk.

“Sudah selesai.”
“Hah? Sudah?”
“Iya. Lengannya ditekuk dulu, ya. Dua menit.”

Aku masih tiduran.

“Pusing nggak? Mual-mual?” tanya si Mbaknya.
“Nggg… Nggak.”
“Nggak, tapi pake mikir dulu. Hahaha.” Hanum menertawakanku. Aku hanya meringis.

Aku pun bangun dan mengambil kartu pendonor. Bersamaan dengan itu, aku diberikan makanan, susu, dan obat penambah darah. Susunya langsung kuminum.

“Gimana, Rima? Kuat? Nggak pusing, kan?” tanya si Mamad.
“Nggaklah, ya, Rim. Rima kan strong. Anak karate. Masa gitu aja pusing,” kata Rangga.
“Ha-ha-ha. Iyalah. Mana mungkin Rima pusing. Ha-ha-ha,” jawabku sekenanya.

Namun, di balik semua ketegaran itu… Saat Mamad dan Rangga pergi…

“Num, makan, yuk. Laper, nih. Belum sarapan, mana semalem begadang, terus darahnya diambil pula. Nggg… Pusing…”
“Katanya nggak pusing? Hahaha.”
“Ya habisnya Mamad sama Rangga begitu, kan maluu. Lagian, emang kenapa, sih, sama anak karate? Anak karate nggak boleh pusing? Apa-apa bawa anak karate. Kesel.”
“HAHAHAHA. Ya udah, ayok makan.”

***

Yaa jadi begitulah cerita di awal bulan Juniku~ Sekian cerita tentang darah-darahannya. Rima emang sok kuat, padahal mah… emang kuat. Huahaha. :p

Aku juga mau klarifikasi, kalau aku itu nggak takut sama jarum. Aku cuma gugup aja. Mungkin karena ini yang pertama kalinya buat aku.

Dan di balik itu semua, aku benar-benar senang. Senang bisa berbagi. Sekarang aku malah ketagihan pengin donor darah lagi. Tapi, donor darah nggak bisa terus-terusan, ada jangka waktunya. Minimal 2 setengah - 3 bulan setelah mendonor. Kata orang PMI-nya, dalam 1 tahun diperbolehkan mendonor maksimal 5 kali. FYI aja, sih. Donor darah itu enak tau, banyak manfaatnya, nih:
1. Bisa bantu menurunkan berat badan
2. Membakar kalori
3. Memperbaharui sel darah baru
4. Meningkatkan sel darah merah
5. Mengetahui tipe darah
6. Dan masih banyak lagi. Searching aja di gugel.

Jadi, kamu-kamu yang belum pernah donor darah, mending coba, deh. Nggak usah takut-takut. Sok-sokan berani aja kayak aku. Padahal emang berani. Hahahak~

Kamu punya pengalaman donor darah, nggak? Cerita di kolom komentar, yuk.
Kalau kamu belum pernah, ya udah, ngerusuh juga boleh.
Kalau kamu punya perasaan terpendam sama aku, utarakan perasaan juga boleh.
Silahkan~ Anggap saja kolom komentar ini rumah kamu sendiri~

Terima kasih. \o/

You Might Also Like

36 komentar:

  1. Ini yang salah darah, orang PMI sendiri, atau kak Rima? Bhahaha.

    Btw, kalo donor darah buat nurunin berat badan, ini badan udah kurus kakak -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salahkan cowok. Karena cowok selalu salah. Hahaha. :p

      Hahaha. Makanya itu, asalkan berat badannya memenuhi syarat, di atas 45 , ya aman-aman aja. :))

      Hapus
  2. Hahahaha. Asyik deh bisa donor darah. Besok-besok donor kasinor indror deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haris : Kaaaaaak! -____-

      Doni : *sumpel kaos kaki*

      Hapus
  3. Ciyeee, ada yang ketagihan ngeluarin darah. Eeh, ngedonorin darah maksudnya.
    Belum pernah sih, dulu sempat mau donorin darah buat Mama yang lagi sakit dan butuh donor, tapi golongan darah kami beda. Akhirnya gak jadi deh. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, tiap bulan juga ngeluarin darah. Ciyeee~
      Lain kali coba. Seru, loh~ Apalagi kalo yang melayaninya cakep. :))

      Hapus
  4. eh tpi kan cewek tiap bulan selalu ngeluarin darah, mayan tuh kalau di donorin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang tiap bulan udah diserahkan kepada pihak yang berwajib. Gitu.

      Hapus
  5. hahaha, mau sih darah suci x))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mau-mau! Kalo buat kamu harus bayaaar.

      Hapus
  6. Hai bayi dajjal yang abis donor! Hahaha
    Gue sampe sekarang belum pernah donor. Setiap ada event donor darah selalu pas lagi sakit. KZL. oh iya, maksudnya memperbaharui sel darah baru itu apaan? jadi sel darah yang baru diperbaharui lagi?

    oh iya, salam dari Kyokushin Karate! Osu!

    BalasHapus
    Balasan
    1. HAAAI! Osu!
      Nggak apa-apa, Kak. Kalo memang niat, kelak akan dipertemukan sama moment-moment itu. Tunggu saja. Hahaha.
      Ngg... bentar. *lima abad kemudian*

      Hapus
  7. O_o Rima svrem... suka ngeplakin meja.

    Aku udah beberapa kali daftar, di kampus sering ada kegiatan donor darah, tapi apa daya, kagak lulus sensor. :| *mau nyumbang darah biar dapet pahala jariah aja berat banget*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, Kak Haw bisa aja.. Itu pujian, kan? Terima kasiih~ \o/

      Hahaha. Kagak lulus di mananye? Ya udah lain kali coba lagi. Jangan menyerah! Yeah~

      Hapus
  8. temen gue abis donor darah pas disuruh bebaring dulu, eh dia udah main berdiri terus jalan-jalan. Eh baru bentar dia jatoh pingsan haha *apasih*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha. Sok tegar itu temennya. Ditahan-tahan malah jadi begitu. Pfftt. Oleng. :'D

      Hapus
  9. Pada dasarnya, kalo lemah ya tetep lemah. Meskipun udah sok-sok ikut karatae. Hahaha.

    Ah, males banget kalo baca cerita tentang donor darah. Gue ditolak mulu setiap mau donor. :(
    Kata si Mbak, "Kalo berat badan di bawah 50, mohon maaf belum bisa."

    Sedih gue.

    Btw, mau gemukin badan biar bisa donor darah. Karena donor kasih sayang udah keseringan. Emaap.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kampreeet. Bodo. Tapi masih lemahan lu. Hah! \o/


      Padahal yang penting di atas 45, itu udah bisa donor. Ya kalo di bawah 50, itu mah saya juga gak akan bisa. Berat badan nggak mencapai segitu. :))

      Ogitu. Gudlak. :))

      Hapus
  10. Kaloo donor darah, sih keseringan temen gue yang donor, trus jajannya gue ambil . .
    Gue aja sedikit phobia darah kok, liat darah ngalir aja biasanya langsung kringet dingin . .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waparaah. Gapapa. Ambil aja. Asal jangan ambil pacarnya. Itu namanya nikung. :/
      Hahaha. Jadi pengin nakut-nakutin pake darah, deh. Hiii~ Hiii~~

      Hapus
  11. Ga berani saya mba ikutan donor darah, fobia sama jarum suntik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak apa-apa. Yang penting nggak fobia sama aku. :(

      Hapus
    2. Tenang aja mba gabakal fobia klo mba'a gak galak :D

      Hapus
  12. wah, mulia yak lo. gue jadi pingin donor darah...
    jadi lo anak lampung toh? bibi gue tinggal di jalan ikan apa gitu... di lampung.
    biasa gue ke lampung waktu libur mainnya ke.. metro.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Donor darah, gih. :D
      Iya gitu deh. Lahir dan tinggal di sana.
      Ohh. Metro mah jauh. :')

      Hapus
  13. wah enak tuh dapet jajan. bisa buat alternatif kalau lupa bawa uang saku tinggal cari tempat donor darah, trus dapet makanan sama susu. :D hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya.. Ya nggak gitu juga, sih.. -___-"

      Hapus
  14. Donor darah? ._. aku belum pernah loh mbak ._. takut Mbak wkwkwkw

    Darahku diambil cuma waktu tes darah gitu pas tes kerja dulu :D langsung lemes plong gimana gitu rasanya :D

    BalasHapus
  15. Ngebayangin jarum suntik aja gue takut. Apalagi ampe disuntik diambil darahnya. Serem. Klo gue sih lebih demen nyuntik dr pd disuntik.haha

    BalasHapus
  16. Huaaaa gue belom pernah donor

    Selalu gak sempet kalo ada event donor darah
    ckckck

    BalasHapus
  17. "Chelsea Islan yang lagi maling jemuran." Itu bagaimana ? -__-

    Kalo soal donor darah sih, aku cuma sekali dulu pas ada ajang donor darah di kantor kelurahan, Haha ternyata emang awalnya sakit pas ditusuk-tusuk jarum, tapi abis itu pusing. Ternyata punya darah rendah. Abis itu nggak boleh lagi buat donor darah :/

    BalasHapus
  18. Mau donor darah, nggak jadi terus, jadinya penasaran terus. nanti lama lama jadi darah penasaran :(
    Ngampus di Untirta, ya. Salam kenal, kampung halaman saya di Serang. Hahahaha

    BalasHapus
  19. Wakakaka ngakak bangetttt! Salam ya buat mbak penyedot darah wkwk.
    EH beneran deh aku ngakak banget baca cerita ini, makasih ya bikin malam ini jadi bahagia banget gara-gara ngakak wkwk.

    Aku.... juga berkali-kali gagal. Hmm semoga nanti ada kesempatan donor darah deh :')

    BalasHapus
  20. Gue belum pernah donor darah. Entah kapan beraninya. Hahaha. :b

    BalasHapus

Sudah selesai membaca? Terima kasih! :)
Komentar, yuk!
Sesungguhnya, sedikit komentar dari kalian akan berpengaruh besar untukku.

Rima bersabda:
"Barang siapa yang memberikan komentarnya dengan tulus dan ikhlas, maka akan dilipatgandakan jumlah viewers blognya."